Kamis, 24 Juli 2014

Hati-hati Mencintai, Sesorang Bersama dengan Orang yang Dicintainya

cinta_karena_Allah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Islam mengarahkan kepada umatnya agar mencintai sesuatu karena Allah dan membenci juga karena Allah. Sehingga ia mencintai setiap apa yang dicintai Allah. Juga membenci apa-apa yang Allah benci. Cinta dan bencinya mengikuti kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semua ini bertujuan agar mendapat ridha dan cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

Tali keimanan yang paling kokoh adalah berloyal karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Al-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 11.537 dan Dihassankan oleh Al-Syaikh Al-Albani dalam Al-Shahihah no. 1.728)

Dalam sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang lain, dari hadits Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

"Siapa yang cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah, benar-benar telah menyempurnakan imannya." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tiga hal jika ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman; apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana bencinya jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. Muslim)

Ibnu Abbas rahimahullah berkata, "siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, loyal (membela) karena Allah dan memusuhi karena Allah, telah mendapatkan wilayah (perwalian) dari Allah dengan itu. Dan seseorang tak akan mendapatkan manisnya iman sehingga bersikap seperti itu walaupun shalat dan puasanya banyak."

Dalam mencari kawan karib dan teman dekat, haruslah juga didasarkan di atas prinsip ini. Karena siapa yang dijadikan kawan karib dan teman dekat pasti mendapat kecintaan sesuai kadarnya. Terlebih seorang kawab karib –biasanya- akan memberikan pengaruh kepada teman dekatnya. Karenanya, Islam memberikan arahan agar tidak sembarangan memilih kawan karib dan teman dekat.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "seseorang bersama siapa yang dicintainya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ

"Seseorang berada di atas agama kekasihnya." (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih)

Imam Thabrani meriwayatkan satu hadits dari Ali Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali ia akan dibangkitkan bersama mereka.” (Al-Mundziri berkata: isnadnya bagus. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib: 3/96)

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: ada seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang hari kiamat. Ia berkata, “Kapankah kiamat itu?” beliau menjawab, “Apa yang sudah engkau siapakan untuknya?” ia menjawab, “Tidak ada, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”

Anas bin Malik berkata: "Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”

Kemudian Anas melanjutkan: “Sungguh saya mencintai Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi pecinta sejati yang akan mendapatkan kemuliaan ini adalah mereka yang menempuh jalan orang yang dicintainya, mengikuti langkah-langkahnya, berada di atas manhajnya, dan mengambil petunjuknya. Ingat, Yahudi dan Nasrani mengaku mencintai para nabi mereka tetapi tidak mendapatkan nikmat menemani mereka di akhirat dikarenakan mereka menyalahi petunjuk para nabinya.

Kita lihat Abu Thalib sangat mencintai keponakannya namun tidak bisa membersamainya di akhirat karena ia tidak mengikuti Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam keimanan dan petunjuk. Siapa yang ingin bersama orang yang dicintainya ia harus menempuh jalan orang tersebut. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/03/23/29598/hatihati-mencintai-sesorang-bersama-dengan-orang-yang-dicintainya/#sthash.kN2nEndN.dpuf

Suka Mencaci dan Melaknat; 2 Sifat Buruk Tak Layak Disandang Muslim

laknat_

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.

Dua sifat buruk dan dua akhlak tercela yang tak pantas disandang seorang muslim. Keduanya bukan sifat seorang mukmin dan bukan akhlaknya. Yaitu, suka mencaci dan melaknat.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَيْسَ المؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ

Seorang mukmin bukanlah orang yang sukamencela, melaknat, berperangai buruk, dan mengucapkan ucapan yang kotor.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi)

Al-Tha’an adalah orang yang merusak nama baik orang dengan ghibah, adu domba, mencela, menghinda dan semisalnya.

Sedangkan la’aan adalah orang yang sering melaknat manusia supaya mereka dijauhkan dari rahmat Allah. Prakteknya, bisa dengan kalimat laknat yang gamblang, seperti orang mal’un (terlaknat), la’natullah ‘alaik (laknat Allah atas dirimu), dan semisalnya.

Bisa juga dengan kalimat-kalimat yang menjurus ke sana, seperti mendoakan dengan kemurkaan Allah, dimasukkan ke neraka, atau supaya dihinakan di dunia dan akhirat, dan semisalnya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا تَلَاعَنُوا بِلَعْنَةِ اللَّهِ، وَلَا بِغَضَبِ اللَّهِ، وَلَا بِالنَّارِ

Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah, dengan kemurkaan-Nya, dan jangan pula dengan siksa neraka.” (HR. Ahmad, Al-Tirmidzi, dan Abu Dawud, dari hadits Smaurah bin Jundab Radhiyallahu 'Anhu)

mukmin_bukanpelaknat

Dasar Mu’amalah dengan Manusia

Dalam urusan pergaulan dan mu’amalah dengan manusia, Islam membangunnya di atas nasihat dan rahmah. Adapun orang yang sering mencela keburukan manusia bukan melaksanakan nasihat. Sedangkan yang sering melaknat mereka maka ia tidak bersifat rahmat (mengasihi) mereka. Karenanya, orang yang memiliki dua sifat buruk ini pasti tak akan menjadi pemberi syafaat dan menjadi saksi kebaikan untuk mereka pada hari kiamat kelak.

Dari Abu Ad-Darda` Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada’ (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa’at pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Kenapa bisa demikian? Karena saat di dunia, manusia tidak selamat dari laknat dan cacian mereka sehingga pada hari kiamat mereka tidak layak memberi kesaksian atas kebaikan mereka atau menjadi pemberi syafaat untuk mereka di sisi Allah. Padahal ini adalah kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Sedangkan pencaci dan pelaknat tidak akan mendudukinya.

Teladan nyata diberikan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam saat menyebutkan umatnya yang durhaka. Beliau tidak mendoakan keburukan atas mereka, “Ya Allah, hancurkan mereka, hinakan mereka, laknatlah mereka.” Bahkan sebaliknya, beliau mendoakan agar Allah mengampuni dan merahmati mereka.

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim: 36) inilah keteladanan yang luar biasa dari Abul Anbiya’ (bapak para nabi) Khalilullah Ibrahim ‘alaihis salam.

Teladan dari sahabat, terdapat dalam Adab al-Mufrad milik Imam al-Bukhari, dari Salim bin Abdillah bin Umar Radhiyallahu 'Anhum, ia berkata: Aku tidak pernah mendengar Ibnu Umar melaknat satu orang pun. Kemudian Salim berkata: Ibnu Umar berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Orang mukmin tidak layak menjadi pelaknat.”

Setelah mendengar hadits tersebut, Ibnu Umar tidak pernah melaknat seseorang, kecuali satu kali. Saat itu ia dibuat jengkel oleh budaknya sehingga ia marah dan akan melaknatnya. Belum sempurna kalimat laknat (belum sampai huruf nun), ia berkata: aku tidak suka mengucapkan kalimat ini. Lalu ia bebaskan budaknya itu.

Imam Qatadah Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hamba Allah yang terburuk adalah orang-orang yang pencaci dan pelaknat.” (Dinukil dari tafsir Ibnu Jarir al-Thabari)

Hendaknya kita bertakwa kepada Allah dan bertekad menjaga lisan kita serta menjauhi dua sifat buruk ini, yaitu suka mencaci dan melaknat. Kita kedepankan sikap lemah lembut dan sayang kepada saudara seiman. Jika salah, kita luruskan dengan nasihat yang lembut, kita mohonkan ampun dan doakan agar mendapat petunjuk. Tidak kita umar aib dan keburukannya, mencela kehormatannya, atau mendoakan kehancuran dan kehinaan atasnya. Sesungguhnya sikap demikian ini akan mengundang ampunan Allah dan rahmat-Nya. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Siksa atas Pezina di Alam Kuburnya

siksa-zina

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.

Zina nerupakan perbuatan dosa terburuk. Salah satu dosa besar yang paling besar. Dosa hina yang membuat Allah sangat murka. Terlebih kalau yang melakukannya sudah pernah menikah dan merasakan madu perkawinan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyediakan ancaman berat atas perbuatan zina. Allah menggandengkannya dengan ancaman atas perbuatan syirik dan pembunuhan. Ini menunjukkan status dosanya yang sangat berat dan termasuk bagian dari dosa besar yang paling besar.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)

Sejumlah mufassirin menyebutkan makna atsam. Yaitu lembah di jahannam. Ikrimah mengatakan, “Mendapatkan atsam: lembah-lembah di jahannam di mana para pezina disiksa di dalamnya.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir ayat di atas].

Di mana siksa atas mereka diipatgandakan dan mereka kekal di dalamnya dalam kondisi dihinakan sejadi-jadinya. Ini siksa di akhirat pasca dibangkitkan manusia. Adapun sebelum itu, di alam kuburnya, Allah sediakan siksa atas pezina yang juga mengerikan dan menghinakan. Yaitu para pezina laki-laki dan perempuan dipanggang di atas tungku yang bawahnya luas sementara atasnya sempit. Saat api menyalak ke atas, maka mereka terangkat sambil berteriak dan menjerit sekeras-kerasnya. Namun saat itu api mengecil dan mereka kembali di atas tungku. Siksa itu berulang sampai kiamat tiba. Mereka tak bisa keluar darinya. Sebuah kesengsaraan akibat kenikmatan haram sesaat.

Keterangan siksa di atas tercantum dalam hadits yang sangat panjang di Shahih al-Bukhari. Berasal dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: “Pada suatu pagi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bercerita kepada kami:

إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقْ وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا. . . فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ قَالَ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ قَالَ فَاطَّلَعْنَا فِيهِ فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا

Tadi malam aku didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku: berjalanlah. Kemudian aku pergi berjalan bersama keduanya. . . lalu kami mendatangi bangunan menyerupai tungku api. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan di dalamnya. Lalu kami melongok ke dalamnya. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa laki-laki dan perempuan telanjang. Kobaran api dari bawah mereka menyalak ke mereka. Saat kobaran api itu mengenai mereka, maka mereka menjerit kesakitan."

Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepada kedua orang yang pergi bersamanya tadi, “Siapa mereka itu?” kemudian dijawab di ujung hadits,

وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ، فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي

Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di bangunan seperti tungku api adalah para laki-laki dan perempuan pezina.” (HR. Al-Bukhari)

Inilah siksa yang disediakan bagi pezina di alam kuburnya yang berlangsung hingga tiba kiamat. Sedangkan siksa berikutnya jauh lebih buruk dan mengerikan. Adakah orang yang masih berani mengap kenikmatan sesaat untuk kesengsaar yang panjang. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/03/18/29542/siksa-atas-pezina-di-alam-kuburnya/#sthash.8MfzRcFR.dpuf

Adzan lebih dari Satu Mana yang Harus Dijawab?

adzan

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Menjawab Adzan adalah sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memerintahkannya dan mengabarkan fadhilahnya yang besar, yakni menjadi sarana kuat mendapatkan syafaat dari beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam di hari kiamat kelak.

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Apabila kamu mendegar muadzin (adzan-nya), maka uzapkan seperti apa yang diucapkannya. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena barangsiapa yang shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan mendoakan (shalawat) kepadanya sepuluh kali. Kemudian memohonlah kepada Allah untuk diriku al-wasilah, yaitu satu tempat di surga yang tidak diberikan keculai kepada salah seorang hamba diantara hamba-hamba Allah. Saya berharap hamba itu adalah saya. Barangsiapa yang meminta kepada Allah untuk diriku al-wasilah, maka layak baginya mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu)

Perintah ini berlaku kepada masjid yang akan didatanginya. Maka jika sekarang ini adzan menggunakan pengeras suara, bisa jadi dalam satu waktu terdengar beberapa adzan dari masjid-masjid yang berbeda, maka yang disyariatkan untuk dijawab adalah masjid di tempat tinggalnya yang ia shalat di situ. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/ibadah/2014/06/20/31073/adzan-lebih-dari-satu-mana-yang-harus-dijawab/#sthash.cRQ8F6VO.dpuf

Memberikan Zakat Fitrah Kepada Saudara Yang Kurang Mampu?

bulog_pasarkan_beras_berlabel_ulos

Soal:

Assalamu ‘Alaikum, jika saya zakat fitrah ke saudara saya yang kurang mampu seperti kakak dari Bapak saya (Pakde), bagaimana hukumnya?

02199265581

Jawab:

Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para shahabatnya. Wa’alaikumus Salam, saudara penanya.

Zakat fitrah atau zakat maal boleh diberikan kepada kerabat yang fakir. Bahkan memberikan zakat kepada kerabat yang seperti itu lebih utama daripada ke orang jauh. Karena memberikan zakat ke kerabat bernilai sedekah dan silaturahim. Ini dengan syarat bukan dalam rangka menyelamatkan harta supaya tidak lari keluar dan kerabat tersebut bukan termasuk orang yang menjadi tanggungan dirinya dalam urusan nafkah. Jika ia menjadi tanggungannya maka tidak boleh diberikan kepadanya seperti kakek, keponakan, paman, dan lainnya yang menjadi tanggungannya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

صدقتك على ذي رحمك صدقة وصلة

“Sedekah mu kepada kerabatmu adalah sedekah sekaligus penyambung silaturahim.’” (HR. Ahmad, al-Tirmidi, al-Nasai, Ibnu Majah, dan lainnya)

Hadits di atas dikuatkan dengan jawaban Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam atas pertanyaan Zainab, istri Abdullah bi Mas’ud tentang sedekah yang ia berikan kepada suaminya yang miskin, “Ya, ia memiliki dua pahala: pahala menjaga hubungan kekerabatan dan pahala sedekah.” (Muttafaq ‘Alaih)

Maka Zakat fitrah Anda kepada Pakde Anda itu dibolehkan, jika beliau termasuk orang miskin dan bukan menjadi taggungan Anda dalam urusan nafkahnya. Wallahu a’lam. [Badrul Tamam/voa-islam]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2014/07/23/31771/memberikan-zakat-fitrah-kepada-saudara-ayah-pakde/#sthash.5uuXTGQQ.dpuf