Jumat, 29 November 2013

Mantan Misionaris: Kalo Yesus Tuhan, Kok Tidak Disembah Para Nabi?

mionaris

Perkenalkan, saya Dra. Dewi Purnamawati, lahir di Solo tahun 1962. Tahun 1971 saya ikut ayah yang anggota AURI pindah tugas ke Pulau Lombok.
Sekolah di Lombok NTB, di SD Katolik St. Antonius Ampenan, SMP Katolik Kesuma Cakranegara dan di STM Negeri Mataram, lulus tahun 1981. Kuliah di IKIP Yogya lulus Tahun 1985. Tahun 1986 saya kembali ke Solo dan mengajar listrik disalah satu STM.
Pengaruh kekristenan Ibu yang seorang aktifis Gereja yang sangat kuat. Tahun 1971 Ayah yang Islam, di kristenkan oleh ibu bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan (misi menyebarkan ajaran Kristen) yang militan dan handal.

Ayah punya talenta mampu berinteraksi dan mengusir roh kegelapan. Padahal kemampuan metafisik / paranormal yang umumnya dianggap anugrah Tuhan itu, sebenarnya dari Setan.

Saya dan 2 adik saya di didik dengan taat dalam kehidupan Kristen yang fanatik. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin Kristen. Memiliki sikap merendahkan dan apriori terhadap Islam. Harus mampu mencitrakan bahwa Kristen adalah KASIH.

Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Pulau Lombok yang mayoritas beragama Islam. Kami semua aktifis gereja, aktif memurtadkan muslimin.
Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki. Sejak kira-kira Tahun 1997 ia menjadi Pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung. Penduduk desa diajari mengelola tanaman hidrophonik sampai memasarkannya.

Melalui rehabilitasi kecanduan narkoba, remaja-remaja muslim diterapi kecanduannya. Lewat Biro Konsultasi, orang-orang bermasalah dicarikan solusi. Tetapi semua tadi hanya kedok dan sarana untuk memurtadkan muslim, menerima Yesus sebagai tuhan.

Adik saya perempuan, aktifis penginjilan di Madura. Kadang kalau malam minggu dia mengamati kiai yang menyeberang ke Surabaya. Ada yang pakaian kiainya ditanggalkan, ganti pakai celana jeans dan T. Shirt. Lalu asyik dalam dunia hiburan. Ini celah memurtadkan kiai ! Apalagi kalau jembatan Suramadu sudah jadi.

Saya sendiri sejak kecil sudah mampu memurtadkan teman-teman Islam saya. Mereka saya ajak Sekolah Minggu. Iming-imingnya roti, sepatu, tas, buku dsb. Akhirnya mereka dibaptis bersama-sama dengan saya. Herannya para orang tua mereka tidak risau sama sekali, menganggap tidak ada masalah. Mereka tidak paham kalau anak-anaknya tergiring ke neraka.
Menikah tahun 1986 dengan aktifis HMI sekaligus pengurus pengajian yang berhasil saya kristenkan. Kami punya anak tahun 1987.
Meskipun Kristen mengajarkan “Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia.” tetapi Pendeta mengijinkan kami bercerai pada tahun 1992. Pendeta tidak punya solusi mengatasi keruwetan rumah tangga kami. Sejak itu banyak kasus gugatan perceraian keluarga kristen akhirnya diijinkan oleh pendeta. Daripada memaksakan utuhnya rumah tangga tetapi suasananya seperti dalam neraka.
Sejak itu anak saya diasuh orangtua saya di Lombok. Ia dididik menjadi seorang kristen yang militant dan misionaris. Memanfaatkan talenta dan pesonanya dia berhasil memurtadkan beberapa teman Islamnya.

Lewat bermusik, ia tak segan menyanyikan lagu-lagu religi Islami tetapi saat natal, gantian teman-teman muslimnya ia ajak ikut main musik di gereja sambil mempromosikan kehidupan gereja yang lebih enjoy sesuai nafsu dan selera anak muda. Pelan tapi pasti merekapun murtad masuk Kristen.

Kuliahnya di Universitas Kristen di Jogya jurusan Pastoral Konseling, kalau lulus jadi Pendeta! Juli 2007 saat kami dakwah ke Lombok, anak saya baru saja membagi-bagikan jilbab milik pacar-pacar muslimahnya yang berhasil ia kristenkan.
Sebenarnya sejak kecil saya sudah meragukan ajaran Kristen.

Saya sering berpikir, kenapa banyak sekali kejanggalan, hal tak nalar dan kisah-kisah amoral (BACA : SEX IN THE BIBLE). Setiap kali bertanya guru agama, frater, pendeta, pastur bahkan pakar theologia-pun jawabnya Ya & Amin, tidak boleh tanya. Atau muter-muter mengalihkan perhatian.

Dihukum guru & orang tua karena nekad bertanya adalah biasa! Geli juga kalau ditengking (seperti diruqyah) pendeta karena dianggap kemasukan roh kegelapan.
Namun meski ragu, saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan kegiatan gereja walau kegalauan kian membengkak menyiksa nurani. Pindah ke Islam ? wow…sorry ! Secuilpun tak ada minat. Sama sekali !… kalau benci.., memandang rendah… Ya ! Kamipun sering melecehkan Islam.

Opini & persepsi negatif tentang Islam terlanjur mencengkeram erat di dalam benak kami. Bahwa Islam itu agamanya orang bodoh, melarat, pemalas, biang kerok segala kerusuhan dan kekerasan. Kebetulan kondisi umat Islam yang kami lihat di Lombok mendukung image negatif tersebut.

Namun yang namanya hidayah Allah, tidak seorangpun mampu menolaknya. “Jika Buku Pedoman sudah benar, baik dan sempurna maka tidak perlu direvisi”. Jika memang Bible/Alkitab/Injil sudah tuntas sempurna, kenapa Tuhan masih perlu menurunkan Al Qur’an ? Fakta itu mengusik logika saya. Menggoyahkan iman kristen saya.

Dra. Dewi Purnamawaty (Mantan Misionaris Kristen) : "Kalau Yesus Memang Tuhan Kenapa Para Nabi (Adam, Nuh, Ishak, dll) Tidak Menyembah Yesus ???"
Video : http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=0-J8XThMOXc
http://duniamuallaf.blogspot.co.uk/2013/11/sex-in-bible-waspadalah-injil-adalah.html#more

Benarkah Bible/Alkitab itu kitab suci ? wahyu Tuhan ?
Kenapa nabi Nuh dikisahkan mabuk anggur lalu telanjang ?
Nabi Luth diminumi anggur lalu di tiduri 2 putrinya bergantian dua malam berturut-turut ?

Kenapa mengumbar kisah super porno super cabul sangat vulgar ? Persundalan, zina kakak dengan adik, ibu dengan anak,bapak dengan putrinya, mertua dengan menantunya, lesbian (sex sesama perempuan), onani pun ada.
Iman atau syahwat kita kah yang menggelegak setelah membaca petualangan sex super dahsyat dari kakak beradik Ohola Oholiba di kitab suci Yehezkiel ?
(BACA : SEX IN THE BIBLE).
Alkitab melarang minum anggur dan mabuk, kenapa Yesus justru mengubah 6 drum air jadi minuman anggur untuk dihidangkan di pesta nikah ?
Kenapa minuman haram ini dijadikan lambang darah Yesus yang kudus dalam perjamuan kudus di gereja ? Pernah ketika perjamuan kudus satu piala anggur yg mestinya diminum bergiliran, dihabiskan seorang diri dan langsung mabuk. Berarti darah Yesus memabukkan ya ?
Kenapa Allah kalah bergelut dengan manusia ?

http://islamterbuktibenar.net/?pg=articles&article=16296Kenapa

Tuhan menyesal dan keliru membuat kebijakan ?
Kenapa Allah dimuliakan dengan dusta ?
Kenapa laba dan upah sundal kudus bagi Tuhan ?
Kenapa Tuhan berhenti bekerja & perlu istirahat ? Apakah Tuhan kelelahan ?
Kenapa manusia bisa melahirkan Tuhan ?
Di saat Yesus ada di dunia, Allah ada di Surga. Ada Yesus duduk disebelah kanan Allah. Jelas kan Yesus dan Allah itu 2 oknum berlainan & terpisah ?
Kenapa dipaksakan bahwa Yesus itu Allah ? Yesus makan minum & tentunya buang hajat yang pasti najis ? Layakkah kalau Tuhan Maha Suci mengandung najis ? (BACA ; THE DARK BIBLE)
Yesus mengaku di utus, Allahlah yang mengutus.
Yesus mengakui tidak dapat berbuat apa-apa dari dirinya sendiri, sedangkan Allah Maha Kuasa. Yesus hanya melaksanakan kehendak Bapa, tetapi Allah Maha Berkehendak.
Yesus pun berdoa dan Allahlah Yang Mengabulkan Doa.
Yesus menolak dikatakan baik, Allahlah Yang Maha Baik.
Yesus menyerahkan nyawa kepada Allah. Bukankan level / derajat Yesus jauh dibawah Allah?
Kenapa Yesus disamakan dengan Allah ? Mungkinkah Utusan = Pengutus ? Lemah = Maha_Kuasa ? Pelaksana = Pengaturnya ? Pemohon = Pemberi ? Menyerahkan = Menerima ?
Kalau Yesus memang Tuhan kenapa Nabi-nabi & orang saleh Adam, Nuh, Ibrahim, Ishak, Ismail, Daud, Salomo, Musa, Zakaria, Maria, tidak ada ceritanya menyembah Yesus ?
Kalau Yesus = Tuhan = Allah dan Yesus mati disalib lalu dimana sifat Maha Hidup, Kekal, Tidak Berawal Tidak Berakhir dan Maha Kuasa-Nya ? Siapa yang kuasa mematikan Tuhan ?
Lalu saat Tuhan mati yang mengatur alam semesta ini siapa ? Yang menjawab doa siapa ? Yang menggantikan / mengambil peran Tuhan siapa ? Ataukan ada Tuhan lain yang mengendalikan alam semesta seisinya ?
Kenapa Tuhan punya silsilah bahkan ada 2 versi yang sangat berbeda (versi Matius dan Lukas) ? Berarti Tuhan punya bapak, kakek, buyut, nenek moyang ? Kenapa dalam daftar silsilah Tuhan Yesus ada Yehuda yang bersundal dengan Tamar menantunya ?

Lalu menurunkan Daud yang mengintip dan menzinahi Betsyeba istri Uria prajuritnya bahkan merancang terbunuhnya Uria ? Daud dan Betsyeba menurunkan Salomo yang beristri 700 bergundik 300. Salomo lebih mencintai istri-istrinya daripada Tuhan. Salomo juga menyembah berhala. Apakah Logis Tuhan Maha Suci, Maha Mulia adalah keturunan orang-orang pezina, amoral dan musyrik ? Ajaibnya lagi, tuhan Yesus itu keturunan Salomo sekaligus keturunan Natan kakak kandung Salomo. Nalar nggak ? Apakah iman itu harus memperkosa akal ? (BACA : SEX IN THE BIBLE)
TAUHID adalah menyembah hanya kepada Allah Yang Esa. Yesus dan para Nabi mengajarkan Tauhid. Ayat-ayat Tauhid bertebaran didalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Tetapi Paulus mengajarkan penuhanan Yesus, menyembah Trinitas. Yesus mempertahankan Taurat tetapi Paulus mencampakkan Taurat. Kenapa lebih mengikuti Paulus daripada Yesus yang mereka pertuhankan ? Berarti lebih tuhan Paulus daripada Yesus ?

Seabreg kenapa, seabreg kemusykilan, seabreg kontradiksi, seabreg amoralitas didalam Bible semakin membuatku bimbang. Saya jadi malas dan enggan ke gereja, enggan membuka Bible apalagi sudah direvisi Al Qur’an.

Malam natal 24 Desember 1998, saya memaksakan diri mencoba untuk kembali mengikuti kebaktian, bukan kedamaian yang saya peroleh tapi galau itu semakin memuncak. Sejuta tanya tetap tak terjawab menggelorakan pemberontakan dalam hati. AGAMA, TUHAN, KITAB SUCI adalah masalah KEBENARAN BUKAN PEMBENARAN, maka harus tepat memilihnya karena berujung surga atau neraka !
Di saat Alkitab dan Gereja tidak mampu menjawab segala tanya sehingga semakin jauh dari hati, peristiwa mengerikan nyaris merenggut nyawa saya. Melaju kencang menuju Madiun, ban mobil saya tiba-tiba kempes tertancap potongan plat besi yang terlindas. Mobil jadi zig zag tak karuan. Seketika wajah jadi pucat pasi, jantungpun berdetak kencang. Ketakutan akan kematian spontan menghantui saya. Ngeri sekali ! akan kemanakah jiwaku jika aku mati ? Kristen sudah kutinggalkan dan belum menemukan agama yang benar. Untung Tuhan masih menyelamatkan. Saya berhasil mengendalikan mobil dan menepi. Berhenti di pinggir persawahan sangat luas, jauh dari mana-mana. Tiba-tiba kudengar suara Adzan magrib… Bergetar hati… inikah jawaban ? Saya harus segera memutuskan !

Ketika teman meminjami buku Akhlak Islam, Masya Allah saya begitu ta’jub.

Hal-hal yang nampaknya sepele pun oleh Islam diperhatikan, diatur dan ada petunjuknya didalam Al Qur’an maupun Hadist. Misal, sehabis hubungan suami istri wajib mandi besar, wanita haid tidak diperkenankan sholat , masuk masjid dan membaca Al Qur’an suci, istri pergi harus seijin dan diridhoi suaminya, yang jalan memberi salam yang duduk dsb. Tentulah hal-hal besar dan penting lebih diperhatikan lagi ! Islam betul-betul tuntunan dan pedoman hidup dari Tuhan. Sangat kontras dengan Kristen, dimana hal-hal besar dan wahyukan Allah alias rekayasa ajaran manusia semata.
Setelah bertahun-tahun saya mengalami pergulatan batin, melakukan perenungan serta memohon petunjuk kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka Februari 1999, Allah melapangkan dada saya untuk memeluk Islam, Agama Kebenaran, Agama Tauhid dari Allah, Agama yang dianut dan diajarkan oleh semua Nabi dan Rasul. Syariat Islam berkembang dari Rasul demi Rasul menuju syariat Rasul Muhammad saw yang telah tuntas, sempurna dan diridloi Allah.
Beberapa ujian setelah saya Islam antara lain :
1) Keluarga teman dan tetangga yang Kristen mengucilkan saya sementara orang-orang Islam masih mencurigai keislaman saya.
2) 14 Agustus 2001 Dokter memvonis umur saya tinggal 2 tahun karena sakit parah.
Saya sempat terperosok kedalam kesesatan. Sholat di masjid-masjid kuno, akrab dengan kuburan-kuburan keramat/wali minta berkah, makan roti dirajah tulisan arab, amalan ini itu, pakai ini itu agar terkabul hajat.

Semua saya lakukan atas petunjuk Kyai, yang katanya kebal senjata, dapat memukul lawan dari jarak jauh. Terkuaklah dusta Kyai. Ketika saya menghadapi masalah dikepung orang orang yang akan mencelakai saya. Sang kyai tidak mampu berbuat apa-apa selain komat-kamit didalam rumah tidak berani keluar.

Ketika mengalami kecelakaan, sang Kyai cidera berat dan anaknya meninggal. Dimana keampuhannya ? Dzikir tahlil wiridan semalam suntuk lebih diutamakan daripada kewajiban sholat subuh tepat waktu berjamaah di masjid. Jadwal sholat subuhpun bergeser jam 10 pagi karena bangunnya selalu siang.
3) Usaha bangkrut ditipu Kyai yg berlagak membimbing saya. Mungkin Allah menegur saya karena mengabaikanNya, lebih taat dan bergantung pada Kyai.
4) Suami saya kedua, satu-satunya manajer yang kokoh beragama Islam di suatu perusahaan otomotive besar, diperlakukan sangat diskriminatif dan tidak menyenangkan oleh pimpinannya yang baru saja diangkat sebagai pendeta. Oleh teman-temannya yang aktifis gereja, dikondisikan agar tidak kerasan dan akhirnya memilih mengundurkan diri.
5) 18 Agustus 2003 ketika keislaman saya mulai bersemi suami saya kedua yang mengenalkan Islam dan membimbing saya, tanpa sakit dipanggil Allah SWT. Padahal ketika itu justru sayalah yang sedang sakit keras dan pedihnya lagi uang didompetpun tinggal Rp. 10.000,-
6) Seminggu kematian suami, Ibu datang dari Lombok menekan saya untuk kembali Kristen. Ketika saya nekad Islam maka semua biaya hidup saya sejak kecil hingga dewasa harus saya kembalikan. Untung saya punya Allah tempat bergantung dan Maha Kaya. Dibantu Ustad dan beberapa rekan saya mampu mengembalikan apa yang diminta Ibu.
7) Karena menjanda lagi dan sendiri, saya bermaksud mengambil anak saya yang dipelihara ibu saya di Lombok untuk saya didik dan menemani saya di Solo. Tetapi tidak diperkenankan Ibu kecuali kalau saya kembali Kristen. Padahal untuk mendapatkan anak yg semata wayang itu, ibaratnya, saya harus mempertaruhkan nyawa hampir keguguran sampai 3X. Sayapun susah payah mengandungnya.
8) Malam 27 Ramadhan Tahun 2004 anak saya dari Lombok menelpon memberikan pilihan : ‘Pilih Anak atau Agama’, kalau pilih anak harus kembali ke Kristen. Karena saya telah bersyahadat, berikrar setia kepada Allah, maka tegas tanpa ragu tidak perlu berpikir panjang saya pilih agama.
Allah lebih pantas dicintai, lebih pantas dinomor satukan, lebih kokoh dijadikan tempat bergantung daripada apapun juga termasuk anak dan seluruh keluarga. Sejak itu pula saya resmi di PHK seluruh keluarga.

Oleh nenek saya dari pihak ibu, saya di PHK sebagai cucu, Pakde Bude memPHK saya jadi keponakannnya, Bapak-Ibu memPHK saya sebagai anak, adik-adik yang sejak kecil saya turut mengasuh, membiayai pendidikan dan pernikahan mereka, telah memPHK saya sebagai kakak.
Aktif Berdakwah

Kalaupun dalam mempertahankan Islam, kehilangan harta, anak dan keluarga masih belum cukup, masih pula harus kehilangan hidup dan nyawa saya satu-satunya, asal tidak kehilangan ridho dan rahmat_Mu Ya Allah, hamba siap ! Semoga Allah mengokohkan iman hamba.
Prihatin dengan maraknya pemurtadan dan kristenisasi, padahal saya telah paham dan meyakini betul benarnya Islam dan sesatnya Kristen, maka saat ini saya bergabung dengan Forum Arimatea Solo menyampaikan mana agama yang Haq mana agama yang Batil. Turut berdakwah membentengi umat dari bahaya pemurtadan & kristenisasi.
Saya pun jadi biasa menerima ancaman. Pernah dilaporkan di kelurahan dianggap membuat keresahan, akan dilaporkan polisi, akan dibunuh, akan digantung maupun akan dirobek-robek muka saya.

Tetapi saya tidak gentar dan Insya Allah tidak akan mundur sejengkalpun. Karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji menjanjikan lewat Qur’an surat Muhammad ayat 7 : “BARANGSIAPA MENOLONG AGAMA ALLAH MAKA ALLAH AKAN MENOLONGNYA DAN MENGUKUHKAN KEDUDUKANNYA.” Dan siapapun tak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki itu terjadi.

Gelombang ujian yang bertubi-tubi janganlah menyurutkan iman. Allah tidaklah zalim membuat hambaNya menderita. Allah mencintai hambaNya, menatar dan menggembleng hambaNya agar layak menempati kedudukan yang lebih mulia disisiNya.

Sungguh mengagumkan orang mukmin itu, diuji penderitaan ia bersabar. Itu baik baginya. Diuji nikmat ia bersyukur dan itupun baik baginya.
Inilah sekelumit kisah kegalauan saya terhadap Kristen yg saya anut selama 30an tahun dan perjuangan saya dalam mempertahankan hidayah Dienul Islam. Agama mulia yang mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah.

Satu-satunya jalan lurus menuju rahmat Allah, keselamatan, kebahagiaan dan kenikmatan hakiki dan abadi … Surga Allah ! [dbs/duniamualaf/ali/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/christology/2013/11/24/27760/mantan-misionaris-kalo-yesus-tuhan-kok-tidak-disembah-para-nabi/#sthash.aj0eTpf0.dpuf

Rabu, 27 November 2013

Subhanallah, Benar Kata Quran: Ada Kobaran Api di Dasar Laut

gambar_gunung_di_bawah_laut-490x326

“Ada laut yang di dalam tanahnya ada api” (Qs. Ath-Thur 6). Nabi SAW bersabda: “Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.”

BANGSA Arab, pada waktu diturunkannya Al-Qur’an tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna “sajara” sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yang bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?

Persepsi demikian mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT: “Dan apabila lautan dipanaskan” (QS. At-Takwir 6).

Ulasan Hadits Nabi

Hadits yang Nabi sebutkan sangat sesuai dengan sumpah Allah SWT yang dilansir oleh Al-Qur’an pada permulaan Surah Ath-di mana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yang tidak membutuhkan sumpah apapun demi lautan yang di dalam tanahnya ada api “al-bahrul masjur.”)” “Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma’mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya.” (Qs. Ath-Thur: 1-8)

Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).

Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja “sajara” selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata “sajara,” yaitu “mala’a” dan “kaffa” (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.

Namun, hadits Rasulullah SAW yang sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.

Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai ‘gunung-gunung tengah samudera’.

Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan. sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.

Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan “fenomena perluasan dasar laut dan samudera.” Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.

Meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera….

Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.

Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.

Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.

Terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi…

Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.

Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda: “Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.”

Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir.

Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan” (QS. An-Najm 3-10)

Tidak seorang pun di muka bumi ini yang mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran fakta ini dalam hadis Rasulullah SAW benar-benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang menegaskan kenabian Muhammad SAW dan kesempurnaan kerasulannya. [Keajaiban al-Quran]

Batasan Anak Yatim Disebut Yatim

anak_yatimmm

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Bulan Muharram sangat akrab dengan pembahasan yatim. Pasalnya, banyak orang menganggapnya sebagai bulan memuliakan anak yatim. Kita lihat, pada bulan Muharram ini, di beberapa tempat diadakan santunan anak yatim. Panti-panti asuhan banyak kebanjiran kunjungan donatur dan santunan-santunan.

Dari Muharram, ada satu harinya yang dianggap sebagai hari raya anak yatim, yakni hari ‘Asyura. Terdapat riwayat yang menjelaskan tentang keutamannya yang fantastis, menerangkan keutamaan mengusap kepala anak yatim pada hari 'Asyura:

وَمَنْ مَسَحَ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رُفِعَتْ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ عَلَى رَأْسِهِ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ

Dan siapa yang mengusap kepada anak yatim pada hari ‘Asyura maka dengan setiap rambutnya diangkat baginya satu derajat di surga.” Namun sayang riwayat-riwayat tersebut berstatus Maudhu’ (palsu). Sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan sandaran beramal mengusap kepala dan mengasihi anak yatim pada hari tersebut dengan keutamaan yang luar biasa tadi. [Baca: Hadits Palsu Keutamaan Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari 'Asyura]

Ada beberapa riwayat lain yang shahih menjelaskan keutamaan mengasuh dan mengasihi anak yatim tanpa diikat dengan waktu dan tempat tertentu. Yaitu ia akan mendapatkan tempat istimewa di akhirat, sangat dengat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. “Saya dan orang yang merawat anak yatim di surga kelak seperti ini,” seraya beliau mengisyaratkan jari tengah dan telunjuknya lalu merenggangkan keduanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih) [Baca: 8 Amalan Agar Dapat Menemani Rasulullah di Surga]

Mengasihi anak yatim, menyantuni mereka, dan memberikan kebutuhan-kebutuhan mereka juga termasuk amal kebaikan yang baik untuk dikerjakan pada bulan Muharram ini sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya. Namun ini dikerjakan secara umum, tanpa menghususkan keutamaannya secara fantastis dan hiperbolis.

Batasan Usia Yatim

Yatim adalah sebutan untuk anak yang ditinggal mati oleh ayahnya saat ia dikandungan sampai ia lahir dan hingga ia baligh. Lalu Lajnah Daimah (Fatawa no. 225) menjelaskan tanda balighnya sehingga tidak lagi disebut yatim: mengalami mimpi basah, sudah tumbuh bulu-bulu halus disekitar kemaluan (baik laki / wanita) atau ia sudah berusia 15 tahun.

Sedangkan yang ditinggal mati ibunya disebut al-'Ajiy. Yang ditinggal mati kedua orang tuanya (ayah & ibunya) disebut Lathim.

Yatim yang dianjurkan tetap dikasihi dan dibantu serta dipenuhi kebutuhannya -agar mendapat keutamaan khusus di atas- tidak pandang ia miskin atau kaya. Yang penting tidak punya ayah dan usianya belum baligh.

Bukan berarti saat sudah baligh lalu tidak usah dibantu. Apalagi jika si anak tersebut dalam kondisi fakir yang membutuhkan uluran tangan para muhsinin (orang yang suka berbuat baik/membantu/donatur). Seperti untuk kebutuhan nafkah, tempat tinggal, belajar dan kesehatan. Maka yang paling utama, bagi orang yang sudah mengurusi anak yatim lalu usianya sudah baligh –keluar dari sifat yatim- ia tetap memberinya nafkah sehingga ia menyelesaikan studinya & bisa mandiri memenuhi kebutuhannya. Wallahu A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Merasa Butuh Kepada Allah Hantar Kesempurnaan Hamba

butuh_Allah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Butuh kepada Allah Ta’ala adalah kondisi & sifat melekat pada diri semua hamba. Jika perasaan ini kuat dalam dirinya maka akan menghantarkan kepada kesempurnaannya. Karena orang yang merasa butuh kepada Allah akan terdorong menempuh jalan yang menghantarkan kepada-Nya dan melakukan sebab yang mendatangkan kecintaan dan keridhaan-Nya.

Merasa butuh kepada Allah dan berharap terhadap karunia-Nya & kebaikan-Nya menjadikan hamba tazhallul (menghinakan diri) dan merendahkan diri kepada-Nya. Kemudian ia berusaha menjaga perintah Allah dalam dirinya. Dia takut terhadap murka Allah dan kemarahan-Nya, sehingga ia menahan diri dari durhaka terhadap-Nya.

Inilah sifat yang dimiliki para rasul dan orang-orang shalih terdahulu. Mereka senantiasa menggantungkan perbaikan diri dan apa yang dibutuhkannya kepada Allah. Mereka banyak berdoa yang diikuti dengan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Al-Qur'an telah merekam sifat-sifat mulia mereka dan doa-doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Allah.

Kita lihat Nabi Adam & Hawa saat mereka diturunkan ke bumi akibat dosa-dosa mereka, mereka berdoa:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’rafa: )

Mereka butuh kepada ampunan dan rahmat (kasih sayang) Allah. Mereka tidak bisa hidup dan baik kecuali dengan kemurahan & kebaikan Allah. Jika ini tidak diberikan, mereka mengakui akan menjadi orang merugi.

Nabi Ibrahim & Zakaria meminta kepada Allah agar diberi keturunan,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Shaafat: 100)

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

Ibadurrahman meminta kepada Allah agar pasangan-pasangan hidup mereka dan keturunan mereka dijadikan sebagai Ahlut Tha’ah dan menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Dalam mendidik anak agar menjadi manusia shalih dan menjaga shalat, Nabi Ibrahim memintakan taufiknya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 41)

Al-Rasyikhuna fi al-Ilmi (orang-orang yang mendalam ilmunya) meminta kepada Allah agar dianugerahi keistiqamahan dan dijaga petunjuk pada mereka, mereka berlindung dari kesesatan-kesesatan sesudah mendapat petunjuk. Mereka mengakui bahwa semua itu bagian kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Rabb-kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Juga senantiasa membaca doa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu." (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Ini menunjukukkan bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam yakin bahwa hatinya berada di tangan Allah 'Azza wa Jalla. Dirinya tidak punya kuasa sedikitpun terhadapnya. Sedangkan Allah mengarahkan hati tersebut sekehendak-Nya. Dia berfirman tentang hakikat ini,

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (QS. Al-Isra': 74)

Ringkasnya, setiap kita tidak bisa lepas dari butuh kepada Allah walau sekejap mata. Maka hendaknya kita melakukan sesuatu yang mendatangkan kecintaan & keridhaan-Nya dengan mengerjakan ibadah dan ketaatan, menjauhi keharaman-keharaman & maksiat, senantiasa mengingat-Nya (berdzikir kepada-Nya), memperbanyak doa dan permintaan kepada-Nya. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Doa-doa Saat Turun Hujan

asyik_hujan

Oleh: Badrul Tamam

Allah menjadikan hujan sebagai nikmat dan rahmat bagi makhluk-makhluk-Nya, tak terkecuali manusia. Bahkan Al-Qur'an menyebutkannya sebagai sumber kehidupan.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al-Anbiya': 30)

Namun di satu sisi, Allah juga pernah menjadikan hujan dan berlimpahnya air sebagai hukuman atas kaum pembangkang, seperti yang menimpa kaum Nabi Nuh 'Alaihissalam.

وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

"Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya." (QS. Al-Anbiya': 76-77)

Maka saat turun hujan, kaum muslimin yang menyaksikannya berharap agar hujan tersebut membawa kebaikan dan menjadi rahmat sebagaimana yang pernah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dzat yang menciptakan hujan dan menurunkannya. Di antara doa & dzikir tersebut adalah:

Pertama:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI'A

Artinya: Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat (kebaikan).

Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

"Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila melihat hujan beliau berdoa: ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI'A (Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat -kebaikan-." (HR. Al-Buhari)

Kedua:

RAHMAH,

artinya: ini adalah rahmat.

Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila terjadi angin kencang dan awan tebal maka beliau sangat khawatir yang dapat diketahui melalui wajah beliau. Beliau mondar-mandir. Dan jika turun hujan, maka beliau terlihat senang dan hilang kekhwatiran tadi. Lalu 'Aisyah menanyakan kepada beliau perihal tadi. Maka beliau menjawab, "Sungguh aku khawatir kalau itu menjadi azab yang ditimpakan kepada umatku." Dan apabila beliau melihat hujan, beliau bersabda: rahmah(ini adalah rahmat). (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim menjelaskan tentang makna hadits di atas, "Di dalamnya terdapat anjuran bersiaga dengan mendekatkan diri kepada Allah dan berlindung kepada-Nya saat terjadi perubahan kondisi alam dan munculnya penyebab musibah. Kekhawatiran beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam kalau-kalau diazab dengan maksiatnya ahli maksiat. Dan gembiranya beliau karena hilangnya sebab kekhawatiran."

Ketiga:

Memperbanyak doa saat turun hujan, karena termasuk waktu yang mustajab. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

اطلبوا استجابة الدعاء عند التقاء الجيوش و إقامة الصلاة و نزول الغيث

"Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan." (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak: 2/114 dan dishahihkan olehnya. Lihat Majmu' fatawa: 7/129. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1469 dan Shahih al-Jami' no. 1026)

Penutup

Islam mengajarkan banyak zikir dan doa pada banyak kondisi dan tempat. Semua itu agar hamba Allah selalu ingat dan kembali kepada-Nya. Menyadari bahwa semua kebaikan ada di tangan-Nya. Sehingga dia senantiasa berharap dan memohon kebaikan hanya kepada-Nya semata. lalu diikuti dengan syukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat untuk taat kepada-Nya. Dan seperti itu pula saat melihat hujan turun. Wallahu Ta'ala A'lam.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2013/11/25/27773/doadoa-saat-turun-hujan/#sthash.tlaG7ctN.dpuf

Selasa, 19 November 2013

Muslim, Fokuslah pada Tujuan!

foqus

Alkisah, seorang bos di suatu perusahaan telah menerima seorang karyawan baru. Pagi itu sang bos duduk di ruangannya, ketika tiba-tiba karyawan baru ini mengetuk pintu ruangannya dan meminta izin untuk masuk. Setelah memberikan izin untuk menemuinya, terjadi percakapan singkat diantara mereka.

Karyawan :

“Selamat pagi, Tuan. Saya ingin bertanya mengenai tugas saya. Apa yang bisa saya kerjakan, wahai tuan?”

Bos         :

“Oh, selamat pagi. Tugas kamu: begini, di depan ruangan saya ini ada sebuah ruangan besar. Kamu jalan lurus saja, lalu langsung buka saja pintunya. Di depan kamu nanti ada sebuah meja panjang, disana ada berkas-berkas. Silakan kamu buka berkas-berkas itu, dan kamu akan menemukan tugasmu apa. Saya harap, tugas itu sudah selesai ketika saya datang.”

Karyawan itupun segera menyusuri koridor menuju ruangan yang ditunjuk oleh sang bos. Ketika menemui sebuah pintu, dia langsung membukanya sebagaimana yang bos perintahkan. Kemudian, dia mulai memasuki ruangan itu dan akhirnya menemukan meja besar seperti yang bos gambarkan. “ Itu dia berkas-berkasnya!” gumamnya, “Tapi ruangan ini gelap sekali”. Dia pun mencari stop kontak lampu dan menekannya. Lampu pun menyala.

Betapa takjubnya dia ketika melihat lampu itu bersinar terang dan indah, berhiaskan emas, permata, mutiara, perak, berlian, dan perhiasan lainnya. “Wah.. indah sekali lampu ini..!” Lama karyawan ini memandangi lampu indah yang padahal tadinya dia nyalakan hanya sebagai penerang ruangan agar dia dapat melaksanakan tugasnya. Tak henti-hentinya dia bergumam akan keindahan lampu ini dan terus-menerus memandanginya hingga akhirnya sang bos menghampirinya di ruangan itu.

“Sudah kamu kerjakan tugas dari saya?”

“Maaf, tuan. Saya belum mengerjakan apa-apa.”

***

Nah, kita cut dulu, ya, teman-teman ilustrasi di atas tadi. Adakah yang sudah bisa mengaitkannya dengan tujuan kita hidup di dunia ini?

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Begini teman, kita ibaratkan bos tadi adalah Allah -tak ada yang serupa dengannya- yang telah memberi kita perintah di dunia ini untuk beribadah, lalu kita ibaratkan karyawan tadi adalah kita yang diberi perintah, dan lampu indah tadi, kita ibaratkan adalah dunia.

Terkadang, kita begitu terlena akan kehidupan dunia dan lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Begitu gencarnya kita berlomba-lomba demi mendapatkan kenikmatan dunia hingga lupa tugas inti yang Allah berikan, sampai akhirnya Allah memanggil kita kembali untuk melihat hasil kerja kita.

Lantas, mengapa Allah menciptakan dunia lengkap dengan pernak-perniknya? Mengapa Allah menciptakan makanan, minuman, buah-buahan, dll? Jawaban: itu hanya sebagai sarana, teman! Sarana yang nantinya mendukung tujuan kita hidup di dunia ini: beribadah!

Agar bisa beribadah dengan baik, bukankah fisik kita harus kuat? Bukankah kita harus selalu sehat? Maka dari itulah Allah memberi kita berbagai makanan, buah-buahan, minuman, dll, sekali lagi: hanya sebatas sarana, bukan sebagai tujuan akhir. Tujuan kita diciptakan tetap hanya satu: semata-mata mengabdi kepada-Nya.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk seperti sang karyawan yang akhirnya lupa akan tugas yang diberikan oleh bosnya karena sibuk menikmati keindahan lampu (sarana), hingga akhirnya tak dapat melakukan apa-apa lagi ketika waktu sudah habis.

Akhir kata:

Muslim, fokuslah pada tujuanmu diciptakan! Agar kau bangga dengan hasil kerjamu ketika Allah menagihnya!

Selasa, 12 November 2013

Mari Berpuasa Tasu'a & 'Asyura pada Rabu - Kamis ini

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang telah Allah muliakan. Secara khusus Allah melarangan berbuat zalim (maksiat) pada bulan ini untuk menunjukkan kehormatannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. Al-Taubah: 36)

Mengerjakan perbuatan zalim/maksiat pada bulan ini dosanya lebih besar daripada dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya. Salah satu amal shalih yang dianjurkan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam untuk dikerjakan pada bulan ini ibadah shiyam. Beliau menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

"Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadlan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu." (HR. Muslim, no. 1982)

Menurut Imam Al-Qaari berkata, bahwa secara zahir, maksudnya adalah seluruh hari-hari pada bulan muharram ini. Tetapi telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berpuasa sebulan penuh kecuali di Ramadhan. Maka hadits ini dipahami, dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram bukan seluruhnya.

Puasa ‘Asyura

Secara umum dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini; baik di awalnya, pertengahannya, ataupun di akhirnya. Namun ada satu yang berpuasa padanya mendapat perhatian lebih dari syariat, yakni pada hari kesepuluhnya yang dikenal dengan yaum ‘Asyura. Berpuasa pada hari tersebut bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Puasa hari 'Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim no. 1975)

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Umar, dan Asiyah bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam telah berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu pernah menceritakan tentang puasa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

 “Aku tidak penah melihat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sertakan Puasa Satu Hari Sebelumnya (Tasu’a)

Disunnahkan untuk menambah puasa Asyura dengan puasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal Sembilan Muharram yang dikenal dengan hari Tasu’a. Tujuannya, untuk menyelisihi kebiasaan puasanya ahlul Kitab.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim, no. 1916)

Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berkata, “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara  keseluruhan, karena Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”

Pada tahun ini (1435 H), Tasu’a dan ‘Asyura jatuh pada hari Rabu – Kamis besok, (13-14 November 2013). Mari kita hidupkan sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini dan mengambil bonus istimewa dari Allah untuk menghapuskan dosa setahun yang telah lalu. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Sabtu, 02 November 2013

Bahaya Merasa Tidak Butuh Kepada Allah

kaya

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Butuh kepada Allah merupakan kondisi semua makhluk dan sifat melekat padanya. Mereka semua butuh kepada karunia Allah, nikmat-Nya, kebaikan-Nya, pertolongan-Nya, perlindungan-Nya, dukungan-Nya, ampunan-Nya & keridhaan-nya.

Setiap manusia yang ada di timur sampai barat butuh kepada-Nya. Mereka butuh kemurahan Allah agar tetap memberi mereka kesempatan hidup, tempat tinggal di bumi-Nya, menghirup udara-Nya, memberi fungsi anggota tubuh, rizki, dan selainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang kondisi ini,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ * إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ * وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir: 15-17)

Imam Al-Syaukani berkata, “maksudnya: mereka butuh kepada-nya dalam semua urusan Dien dan dunia mereka. Mereka butuh kepada-Nya secara umum.”

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua itu sesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepadaku niscaya Kuberi hidayah kalian. Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian semua itu orang lapar kecuali orang-orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepadaKu niscaya Aku beri makan kalian. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua orang-orang yang telanjang kecuali orang yang aku beri pakaian maka mintalah pakaian padaKu niscaya Aku beri pakaian kalian. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua melakukan kesalahan di waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni segala dosa semuanya, maka mintalah ampun kalian semua padaKu niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengabarkan tentang kondisi awal manusia, semuanya dalam keadaan jahil, sesat, kelaparan, telanjang, dan banyak dosa. Kemudian Allahlah yang memberikan ilmu kepada mereka, menunjuki mereka, memberikan makanan dan pakasian serta mengampuni dosa-dosa mereka sehingga mereka tidak habis binasa.

Merasa Tidak Butuh Kepada Allah Sumber Penyimpangan

Tidak semua menusia mengakui sifat ini dan menyadari kebutuhannya kepada Allah yang sangat. Ada sebagian menyombongkan diri dan merasa tidak butuh kepada Allah hanya karena mereka memiliki fisik sehat lagi kuat, mampu bekerja sehingga menghasilkan duit yang mencukupi hidupnya, memiliki kekayaan melimpah, menduduki jabatan tinggi dan  atau ia sebagai penguasa di satu belahan bumi memiliki kekayaan. Ia enggan mencari kecintaan Allah dan keridhaan-Nya. Biasanya, manusia semacam ini cenderung menyimpang dan menyombongkan diri sehingga tidak mau tunduk & taat kepada Allah, membuang syariat-Nya, dan melampui batasanya sebagai hamba.

Allah telah mengabarkan manusia jenis kedua dalam firman-Nya,

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).” (QS. Al-Alaq: 6-8)

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 8-10)

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آَيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)

Mereka akan menemui kehinaan dan kesengsaraan di kehidupan akhirat; bahkan terkadang kehinaan itu disegerakan juga dalam kehidupan dunia.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".” (QS. Ghaafi: 60)

Ada orang merasa dirinya lemah dan membutuhkan bantuan Dzat lebih perkasa, namun ia lari dari Allah dan datang kepada sesama makhluk yang lemah. Ia tidak mengenal Allah dengan baik sehingga ingkar terhadap Rububiyyah-Nya. Ia terjerumus ke dalam kesyirikan. Ia tak mendapatkan apa yang dikehendakinya kecuali dengan Izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah sebutkan tentang orang-orang musyrikin yang menyembah berhala-berhala agar mereka memudahkan jalan rizkinya.

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta.  Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17)

Allah terangkan tentang orang yang beribadah kepada Allah di atas keraguan, jika mendapat kemakmuran rizki maka dia tetap di atas ibadah. Sebaliknya, jika mendapat kerugian materi maka ia berpaling darinya & mencari selain Allah untuk diminta. Orang ini menemui kerugian dunia-akhirat.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat.  Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 11-12)

Apakah Allah Rugi dengan Pengingkaran?

Tidak, Allah maha kaya tidak butuh kepada makhluk-Nya, tidak butuh pula kepada ibadah dan ketaatan mereka.

وَقَالَ مُوسَى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 8)

Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا

Wahai, hamba-hamba-Ku. Seandainya yang pertama dan yang terakhir dari kalangan jin dan manusia semua merupakan setaqwa-taqwa makhluq di antara kalian, tidaklah yang demikian itu menambah sedikitpun kekuasaan-Ku. Dan seandainya yang pertama dan yang terakhir dari kalangan jin dan manusia merupakan seburuk-buruk makhluq di antara kalian, tidaklah yang demikian itu mengurangi sedikitpun kekuasaan-Ku.” (HR. Muslim)

Semua itu karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha kaya dan sudah berkecukupan sehingga tak butuh kepada semua makhluk-Nya. Dia tidak berhajat kepada usaha makhluk untuk memberikan kemanfaat bagi-Nya. Keshalihan mereka semua tidaklah menambah kekuasaan-Nya sedikitpun. Sebaliknya kebejatan dan keingkaran mereka tidak mengurangi kekuasaan barang sedikitpun.

Kesempurnaan kekayaan Allah mengharuskan ketaatan makhluk-Nya tidakmembawa manfaat bagi-Nya. Sebaliknya, kedurhakaan para ahli maksiat tidak membawa madharat sedikitpun bagi-Nya. Allah Mahakaya dan Mahaterpuji. Makhluk lah yang butuh kepada ibadah mereka dan ampunan atas dosa-dosa mereka. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Berbedalah Anak Muda!

berbeda

Wahai sobat muda, sobat yang hatinya berkobar dengan semangat, sobat muda yang kakinya takkan pernah lelah mendaki gunung, sobat yang tidak pernah lelah mengayuh perahunya menyeberangi samudra, dan para sobat yang penanya bergerak seperti pedang para samurai, serta para sobat yang jarinya tak berhenti menjelajah keyboard dan mouse di meja kerjanya layaknya para prajurit tank-tank leopard yang siap menghajar musuh-musuh Alloh.

Mengertilah para sobat muda, pahamilah, semua yang melekat ditubuh kita adalah senjata yang mematikan, senjata terbaik yang pernah ada dialam semesta tapi ingatlah kembali senjata hanyalah senjata apabila penggunanya hanya mengerti cara menyimpanya bukan menggunakanya.

Para sobat muda dijaman sekarang ini sangat amatlah cerdas, kritis namun sangat disayangkan sobat muda saat ini lupa sesaat tentang sebuah navigasi. Navigasi yang menunjukan arah yang benar. Bukankah sobat muda perlu petunjuk untuk sebuah petualangan, untuk sebuah permainan.

Sungguh lalai jika sobat muda lupa dengan sebuah navigasi terbaik didunia ini. Alquran Alhadist. Ya. Dua navigasi terbaik, lebih baik dari kompas atau GPS Map di smartphone sobat semua.

Kalian adalah mesin dunia, bahan bakar agama Alloh, kelak kami melumpuh dan melemah, kalianlah yang melanjutkan tradisi kemenangan islam. Jadilah generasi yang kuat, beranilah berbeda dengan kebanyakan yang ada. Jika mereka menggunakan hotpants gunakanlah rok panjang, jika mereka menggunakan busana ketat gunakanlah busana longgar yang menutupi aurat kita, jika mereka menggunakan asesoris berkilau jauhilah jangan gunakan. Bukankah itu sudah berbeda?? Bukankah dengan cara berbeda para sobat lebih diperhatikan??
Berbuatlah banggalah untuk agama, orang tua dan tentu saja jagalah martabat diri kita sobat muda sebagai generasi pemenang bukan pecundang.

Ketahuilah sebagian dari sobat muda tidak mengerti kemana akan bergerak.
Ketahuilah sebagian besar hanya berlari tanpa arah, sebagian lagi hanya melihat, dan sebagian lagi hanya mencari kesenangan.
Ketahuilah mereka hanya mengikuti keinginan dan mencari kepuasan sesaat.
Ketahuilah sebagian mereka kebingungan, dan sebagian lagi belajar memahmi kehidupan.
Ketahuilah sobat muda, bergerak tanpa arah, kebingungan hanya akan menghabiskan waktu, membuang kesempatan, bergeraklah dengan benar.

Penulis Afiat Buchori

Pacaran? Eh, Maksudmu Zina Terselubung?

pacaran

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo para sobat-sobat Smart Teen voa-islam.com, bagaimana kabarnya? Semoga masih selalu dalam limpahan rahmat Allah, aamiin.

Saya rasa, saya harus ngomong serius ini. Lah, kok serius? Iya, masalahnya yang mau saya omongkan ini adalah hal yang sudah umum banget di kalangan remaja kita, dari yang SMP sampai SMA, bahkan SD juga, mahasiswa juga. Dari yang ndugal sampai yang shalih shalihah. Dari yang pinter sampai yang kurang pinter. Apa sih itu?

Ya sesuai judulnya, yaitu PACARAN. Kamu semua pasti pernah denger istilah kayak jadian, PHP, kode, ga peka, putus, anniv, LDR, dll. Pasti juga pernah lihat pasangan yang berpacaran mbojo (berduaan) di malam minggu. Pernah juga denger ungkapan “Kalau ga pacaran, kayak ga bisa nikmati masa remaja aja,”. Ya pokoknya yang kayak gitu-gitu deh...

Dari zaman bapakku, sampai zaman sekarang, ya pacaran itu sudah umum. Saya berani menjamin, pasti kalian semua pernah berpikir kepengen pacaran, ya ngga? Hehehe, bercanda saja sih. Saya saja dulu pernah pengen pacaran, kan masih awal remaja. Alhamdulillah saya ngga jadi pengen pacaran dan memilih untuk mendalami ilmu dulu, baik dunia maupun agama, hehehe.

Budaya pacaran yang sudah menjadi ‘tradisi’ dan ‘kewajiban’ anak remaja, kayaknya harus kita tinjau secara serius deh secara Islam. Kan segala sesuatu yang kita lakukan harus sesuai Islam, biar selamat dunia akhirat, ya kan?

Kalau menurut saya ya, pacarannya remaja ini ngga sesuai banget sama Islam, yang sudah mengatur dengan sangat baik antara hubungan laki-laki dan perempuan.

Sudah tahu kan, dalam Islam, tidak boleh berduaan antara laki-laki dan perempuan, tanpa disertai mahramnya. Ada hadits-nya kok, ini saya tulis arti dari haditsnya itu.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia berkhalwat (berduaan) dengan wanita tanpa disertai mahramnya, karena syetan akan menyertai keduanya” (HR.Ahmad).

Nah, jelas kan? Pacaran remaja zaman sekarang ini kan, ngga asyik kalau berduaan. Malah kadang ada yang ga mau kalau bapak ibunya tahu soal pacarannya, biar ga direcoki katanya. Loh, bukannya dalam Islam, bertamu saja kalau ke rumah lawan jenis, harus disertai mahram? Contohnya ya orang tua kita itu.

Terus kalau pacaran kan disertai syetan. Apa jadinya ntar? Ya itu, ntar berduaan, lanjut rangkul-rangkulan dan pegang-pegangan, awalnya cuma tangan, lalu lanjut ke mana-mana, ntar malah jadinya berakhir dengan hubungan zina! Naudzubillahi min dzalik.

Terus, kalau pacarannya melalui facebook, twitter, sms, BBM, dll, itu gimana? Ya kalau kamu bilang itu ga berduaan, sama aja BOHONG. Kan kalau kamu chatting facebook ama pacar, kan cuma sama si pacar itu kan? Ya sama aja berduaan, zina itu!

Saya ini bukan jomblo ngenes yang nulis ginian karena benci ngelihat orang pacaran. Ya jujur aja, saya tu sebel banget lihat orang pacaran, ya karena itu tadi udah saya jelaskan semuanya. Ga sesuai Islam, padahal yang pacaran itu orangnya juga rajin shalat, pinter adzan, bacaan Al-Qur’annya jos banget. Tapi pacaran juga jalan, apa-apaan tuh?

Ya saya sih menyarankan lebih baik JANGAN berpacaran daripada terjadi hal-hal yang buruk. Ntar kalau kasusnya Married By Accident, kan susah itu. Lebih baik kita memperbaiki diri di berbagai sektor, seperti pelajaran sekolah, lalu keislaman kita juga harus dibenahi, lalu sikap perilaku. Ntar masalah jodoh, kita pakai cara ta’aruf, yang Insya Allah sesuai Islam.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat. Mari kita hindari pacaran dan tingkatkan ketaqwaan kita.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh: Aldinshah Vijayabwana

Binatang Kecil yang Gigih!

semut

Semut, ya… semut.

Binatang kecil yang hidup bergotong-royong dengan sesamanya, binatang yang senantiasa mencari jalan keluar bila jalannya terdapat rintangan, dan binatang yang selalu berusaha mencari makan untuk hidupnya. Sesungguhnya dari kehidupan binatang kecil itu terdapat pelajaran yang sangat berarti bagi manusia. Kesabaran, keteguhan hati, ketekunan dari seekor semut itu dapat kita ambil dan kita terapkan di kehidupan kita. Kata-kata ini tidaklah berlebihan, karena sejatinya semut selalu berjuang untuk mencapai tujuannya, berkali-kali semut jatuh untuk memanjat dinding ataupun pohon, berkali-kali pula semut itu berjuang untuk mencapai puncak tujuannya.

Jika jalan untuk mencapai tujuannya dirintangi, semut akan mengalihkan langkah-langkahnya ke samping, bahkan terkadang ia rela memutar balik jalannya untuk mendapatkan jalan yang lebih baik, sehingga perjalanan ia pun lebih jauh dari jalan yang pertama.

Namun sang semut tetap fokus terhadap tujuannya hingga tercapai. Jika beban barang yang dibawa oleh seekor semut terlalu berat, maka gerombolan semut lain pun datang menghampiri ia untuk membantu, sehingga bebannya terasa ringan. Semut-semut itu tahu apa yang harus ia lakukan, tanpa harus diperintah oleh sang komandannnya, mereka sudah paham dengan tugas-tugasnya, di dalam diri mereka telah tertanam semangat bergotong-royong, dan sifat kebersamaan.

Begitulah perjuangan dari binatang kecil yang selalu hidup dalam kesabaran, ketekunan, dan kebersamaan. Sehingga Allah ta’ala  mengabadikannya menjadi sebuah nama sebuah surat dalam Al-Qur’an, yaitu surat An-Naml (semut). Mahasuci Allah yang telah menciptakan semut sebagai hikmah untuk kehidupan kita. Namun terkadang sebagai manusia kita sempat berpikir bahwa di kehidupan ini hanya ia seorang yang diberi beban atau ujian yang berat sedangkan orang lain dapat bersenang-senang menikmati kehidupannya dan tidak tanggung-tanggung ada juga yang berhenti bergerak, berusaha karena merasa lelah terhadap beban masalah hidup.

Saudaraku,, cobalah renungi kehidupan semut tadi, renungkanlah betapa panjang dan sulit proses-proses hingga semut itu pun berhasil mencapai puncak tujuannya. Betapa gembiranya semut itu telah berhasil memupus masalah-masalah yang ia hadapi. Seperti itulah lika-liku kehidupan, kadang kita diberi beban amanah yang sangat berat, kadang kita diberi amanah yang membingungkan, tetapi kita harus yakin bahwa semua maslah itu akan ada penyelesaiannya. Bukankah bersama kesulitan itu ada kemudahan? Ingat, tak selamanya hujan selalu membawa musibah, sesekali ia akan membasahi daerah yang kering,dan juga tak selamanya terik matahari menyoroti bumi kita, sesekali ia akan bergantian dengan bulan yang menyinari di kegelapan malam.

Tanda bahwa Allah ta’ala masih sayang dan peduli kepada hambaNya ialah dengan diberikannya ujian-ujian agar kita lebih bijak, lebih mulia, dan lebih kuat, maka bergembiralah Allah ta’ala masih cinta kepada kita. Seorang mukmin harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya, ia akan selalu sabar, teguh, dan tekun melewati proses lika-liku kehidupannya. Kegagalan tidaklah menyurutkan semangatnya, karena ia yakin bahwa keberhasilan dan kegagalan seseorang berada di tangan Allah ta’ala. Ia hanya wajib berusaha dengan sungguh-sungguh, untuk hasil ia serahkan hanya kepada Allah ta’ala semata..Setelah itu bersabarlah, kesabaran akan membuahkan ketenangan hati, kekuatan jiwa dan kesantunan. Berapa banyak orang yang telah menyerah putus asa, padahal dengan sedikit usaha lagi, dengan sedikit kesabaran lagi, mereka akan meraih kesuksesan. Sesungguhya Allah ta’ala bersama orang-orang yang sabar, karena Allah ta’ala tidak akan meninggalkan hambaNya yang beriman, justru manusialah yang seringkali meninggalkan Penciptanya.

Minggu, 13 Oktober 2013

Puasa Hari Arafah Hapuskan Dosa Dua Tahun, Maksudnya?

hapu dosa

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalwat dan salam teruntuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Kita sudah berada pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dikenal dengan hari ‘Arafah. Para jamaah hari melaksanakan rukun utama ibadah haji, wukuf di padang ‘Arafah. Sementara kaum muslimin yang tidak mengerjakan haji disunnahkan berpuasa padanya.

Para ulama telah sepakat bahwa puasa hari ‘Arafah adalah seutama-utamanya puasa sunnah dalam satu hari. Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan keutamannya, “Puasa hari 'Arafah; aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim dari hadits Abu Qatadah Radhiyallahu 'Anhu) [Baca: Senin Ini Jadwal Puasa Hari Arafah, Bisa Menghapuskan Dosa Dua Tahun]

Apa maksud dari keutamaan puasa ‘Arafah yang mengapuskan dosa dua tahun, pada tahun tersebut dan tahun sesudahnya? Apakah semua dosa, besar dan kecilnya? Ataukah hanya dosa kecil saja?

Menghapuskan Dosa Dua Tahun

Maksud “menghapuskan dosa dua tahun” bisa mengandung dua pengertian: Pertama, Allah menghapuskan dosa-dosanya selama dua tahun (jika dosa-dosa besar dijauhi). Kedua, Allah akan menjaganya sehingga tidak melakukan kemaksiatan pada masa dua tahun tersebut. [Lihat: Shahih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal: 3/185]

Dosa yang akan dihapuskan melalui puasa ini adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Sedangkan dihapuskannya tersebut memiliki syarat dengan meninggalkan dosa-dosa besar. Hal ini seperti firman Allah Ta'ala,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang kalian dilarang mengerjakannya, nisacaya kami hapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil) kalian." (QS. Al-Nisa': 31)

Ibnu Katsir berkata, "Maksudnya: Apabila kalian jauhi dosa-dosa besar yang kalian dilarang darinya, kami hapuskan dosa-dosa kecil dari kalian dna kami masukkan kalian ke dalam surga."

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Shalat lima waktu, satu Jum'at ke Jum'at berikutnya, satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menjadi kafarah (penghapus dosa) di antara keduanya jika dijauhi dosa-dosa besar." (HR. Muslim)

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Syaikh Rahimahullah ditanya, apakah puasa hari ‘Arafah menghapuskan dosa-dosa besar?

Beliau menjawab: zahir dari sabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahwasanya puasa hari Arafah itu, “akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya”, menghapuaskan dosa-dosa besar. Tetapi banyak dari ulama rahimahumullah berkata, bahwa puasa tersebut tidak menghapuskan dosa-dosa besar. Karena NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Shalat lima waktu, satu Jum'at ke Jum'at berikutnya, satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menjadi kafarah (penghapus dosa) di antara keduanya jika dijauhi dosa-dosa besar." (HR. Muslim)

Jika shalat fardhu saja yang merpakan amal badan paling utama tidak bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) kecuali kalau ditinggalkan dosa besar, maka amal selainnya lebih layak (tidak bisa menghapuskan selain dosa kecil). Karenanya kita mengatakan, puasa hari ‘Arafah menghapuskan setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya hanya terhadap dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa besar, harus ada taubat yang berdiri sendiri.” Selesai dari fatawa. Wallahu A’lam.  

Kamis, 26 September 2013

Kisah Nyata: Hukuman Untuk Pendusta di Dunia Semut

semut

Oleh: Badrul Tamam

Syaikh nabil Al-Audhi bercerita di akun Facebooknya tentang hukuman keras atas pendusta di dunia semut. Pada suatu ketika beliau duduk di satu tempat. Pandangan beliau bergerak mengarah ke sana kemari melihat makhluk Allah dan memperhatikan keajaiban ciptaan-Nya.

Pandangan beliau tertuju kepada seekor semut yang menjelajahi tempat di sekitar beliau. “Dia mencari sesuatu yang saya tidak yakin ia tahu apa yang dicarinya,”tutur beliau. Tetapi dia terus mencari dan mencari, tidak merasa lelah dan bosan.

Di tengah-tengah pencariannya, semut tersebut menemukan sisa tubuh belalang, tepatnya kaki belalang. Ia berusaha mengambil dan menarik kaki belalang tersebut. Ia berusaha membawanya ke tempat tujuannya di dunia semut. Ia sangat bersemangat menyelesaikan pekerjaannya tanpa merasa ada beban. Berusaha dan terus berusaha.

Setelah gagal untuk membawanya, “ia lari dan pergi ke tempat yang tidak kuketahui dan menghilang.” Ujar Syaikh Nabil.

Tak lama ia kembali bersama sekumpulan semut yang banyak. Ternyata semut tersebut mengundang kawan-kawannya untuk membantunya membawa kaki belalang yang gagal dibawanya tadi.

Syaikh mengatakan, “Aku ingin sedikit hiburan dan membawa belalang, tepatnya kaki belalang dan menyembunyikannya.” Sehingga semut tadi dengan dibantu sekawanannya mencari kaki belalang ke sana kemari. Sampai akhirnya mereka putus asa menemukannya. Kemudian mereka semua pergi.

Tak lama berselang, satu semut tadi kembali sendirian. Lalu aku letakkan kaki belalang di depannya. Mulailah ia mengelilinginya dan melihat di sekitarnya. Lalu ia mulai menariknya. Berusaha dan terus berusaha sehingga ia tak mampu lagi melanjutkannya.

Kemudia ia pergi lagi untuk memanggil sekawanannya untuk membantunya membawa kaki belalang yang sedari tadi berusah ditariknya sendiri. Datanglah sekumpulan semut bersama dirinya. “Saat aku melihat kedatangan mereka aku tertawa-tawa dan aku ambil kaki belalang tersebut lalu aku sembunyikan dari mereka,” tutur beliau.

Mereka mencarinya ke sana ke sini. Mencari dengan penuh keikhlasan dan semangat yang membaja. Ia berkeliling ke sana ke sini. Melihat ke kanan dan ke kiri. Berharap melihat dan menemukan kaki belalang tadi. Tapi, ia tak menemukannya. “Aku sembunyikan belalang tersebut dari pandangan mereka,” tutur Syaikh.

Kemudian semut-semut tersebut berkumpul setelah penat mencari. Di tengah-tengah mereka berdiri satu semut yang mengundang mereka. Kemudian mereka menyerangnya dan memotong-motong tubuhnya di depan mata Syaikh dan beliau melihat sendiri kejadian tersebut. Beliau terheran-heran dengan kejadian tersebut. Mereka membunuhnya. Ya, membunuh dan memutilasi seekor semut di depan mata beliau. Karena mereka menyangka bahwa semut tadi membohongi mereka. “Ya, mereka membunuhnya di depanku dan ia dibunuh karena sebab aku,” ujar beliau.

Subhanallah, dalam dunia semut perbuatan dusta adalah perbuatan sangat buruk dan tercela sehingga pelakunya layak dibunuh. Para semut menilai perbuatan bohong adalah termasuk tindak kejahatan.

. . . dalam dunia semut perbuatan dusta adalah perbuatan sangat buruk dan tercela sehingga pelakunya layak dibunuh. . .

Islam Memandang Perbuatan Dusta

Dalam ajaran Islam, perbuatan dusta atau berbohong sangat-sangat dicela. Bahkan Islam mengategorikannya sebagai bagian dari tanda kekufuran dan kenifakan. Karenanya, Umat Islam diperingatkan secara umum agar tidak berdusta.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39)

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. Al-Nahl: 105)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafik ada tiga: apabila ia berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat berkhianat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam hadits yang sangat masyhur, “Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya; bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang.” (Muttafaqun 'alaih)

Maka semaksimal mungkin kita menghindarkan diri dari berbohong. Jangan mudah berkata dusta walau dalam perkara-perkara kecil. Karena demikian itu akan mengurangi kepercayaan orang kepada kita saat kita menyampaikan kebenaran.

Dahsyatnya Siksa Atas Pendusta

Siksa yang diancamkan atas pendusta sangat berat. Dalam hadits Samurah bin Jundab yang sangat panjang, dijelaskan akibat yang akan ditanggung oleh pendusta yang kebohongannya sudah sampai ke ufuk. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menceritakan apa yang beliau temui dalam mimpinya,

فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوِبٍ مِنْ حَدِيْدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمِنْخَرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ. (قَالَ : وَرُبَّمَا قَالَ أبو رَجَاء: فَيَشُقُّ). قَالَ: ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بالجَانِبِ الأَوَّلِ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلَ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُوْلَى. قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا : سُبْحَانَ الله، مَا هَذَانِ؟ قَالَ: قَالاَ لِي : اِنْطَلِقْ اِنْطَلِقْ.

“Kemudian kami berangkat lagi mendatangi orang yang terlentang pada tengkuknya. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa kait (yang terbuat) dari besi. Tiba-tiba ia datangi sebelah wajah orang yang terlentang itu, lalu ia robek (dengan kait besi tersebut) mulai dari sebelah mulutnya hingga tengkuknya, mulai dari lubang hidungnya hingga tengkuknya, dan mulai dari matanya hingga tengkuknya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian bersabda: “Selanjutnya orang itu berpindah ke sebelah wajah lainnya dari orang yang terlentang tersebut dan melakukan seperti yang dilakukannya pada sisi wajah yang satunya. Belum selesai ia berbuat terhadap sisi wajah yang lain itu, sisi wajah pertama sudah sehat kembali seperti sedia kala. Maka ia mengulangi perbuatannya, ia lakukan seperti yang dilakukannya pada kali pertama.”

Di penghujung hadits dijelaskan dosa yang diperbuat oleh laki-laki tadi, “Sesungguhnya laki-laki itu setiap keluar dari rumahnya ia berdusta (berbohong) yang kebohongannya sampai ke kaki-kaki langit (tersebar ke mana-mana,-terj)” (HR. Al-Bukhari) dalam riwayat lain, “Ia disiksa demikian hingga tiba hari kiamat.”

Siksa dahsyat yang ditimpakan kepada pendusta di atas terjadi di alam kuburnya sebagai adzab kubur. Ini terus disiksakan atasnya sampai terjadinya hari kiamat. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya. [PurWD/voa-islam.com]

Ini Dalil Puasa Hari Senin & Kamis

dalil

Oleh: Badrul Tamam

Puasa hari Senin  dan Kamis termasuk sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anhu mengatakan,

كَانَ يَتَحَرَّى صِيَام الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيس

“Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memperbanyak puasa pada hari Senin & Kamis.” (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan Al-Albani)

Saat beliau ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau (awal) diturunkan Al-Qur'an kepadaku.” (HR. Muslim)

Saat beliau ditanya tentang puasa hari Senin dan Kamis, beliau menjawab:

ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Keduanya adalah hari dihadapkannya amal-amal kepada Rabbul ‘Alamin (Allah). Karenanya aku suka saat amalku dibawa kepada-Nya aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Al-Nasai dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Raihlah keberuntungan hidup dengan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan berharap pahala kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata. Wallahu A’lam.

Sabtu, 21 September 2013

Menanamkan Cinta Allah dan Rosul Sejak Dini!

anak-anak-belajar-shalat

Salah satu amal yang tidak pernah terputus pahalanya sekalipun kita telah meninggalkan dunia ini adalah anak yang sholeh/sholehah. Doa anak yang sholeh juga merupakan salah satu do’a yang insya Allah dikabulkan oleh-Nya.

Sejak dini anak harus diajarka cinta Allah, cinta Alqur’an, tidak lupa ajarkanlah cinta Rasul, seperti diketahui menanamkan keteladanan, yakni, menanamkan budi pekerti mulia seperti halnya juga apa yang dilakukan nabi Muhammad S.A.W sendiri terhadap kedua cucunya Sayidina Hasan bin Ali dan Sayidina Husein bin Ali.
Misalnya  Sewaktu Sayidina Hasan dan Husein masih kecil, apabila Rasulullah SAW sembahyang, baginda meletakkan mereka di sampingnya. Kedua-dua cucunya ini memperhatikan gerak gerik baginda dalam sembahyangnya. Bahkan, ketika baginda sujud, kedua-dua anak itu melompat ke belakang baginda. Maka ada seseorang yang mencuba melarang kanak-kanak itu, tapi baginda mengisyaratkan supaya dibiarkan saja kedua-dua cucunya bermain di belakangnya.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan  hadits yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah menempati kedudukan yang tinggi.
Disebutkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi,
“Wahai Rasulullah, kapan terjadinya hari kiamat?”
Rasulullah balik bertanya, “Apa yang engkau persiapkan untuknya?”
Orang tersebut menjawab, “Aku tidak mempersiapkan banyaknya shalat, puasa atau sedekah, hanya saja aku mencintai Allah dan Engkau, Rasul-Nya.”
Rasulullah pun bersabda, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.”

Di sini menunjukkan bahwa kecintaan seseorang kepada Nabi adalah sebab dikumpulkannya dia bersama Nabi, di surga. Hal ini tidak lain karena cinta kepada Nabi adalah salah satu konsekuensi dari syahadat kedua; Muhammad Rasulullah. Syarat sah-nya menjadi seorang muslim.

Memang tak mudah  mengenalkan terlebih lagi menanamkan rasa cinta terhadap tokoh yang beda rentang waktu cukup jauh terhadap anak yang secara psikologis kemampuannya untuk  menelaah faktor waktu kaitannya dengan sejarah belum sempurna, akan tetapi sudah menjadi kewajiban orang tua terhadap anak untuk melatihnya.

Konsep dasar dalam mendidik anak untuk mencintai Allah dan Rasul. Yakni, dipraktekkan, dicontohkan, dibiasakan, dan yang terakhir, didoakan dan dimotivasi.
Pada dasarnya untuk melatihnya dibutuhkan kreatifitas keluarga (orangtua).
Kemampuan menerapkan sikap keseharian yang dengan mudah dapat di konotasi-kan akan perikehidupan rasul, dan
Kemauan orang tua untuk menyediakan cukup waktu untuk berinteraksi terhadap anak.

Beberapa hal tentang konsep medidik anak

Hindarkanlah sebisa mungkin untuk mengajarkan ahlaq cinta terhadap rasul itu sebagai norma misalnya larangan dan perintah. Sebisa mungkin diawali dengan cerita-cerita tentang pribadi mulia Rasul, kejadian-kejadian luar biasa yang pernah dialami Rasul, dan sebagainya. Hal ini disampaikan sejak anak masih kecil, misalnya pada saat anak menjelang tidur.
Dengan mudahnya diperoleh video dalam bentuk cd memudahkan kita memvariasikan metode dengan gambar animasi tentang sejarah kehidupan Nabi muhammaad S.A.W.

Pembiasaan mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad seperti: makan, mengenakan baju, sepatu dan sebagainya, berbicara dengan lembut, berperilaku sopan santun, bisa mengendalikan amarah, mengenalkan batas aurat. Contoh: jika sejak dini kita biasakan anak perempuan kita menggunakan jilbab, maka saat dewasa ia justru akan merasa tidak nyaman jika memperlihatkan auratnya, dll.

Kondisikan lingkungan pergaulan dan pendidikan yang islami. Contoh: sejak dini ikutkan anak kita dalam TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).
Musik qasidah dan lagu religi cinta rasul bisa jadi salah satu alternatif yang lain.
Mengajak anak berpartisipasi dalam acara maulid Nabi, tentu saja dengan menyesuaikan forum dan usia anaknya.

Hal-hal diatas seharusnya dilakukan secara repetisi (=berulang) dalam keseharian, tidak cukup sekali atau dua kali. Bahkan mencintai Rasul itu bukan sekadar diungkapkan, melainkan juga dipraktekkan dengan sikap dan perbuatan yang mencontoh Rasul, sehingga anak-anak kita akan menjadi anak yang saleh/salehah.

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya“. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)].

Selasa, 17 September 2013

Alkohol di Tissue Pembersih Galon Air Minum?

tisu

Pertanyaan:

Ustadz yang terhormat, pada umumnya kita sudah terbiasa dengan mengkonsumsi air mineral dari aqua galon. Setiap kita akan menggunakannya tentu di sekitar tutup botolnya dibersihkan dengantissue terlebih dahulu. Setelah saya cermati tissue pembersih tersebut mengandung cairan beraroma ethanol (alkohol). Saya kenal aroma tersebut karena sering menggunakannya di lab. tempat kerja saya. Nah, apabila di sekitar mulut botol yang dibersihkan itu masih tersisa butir-butir cairan (beralkohol) tersebut, dan pada saat membalikkan botol kemudian ikut terlarut dalam air mineral yang akan kita minum, maka bagaimana hukum meminum air mineral tersebut, padahal alkohol yang ikut terlarut sedikit? Mohon pula keterangan haditsnya. Terima kasih.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang masalah yang anda tanyakan ini cukup menggelitik rasa ingin tahu kita. Sebab umumnya orang berpandangan bahwa alkohol itu identik dengan minuman keras atau khamar. Maka bila sebagian dari alkohol itu bercampur dengan apa yang kita makan dan minum, dikesankan menjadi tidak halal.

Namun perlu anda cermati hal-hal berikut ini agar menjadi jelas persoalannya.

1. Bahwa para ulama tidak sepakat mengatakan bahwa alkohol itu identik dengan minuman keras atau khamar. Memang benar bahwa kebanyakan minuman keras itu mengandung alkohol. Namun bukan berarti segala zat makanan atau minuman yang di dalamnya terkandung alkohol boleh dikategorikan sebagai khamar.

Sebagai orang yang mengerti kimia, anda pasti tahu bahwa sesungguhnya alkohol itu secara alami terdapat di dalam sebagian jenis makanan. Misalnya di dalam tape dan beras ketan. Toh kita tidak akan mengatakan tape dan beras ketan itu khamar lantaran mengandung alkohol, bukan?

Jadi apalah artinya butir-butir sisa alkohol bekas membersihkan mulut botol galon, dibandingkan dengan kadar alkohol di dalam makanan kita?

2. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan LP-POM-nya telah menetapkan kehalalan jenis makanan atau obat-obatan yang mengandung alkohol, bila memang diperlukan. Misalnya untuk pelarut obat. Hanya saja kadar maksimalnya tidak boleh lebih dari%.

Kalau dibandingkan dengan butiran sisa alkohol di galon minuman anda, sudah pasti tidak akan melebihi 1% kan? Jadi kalau mau pinjam fatwa MUI, tetap masih aman.

3. Namun untuk menghindari rasa syak di hati, ada baiknya sebelum galon itu dipasang kembali, dibiarkan saja dulu selama beberapa saat agar butiran sisa alkohol menguap. Bukankah alkohol itu memang cepat menguap dalam waktu singkat? Jadi setelah kering, barulah anda pasang. Maka anda aman dari rasa ragu.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,