Rabu, 15 Januari 2014

27 Dampak Negatif Perbuatan Zina & 'Cabe-cabean'

cabe 

Zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Namun banyak kaum muda mudi dan pria hidung belang menghalalkan zina, kini istilah cabe-cabean menjadi istilah baru prostitusi remaja. 

Fenomena Cabe-cabean yang kependekan makna dari 'Cewe Alay Bahan Exxxan' memang sangatt memprihatinkan.

Sebenarnya ini menjadi peringatan bagi para orangtua agar mengawasi anak-anaknya dengan ketat seperti yang pernah diungkapkan Psikolog Lembaga Terapan Psikologi UI Muhammad Rizal Psi

"Kalau tahu anak keluar malam, awasi dia. Kenapa diperbolehkan? Kalau concern anak kita anak perempuan, harusnya lebih dijaga" imbuhnya.

Padahal dari dulu hingga kini zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela.

Sebagaimana Allah Azza wa jalla berfirman :

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا (٣٢)

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [al-Isrâ’/17: 32]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jalla berfirman :

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, [al-Furqân/ 25:68-69]

Dalam ayat ini, Allah Azza wa jalla menyebutkan perbuatan zina setelah perbuatan syirik dan setelah pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Allah Azza wa jalla. Ini menunjukkan betapa perbuatan zina itu sangatlah buruk.

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jallamenyebutkan sanksi bagi pelaku perbuatan nista ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢)

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:2]

Para ulama mengatakan : “ini sanksi bagi perempuan dan lelaki yang berzina apabila keduanya belum menikah. Sedangkan bila telah bersuami atau pernah menikah maka keduanya dirajam (dilempari) dengan batu hingga mati.

Dalam hadits yang shahih dinyatakan

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهْوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah orang yang berzina itu beriman saat dia melakukan perbuatan zina [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Dalam hadits lain dinyatakan:

مَنْ زَنَى وَشَرِبَ الْخَمْرَ نَزَعَ اللَّهُ مِنْهُ الإِيمَانَ كَمَا يَخْلَعُ الإِنْسَانُ الْقَمِيصَ مِنْ رَأْسِهِ .

Siapa yang berzina atau minum khamr maka Allah mencabut keimanan dari orang itu sebagaimana seorang manusia melepas bajunya dari arah kepalanya. [HR al-Hâkim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan as-Suyûthi memberi symbol sahih]

Zina yang terburuk adalah menzinahi ibunya sendiri, putrinya, saudari atau mahramnya yang lain. Dalam hadits dinyatakan:

مَنْ وَقَعَ عَلَى ذَاتِ مَحْرَمٍ فَاقْتُلُوهُ

Siapa yang menzinahi mahramnya maka bunuhlah! [HR al-Hâkim dan beliau shahihkan]

Berikut 27 Dampak Negatif Perbuatan Zina & Cabe-cabean:

1. Zina mengurangi agama seseorang

2. Zina menghilangkan sifat wara’

3. Zina merusak kehormatan dan harga diri

4. Zina mengurangi sifat cemburu

5. Pezina mendapatkan murka Allah Azza wa jalla.

6. Zina menghitamkan wajah dan menjadikannya gelap

7. Zina menggelapkan hati dan menghilang cahayanya

8. Zina mengakibatkan kefakiran yang terus menerus.

9. Zina menghilangkan kesucian pelakunya dan menjatuh nilainya dihadapan Rabbnya dan dihadapan manusia.

10. Zina mencopot sifat dan julukan terpuji seperti ‘iffah, baik, adil, amanah dari pelakunya serta menyematkan sifat cela seperti fajir, pengkhianat, fasiq dan pezina.

11. Pezina menyeburkan diri pada adzab di sebuah tungku api neraka yang bagian atasnya sempit dan bawahnya luas. Sebuah tempat yang pernah disaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiksa para pezina. [HR al-Bukhâri dalam shahihnya dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu].

12. Zina menghilangkan nama baik dan menggantinya dengan al khabîts, sebuah gelar yang sematkan buat para pezina

13. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kegelisahan hati buat para pezina

14. Zina menghilangkan kewibawaan. Wibawanya akan di cabut dari hati keluarga, teman-temannya dan yang lain

15. Manusia memandangnya sebagai pengkhianat. Tidak ada seorangpun yang bisa mempercayainya mengurusi anak dan istrinya

16. Allah Azza wa jallamemberikan rasa sumpek dan susah dihati pezina

17. Pezina telah menghilangkan kesempatan dirinya untuk mendapatkan kenikmatan bersama bidadari di tempat tinggal indah di syurga

18. Perbuatan zina mendorong pelakunya berani durhaka kepada kedua orang tua, memutus kekerabatan, bisnis haram, menzhalimi orang lain dan menelantarkan istri dan keluarga

19. Perbuatan zina dikelilingi oleh perbuatan maksiat lainnya. Jadi perbuatan nista ini tidak akan terealisasi kecuali dengan didahului, dibarengi dan diiringi beragam maksiat lainnya. Perbuatan keji menyebabkan keburukan dunia dan akherat

20. Pelaku zina wajib diberi sanksi; pezina yang belum menikah didera seratus kali dan diasingkan selama setahun dari daerahnya sedangkan pelaku yang pernah menikah atau masih berkeluarga dirajam (dilempari) batu sampai mati

21. Zina merusak nasab

22. Zina menghancurkan kehormatan dan harga diri orang

23. Zina menyebabkan tersebarnya waba penyakit berbahaya, tha’un (lepra) dan tersebarnya penyakit kelamin yang umumnya sulit diobati, minimal penyakit syphilis

24. Perbuatan zina membuka peluang bagi keluarganya untuk terjerumus dalam perbuatan serupa. Dalam pepatah dikatakan :

كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatanmu

25. Zina menyebab balasan amalan shalihnya hilang sehingga ia bangkrut pada hari kiamat.

26. Dihari kiamat pelaku zina akan dihadapkan pada orang yang istrinya dizinai untuk diambil pahala kebaikannya sesuka sang suami sehingga tidak tersisa kebaikan sedikitpun

27. Anggota tubuh seperti tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan lisan akan memberikan persaksian yang menyakitkan. Allah Azza wa jalla berfirman :

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٤)

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [an-Nûr/ 24:24].

Itulah diantara sekian banyak efek negatif dari perbuatan zina. Semua ini memberikan gambaran betapa buruk dampak perbuatan nista ini dan alangkah rendah moralitas pelakunya. Efek negatif perbuatan tak senonoh ini tidak hanya akan dirasakan oleh si pelaku tapi juga oleh sang anak yang tidak tahu-menahu. semoga Allah Azza wa jallamelindungi kami dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan keji ini.

(Diterjemahkan dari kutaib Khatarul Jarîmah al khuluqiyah, karya Syaikh Abdullah bin Jârullah bin Ibrâhîm al jârullâh & Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/Dzulhijjah 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta)

Masih Tetap Tak Mau Shalat?

tak_mau_shalat

Di Dunia

1.    Jika kamu tak mau shalat, Allah akan mencabut keberkahan dari umurmu.

2.    Jika kamu tak mau shalat, kegelapan selalu nampak di wajahmu.

3.    Jika kamu tak mau shalat, segala amal baikmu tak akan diganjar oleh Allah.

4.    Jika kamu tak mau shalat, doamu tak akan diangkat ke langit.

5.    Jika kamu tak mau shalat, doa-doa kebaikan orang untuk dirimu tak akan dikabulkan.

6.    Jika kamu tak mau shalat, seluruh makhluk di dunia ini murka kepadamu.

Saat Kematian

1.    Jika kamu tak mau shalat, kamu akan mati terhina.

2.    Jika kamu tak mau shalat, kamu akan mati dalam kondisi kelaparan.

3.    Jika kamu tak mau shalat, kamu akan mati dalam kondisi kehausan walaupun kamu diberi minum lautan dunia.

Di Alam Kubur

1.    Jika kamu tak mau shalat, kuburmu sempit sehingga meremukkan tulang belulangmu.

2.    Jika kamu tak mau shalat, kuburmu akan terbakar dan engkau berguling-guling di atas bara api siang dan malam.

3.    Jika kamu tak mau shalat, engkau akan ditemani 5 ekor ular besar yang selalu menyiksamu karena sebab meninggalkan shalat Shubuh sampai masuk shalat Dzuhur, ular-ular tersebut terus menyiksamu karena meninggalkan shalat Dzuhur sampai masuk shalat Ashar, dan seterusnya.

Pada Hari Kiamat

1.    Jika kamu tak mau shalat, mukamu akan disungkuran ke bara api neraka.

2.    Jika kamu tak mau shalat, Allah akan memandangmu dengan pandangan marah di waktu hisab sehingga daging-daging d wajahmu akan rontok berjatuhan.

3.    Jika kamu tak mau shalat, kamu akan dihisab dengan hisab yang keras dan Allah akan memerintahkanmu diseret ke neraka.

Jika demikian, apakah kamu masih tetap tak mau shalat?

Menjadi Pecinta Rasulullah Sejati

pecinta_nabi

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam termasuk ushul iman (pokok iman) yang bergandengan dengan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah telah menyebutkannya dalam satu ayat dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.

Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. Al-Taubah: 24)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa'di berkata dalam Tafsirnya Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Mannan, "Dan ayat yang mulia ini adalah dalil paling agung menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, mendahulukannya atas kecintaan segala sesuatu. Juga menunjukkan ancaman keras dan kebencian sangat atas orang yang lebih mencintai salah satu dari yang telah disebutkan daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya."

Kemudian Syaikh Sa'di menyebutkan tanda-tandanya, "Adalah apabila hadir padanya dua perkara yang bertentangan. Salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak disukai oleh jiwanya. Sementara yang lain disukai dan diinginkan oleh jiwanya. Tapi ia mengesampingkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Atau ia menguranginya. Maka jika ia mengutamakan apa yang disuka oleh nafsunya atas apa yang Allah cintai, hal itu menunjukkan bahwa ia berlaku zalim dan meninggalkan apa diwajibkan atasnya."

Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya. Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang mukmin.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Ibnu Baththal, makna hadits ini adalah orang yang sempurna imannya pasti tahu bahwa hak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lebih utama baginya daripada hak bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. Karena melalui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita terselamatkan dari neraka dan diselamatkan dari kesesatan.

. . . Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam . . .

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan  menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya.

Maka wajib mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas kecintaan kepada diri sendiri, anak, kerabat, keluarga, harta, dan tempat tinggal serta segala sesuatu yang sangat dicintai manusia.

Memang setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti sunnahnya), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena berittiba' kepada beliau merupakan tuntutan dari keyakinan bahwa beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau dijadikan sebagai suri teladan yang harus ditiru, dicontoh, dan diikuti dalam perjalann untuk ke surga.

Allah Ta'ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِر

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. al-Ahzab: 21)

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar mengambil setiap yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berikan dari urusan dien ini dan meningalkan apa yang beliau larang.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)

Hal tersebut karena beliau tidak berbicara tanpa bimbingan wahyu dan menuruti hawan nafsu, "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," QS. Al-Najm: 3-4)

Sehingga seorang pecinta Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan membenarkan setiap yang beliau beritakan, mentaati apa yang beliau perintahkan, meninggalkan apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.

Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)

Jujurnya orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan kecintaan dan ridha-Nya serta dimasukkan ke surga-Nya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua keadaannya, dalam semua perkataan dan perbuatannya, pada persoalan pokok agama dan cabang-cabangnya, dalam batin dan dzahirnya. Maka siapa yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu menunjukkan benarnya pengakuan cinta kepada Allah Ta'ala.

Al Qadli 'Iyadl rahimahullah, berkata: "Di antara bentuk cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup bersamanya, . . . "

. . . klaim cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari kelahiran beliau. . .

Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan, sebagai firman Allah Ta'ala:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku." (QS. Ali Imran: 31)

Karenanya klaim cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat diterima dengan sekedar memeringati hari kelahiran beliau, sementara perilakunya banyak menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunannya shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu Ta'ala A'lam.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/01/10/28588/menjadi-pecinta-rasulullah-sejati/#sthash.1i3jeHh3.dpuf

4 Sikap Saat Rizki Berkurang

sempit_rizki

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Sesungguhnya rizki ada di tangan Allah semata. Dia lapangkan dan menyempitkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki. Pastinya dengan hikmah dan keadilan-Nya. Maka betapun usaha dilakoni seseorang dalam mencari rizki, tidak diperolehnya kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Sebaliknya, betapa besar usaha orang untuk menghalangi sampainya rizki kepadanya maka rizki itu akan tetap diperolehnya sebagaimana tidak ada penghalangnya.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman." (QS. Al-Ruum: 37)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajari zikir sesudah shalat,

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ

"Ya Allah, tidak ada yang bisa mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam al-Thabrani meriwayatkan dalam al-Kabirnya, dari Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam beliau bersabda,

إن الرِّزق ليَطْلب العبد أكثر مما يطلبه أجَلُه

"Sesungguhnya rizki mencari hamba lebih banyak daripada ajal mencarinya." (Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami')

Sesungguhnya jatah rizki seperti jatah umur. Tidak akan habis, jika belum sampai habis ajal. Sehingga kita tidak akan terlalu bersedih dan berduka dalam kehidupan dunia ini. Walau harus tetap berusaha dengan mempercayakan kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rizki! Ketahuilah, sesungguhnya seorang jiwa tidak akan mati kecuali telah sempurna rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rizki. Ambil yang halal dan tinggalkan yang haram." (Disebutkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 2866)

Maka kewajiban hamba dalam rizki ini ada dua perkara: Pertama, mengusahakan sebab yang dibolehkan syariat untuk memperoleh rizki yang halal. Kedua, ridha dengan pembagian Allah kepadanya karena hakikat ketetapan Allah atas hamba mukmin adalah baik. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan urusan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik; ?dan itu tidak dimiliki kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kelapangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat kesulitan/kesusahan, ia bersyukur, maka itu baik baginya." (HR. Muslim)

Hakikat Kebahagiaan Hidup di Dunia

Perlu dipahami, hakikat kebahagiaan di dunia ini bukan semata dengan banyaknya harta. Sesungguhnya kebahagiaan itu dengan iman, qana'ah, dan ridha dengan pembagian Allah Ta'ala. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Nahl: 97)

Balasan Hayah Thayyibah berlaku pada kehidupan dunia. Bentuknya berupa tenangannya hati dan tentramnya jiwa serta tidak disibukkan dengan godaan-godaan yang memalingkan hatinya. Bentuk lainnya, Allah memberikan rizki yang halal lagi baik kepadanya dari jalan yang tak disangka-sangka.

Ali bin Abi Thalib menafsirkannya dengan qana'ah (merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah).

Al-Dhahak berkata, "Ia (hayah thayyibah) adalah rizki halal dan ibadah di dunia." Dalam perkataan beliau yang lain, "Ia adalah amal ketaatan dan senang dengannya." Namun yang benar menurut Ibnu Katsir, Hayah Thayyibah mencakup semua ini secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, "Sungguh beruntung orang yang telah masuk islam, diberi rizki yang cukup, dan diberikan rasa cukup (qana'ah) oleh Allah atas apa yang telah diberikan kepadanya." (HR. Muslim, al-Tirmidzi dan Ahmad)

. . . janganlah terlampau sedih dan berduka saat dunia berkurang. . .

Saat Rizki Berkurang

Sesungguhnya dunia di sisi Allah tidak memiliki nilai lebih. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah membuat permisalan, dunia lebih hina daripada bangkai anak kambing yang cacat. Dan jika dunia itu memiliki nilai di sisi Allah seberat sayap nyamuk niscaya orang kafir tidak akan diberi minum di dunia ini. (HR. Ibnu Majah)

Maka sesuatu yang hina tidaklah layak memalingkan kita dari akhirat dan mempersipakan bekal perjumpaan dengan Allah 'Azza wa Jalla. Saat ia berkurang atau hilang tidaklah boleh menjadikan kita kehilangan harapan kenikmatan yang abadi di surga. Maka janganlah terlampau sedih dan berduka saat dunia berkurang. Jangan putus asa dan merasa menjadi orang sengsara. Lihatlah orang lain yang taraf ekonominya di bawahmu -dan jangan pandang yang di atasmu-, niscaya kamu akan mendapati nikmat Allah ada padamu. Yakinlah, jika engkau sekarang fakir maka banyak orang yang hidupnya terbebani dengan hutang-hutang. Jika jumlah harta yang ada di tanganmu sedikit, maka ketahuilah bahwa ada orang selainmu yang kehilangan harta, kesehatan, dan anaknya. Ridhalah dengan takdir Allah dalam pembagian rizki ini. Ketahuilah, Allah hanya menghendaki kebaikan untukmu dalam takdir-Nya ini.

Saat mendapati hidup yang sempit dan kekurangan rizki ada beberapa sikap yang harus diambil: Pertama, menambah sifat qana'ah. Kedua, mengusahakan sebab rizki sambil bertawakkal kepada Allah Ta'ala. Ketiga, melaporkan kesusahannya kepada Allah dengan berdoa dan bersimpuh di hadapan-Nya dalam shalat, khususnya pada qiyamulail di sepertiga malam terakhir. Saat itu Allah turun ke langit dunia dan menawarkan kepada para hamba-Nya: Siapa yang mau berdoa kepada-Ku niscaya aku kabulkan doanya, Siapa yang meminta kepada-Ku siscaya aku beri permintaannya, siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscara Aku mengampuninya.

Allah 'Azza wa Jalla  berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaahaa: 132)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan riwayat yang menunjukkan bahwa shalat dalam ayat di atas adalah shalat malam. Kemudian beliau berkata, "Yakni apabila kamu tegakkan shalat maka rizki akan datang kepadamu dari jalan yang tak pernah kamu sangka-sangka."

. . . karunia Allah didapatkan dengan ketaatan dan suka berbuat baik kepada sesama . . . kemaksiatan dan sikap buruk kepada orang merupakan sebab kesulitan dan kesusahan. . . .

Keempat, meningkatkan taubat dan memperbanyak istighfar. Karena maksiat itu menjadi sebab sempitnya rizki dan datangnya kesulitan. Hal ini sebagaimana dikabarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Sesungguhnya seseorang diharamkan rizki disebabkan dosa yang dilakukannya." (HR. Ahmad dan selainnya)

Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)

Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)

Dalam hadits disebutkan, 

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Selanjutnya isi kehidupan dengan ketaatan dan kebaikan. Sesungguhnya karunia Allah didapatkan dengan ketaatan dan suka berbuat baik kepada sesama. Sebaliknya kemaksiatan dan sikap buruk kepada orang merupakan sebab kesulitan dan kesusahan. Karena sesunggguhnya balasan sesuai dengan jenis amal. Wallahu Ta'ala A'lam.

13 Resep Mengobati Marah

Resep-Marah

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Marah adalah penyakit kronis mematikan. Jika dibiarkan berkembang dalam diri maka akan menimbulkan berbagai kerusakan dalam kehidupan muslim secara pribadi, keluarga, persahabatan, dan kemasyarakatan. Karenanya seorang muslim harus serius mengobati penyakit tersebut dan menyingkirkan sifat suka marah-marah dari dirinya.

Berikut ini beberapa resep obat marah-marah yang ditunjukkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada umatnya:

Pertama, mengikuti wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada seseorang yang suka marah-marah, “Janganlah engkau marah.” Maka mengantisipasi dan mencegah diri untuk marah itu lebih utama daripada sudah marah-marah dan berusaha memperbaiki kondisi yang sudah memburuk.

Kedua, mengetahui karunia Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang menahan amarah dan menyembunyikannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba meneguk sesuatu yang lebih utama di sisi Allah daripada kemarahan yang disembunyikannya untuk mengharap wajah Allah Tabaraka wa Ta’ala.” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, menyadari bahwa marah tiu berasal dari Syetan. Sedangkan syetan berusaha menjerumusan manusia ke dalam kehancuran. “Marah itu dari Syetan,” demikian bunyi sebuah hadits.

...“Barangsiapa yang menahan marah padahal ia manpu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan semua makluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya memilih bidadari sesuai yang ia inginkan.”...

Keempat, Berharap janji Allah Azza Wa Jalla bagi orang yang menahan amarahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan marah padahal ia manpu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan semua makluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya memilih bidadari sesuai yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud dan dihassankan Syaikh Al-Albani)

Kelima, perpegang dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat marah. Yakni dengan merubah posisi saat marah agar lebih dekat dengan tanah, karena hal itu mampu merendahkan diri dan membuang kesombongan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ أَمَا رَأَيْتُمْ إِلَى حُمْرَةِ عَيْنَيْهِ وَانْتِفَاخِ أَوْدَاجِهِ فَمَنْ أَحَسَّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَلْصَقْ بِالْأَرْضِ

“Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat lehernya? Barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).”(HR. Ahmad & Al-Tirmidzi)

Keenam, Wudhu’. Pengamalan terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Marah itu dari Syetan. Ia dicipta dari api. Sesungguhnya api padam dengan air. Jika salah seorag kalain marah hendaknya ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud)

Ketujuh, Diam diri saat marah dan tahan lisan serta ikat ia erat-erat. “Apabila kamu marah maka diamlah, Apabila kamu marah maka diamlah, Apabila kamu marah maka diamlah.” (HR. Ahmad)

Kedelapan, membaca ta’awud (berlindung kepada Allah dari syetan terkutuk) karena syetan penyebab musibah,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Dari Salman Ibnu Shard Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Ada dua orang saling memaki (adu mulut) di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, salah seorang dari keduanya memerah matanya dan menegang urat lehernya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh aku tahu ada satu kalimat kalau ia ucapkan maka akan hilang apa yg ada padanya: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ “A’udzu Billahi Minasy Syarithanir Rajiim (Aku berlindung kepada Allah dari syetan terkutuk).” (HR. Bukhari & Muslim)

Kesembilan, dzikrullah di mana saja, khususnya ketika kondisi marah.

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201)

Kesepuluh, sadari bahwa saat kamu menahan amarah maka derajatmu lebih tinggi dari selainmu. Ini berdasarkan hadits yang menerangkan tentang orang yang kuat di atas. Ini juga dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Al-Syuura: 43)

...saat kamu dalam keadaan marah maka kamu telah berbuat zalim dan memusuhi sehingga kamu berdosa. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya.”...

Kesebelas, sadari bahwa saat kamu dalam keadaan marah maka kamu telah berbuat zalim dan memusuhi sehingga kamu berdosa. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Keduabelas, Bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza Wa Jalla dengan berakhlak mulia terhadap kaum mukminin dan tidak menyakiti mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya dengan akhlak mulianya akan mendapatkan derajat orang berpuasa dan shalat malam.” (HR. Abu Dawud)

Ketigabelas, memahami dampak buruk marah. Karena sepuluh ribu seseorang harus kehilangan nyawa karena sebab marah. Karena emosi seseorang berpisah dari istrinya sehingga anak-anak menanggung derita. Sebab marah kawan menjadi musuh, dakwah berantakan, dan sebagainya.

Penutup

Secara umum suka marah-marah tercela. Namun ada juga marah yg terpuji, yakni jika dilakukan karena Allah dan dalam bingkai syariat Allah. Seperti marah jika keharaman-keharaman Allah dilanggar, perintah-Nya ditelantarkan, kemaksiatan terang-terangan, dan semisalnya. Inilah yg dipraktekkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam catatan marahnya, “Rasulullah tidak pernah memuul seseorang dengan tangannya; baik istri maypun pambantunya. Kecuali saat belau berjihad di jalan Allah. Beliau tak pernah disakiti lalu membalas pelakunya kecuali jika ada larangan Allah Ta’ala yang dilanggar, maka beliau marah karena Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)

Semoga Allah memelihara kita dari akhlak tercea berupa suka marah-marah. Menganugerahkan kepada kita kelembutan dan kasih sayang, suka memamaafkan dan membalas keburukan orang dengan kebaikan. Semoga dengan semua ini Allah senantiasa merahmati kita. Amiin.

Shalat Musafir di Belakang Muqim

shalat_safar

Oleh: Badrul Tamam

Menjelang akhir tahun banyak masyarakat Indinesia yang melakukan liburan ke luar kota atau pulang kampung. Tak terkecuali orang muslim. Saat diperjalanan ada keringanan atas mereka untuk menjama’ dan mengashar shalat. Menjama’ shalat artinya mengerjakan dua shalat pada satu waktu, di waktu awal atau kedua. Ini berlaku pada shalat Dzuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’.

Adapun qashar adalah meringkas shalat dari yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Ini berlaku pada shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya’.

Mereka juga mendapat keringanan untuk tidak menghadiri shalat berjamaah di masjid. Namun jika mereka tetap ke masjid ikut mengikuti shalat berjamaah maka tak mengapa dan mendapatkan pahala shalat berjamaah.

Saat seorang musafir ikut shalat berjamaah di sebuah masjid bersama imam yang muqim (di tempat tinggalnya) maka ia harus mengikuti imamnya. Baik ia mendapatkan semua rakaat bersama imam atau hanya mendapatkan satu rakaat saja. Dan ia tidak diperkenankan mengambil rukhshah qashar dalam shalat yang empat rakaat.

Saat ia shalat berjamaah bersama imam yang muqim dalam shalat Dzuhur, Ashar, atau Isya’ ia harus shalat mengikuti imam dalam bilangan rakaatnya, empat rakaat. Ia tak boleh hanya shalat dua rakaat lalu duduk tahiyyat dan salam.

Ini didasarkan kepada dalil umum, bahwa imam itu untuk diikuti.

إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه

Sesugguhnya imam diangkat untuk diikkuti, maka janganlah kamu menyelisihinya.” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau bermukim di Makkah selama sepuluh hari dengan mengashar shalat. Kecuali jika shalat bersama jamaah, maka beliau mengikuti shalat mereka. (HR. Malik dan Abdurrazaq dengan sanad shahih –dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah: 2/176)

Dalam riwayat lain, “Apabila beliau shalat bersama imam, beliau shalat empat rakaat. Apabila beliau shalat sendirian, beliau shalat sendirian.” (HR. Muslim)

Dalam Musnad Ahmad, Ibnu Abbas pernah ditanya seseorang: Apabila kami shalat bersama kalian maka kami shalat empat rakaat? Dan apabila kami pulang ke kemah-kemah kami maka kami shalat dua rakaat.” Beliau menjawab: Itu adalah sunnah Abul Qasim (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Wallahu Ta’ala A’lam.

Nilai Kekhusyu'an dalam Shalat

khusyuk

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Saat shalat seorang hamba menghadapkan diri kepada Allah dan berada di hadapan-Nya. Haruslah ia menyempurnakan kondisinya itu. Jika ia bisa menjaganya dengan baik, maka keadaannya di akhirat –saat ia benar-benar di hadapan Allah secara langsung- juga akan baik.

Ibnul Qayyim berkata: seorang hamba di hadapan Allah memiliki dua kondisi: pertama, di dunia. Kedua di akhirat. Jika yang pertama itu baik [yakni saat ia shalat] maka akan baik dan indah pula yang akhirat. Jika yang di sini itu buruk dan terlalaikan maka yang di akhirat akan mengikutinya.

Tersebarnya kemaksiatan, terbukanya dunia, dan maraknya unsur-unsur perusak hati di zaman kita hampir-hampir mematikan kekhusu’an saat shalat. Sehingga berat rasanya mata ini menangis karena membaca ayat-ayat Allah atau mendengarnya. Amat jarang kita saksikan satu jamaah shalat larut dalam tangis kekhusyu’an. Bahkan jika ada imam yang menangis karena penghayatan bacaannya, dianggap aneh dan risih. Sehingga hal ini –seolah- membenarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Yang pertama kali akan diangkat dari manusia adalah kekhusyu’an.” (Dishahihkan Al-Albani)

Abu Darda pernah berkata kepada Jubair bin Nafir: kalau kau mau, aku akan smapaikan kepadamu perihal ilmu yang pertama diangkat dari manusia: khusyu’. Hampir-hampir engkau masuk masjid jami’ tak engkau dapati di dalamnya ada orang yang khusyu’.

Sesungguhnya khusyu’ adalah bagian dari ruh shalat. Bahkan menjadi pilar utama dan batu pondasinya. Karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَسْرَقُ النَّاسِ الّذِي يَسْرقُ صَلَاتَهُ

“Pencuri paling buruk adalah yang mencuri shalatnya.” Ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulallah, bagaimana ia mencuri shalatnya? Beliau menjawab: ia tak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan orang paling pelit adalah orang yang pelit dengan salam.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani)

Orang yang mengorupsi shalat dengan tidak menjaga kekhusyu’annya akan akan mendapatkan ancaman yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melihat kepada shalat hamba yang tidak menegakkan tulang rusuknya antara rukuk dan sujudnya.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani)

Selayaknya hati kita takut dengan ancaman ini. Apalagi kalau ditambahkan dengan hadits lain, “Sesungguhnya ada seseorang shalat selama 60 tahun namun tak satupun shalatnya diterima. Boleh jadi ia menyempurnakan rukuknya namun tak sempurnakan sujudnya. Ia sempurnakan sujudnya namun tak sempurnakan rukuknya. (Dihassankan Al-Albani)

Pernah suatu hari Bilal bin Rabbah Radhiyallhu ‘Anhu melihat laki-laki yang tak sempurnakan rukuk dan sujudnya. Kemudian beliau berkata: kalau orang ini mati niscaya ia mati bukan di atas ajaran agama Muhammad.

Karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada orang yang buruk shalatnya setelah ia mengukanginya tiga kali: “Kemudian rukuknya sehingga engkau thama’ninah rukuk, lalu angkat badanmu sehingga engkau tegak berdiri, lalu sujudlah sehingga engkau thama’ninah sujud, lalu angkat badanmu sehingga engkau sempurna duduk.”

Ini adalah shalat satu sebab yang menghilangkan kekhusyu’an, yakni tidak thama’ninah (tanek) dalam shalat.  Belum lagi berpalingnya hati dan memikirkan sesuatu di luar shalat. Ada yang saat masuk shalat teringat mobilnya, rumahnya, agenda kerjanya, dagangannya, bahkan lauk makan malamnya. Sehingga mewujudkannya perlu usaha keras dari kita.

Keadaan Ulama Salaf

Kekhusyu’an hati para ulama salaf sudah terlihat saat mereka mengambil air wudhu’. Hati mereka sudah sangat siap untuk menghadap Allah dan bersimpuh di hadapannya. Adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallhu ‘Anhu wajahnya terlihat pucat dan badannya gemetar sehabis berwudhu. Ditanyakan kepada beliau tentang kondisinya. Beliau menjawab, “Datang waktu amanat –shalat- yang pernah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan sekarang aku mengembannya.”

Apabila Zainal Abidin Ali bin Husain Radhiyallhu ‘Anhum berdiri shalat maka badannya terlihat gemetar. Ditanyakan kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, “Tahukan kalian di depan siapa aku berdiri?”

Karenanya, Ibnu Abbas Radhiyallhu ‘Anhu berkata tentang firman Allah, “(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” beliau berkata: Mereka takut dan diam dengan tenang.

Adalah Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallhu ‘Anhu, orang terbaik dari umat ini setelah Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apabila mulai shalat sebagai imam maka tak jelas bacaannya karena banyaknya menangis. Beliau adalah laki-laki yang banyak menangis yang tak kuasa nahan air matanya saat membaca Al-Qur’an.

Dalam keterangan lain, Umar bin Khathab pernah menangis sampai bercucuran air matanya saat membaca surat Yusuf pada shalat Shubuh.

Bagaimana Mencapai Kekhusyu’an

Banyak tips dan kiat mencapai kekhusu’an dalam shalat yang telah ditulis para ulama. Di antaranya:

  1. Berangkat shalat lebih awal. Ini diawali dengan menyempurnakan wudhu. Berjalan dengan tenang. Mengerjakan shalat sunnah qabliyah dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an.
  2. Menjauhi tempat yang bisa menyibukkan diri dari shalat, seperti tempat yang ada lukisan dan banyak hiasannya, serta selainnya.
  3. Banyak mengingat kematian sebelum shalat dan keadaan di alam kubur serta saat dibangkitkan kelak. Termasuk di dalamnya mengingat saat-saat dibagikan kitab catatan amal, ditimbang segala amalnya, menyeberangi shirath. Semua ini bisa membantu membangkitkan kekhusu’an dan memperbagus shalat.
  4. Membersihkan hati dari kotorannya berupa iri, dengki, sombong, berlaku curang, dan segala kemaksiatan.
  5. Memahami bacaan shalat, baik yang dari Al-Qur’an dan doa-doa dari Sunnah.
  6. Mengarahkan pandangan ke tempat sujud, dan tidak menengadahkannya ke langit dan tidak pula melirik kanan-kiri.

Penutup

Masih banyak tips dan kiat khusu’ lainnya. Tidak terbatas pada yang disbeutkan di atas. Sebagiannya berupa anjuran. Sebagian lainnya larangan. Bagi kita semaksimal mungkin mengusahakan kekhusu’an. Karena nilai shalat kita ditentukan olehnya.

Tiga Larangan Menggunakan Tangan Kanan Dalam Buang Hajat

tangan_kanan_01

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Islam mengatur semua urusan manusia sampaipun masalah buang hajat. Islam mengajarkan adab-adab tentangnya. Tujuannya, memuliakan manusia agar nampak bedanya dari binatang yang tak memiliki aturan saat buang hajatnya. Di antara hikmahnya, agar aktifitasnya tersebut bernilai ibadah dan berpahala dengan menjaga adab-adab tersebut.

Adab-adab buang hajat ada yang berkaitan dengan perkataan dan ada yang berkaitan dengan perbuatan. Di antara adab yang berkaitan dengan perbuatan adalah larangan menggunakan tangan kanan saat buang hajat. Ada tiga larangan berkaitan dengannya. Pertama, memegang kemaluan dengan tangan kanan. Kedua, membersihkan atau menghilangkan najis yang mengenai tubuh. Ketiga, bercebok atau istinja’.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ

Janganlah sekali-kali salah seorang kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya saat sedang kencing, jangan pula membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan, dan juga jangan bernafas dalam tempat air.” (Muttafaq Alaihi; dan lafadznya milik Muslim)

Dari Salman Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:

لَقَدْ نَهَانَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم "أَنْ نَسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ

Sungguh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil; atau ber-istinja' (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan, atau beristinja' dengan batu kurang dari tiga biji, atau beristinja' dengan kotoran hewan atau dengan tulang.” (Muslim)

Hadits pertama –berkaitan dengan tangan kanan- menerangkan 2 larangan. Pertama, larangan memegangi kemaluan dengan tangan saat buang air kecil (kencing). larangan ini juga berlaku atas wanita, ia tak boleh memegang /menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan. Berarti, dibolehkan memegangnya dengan tangan kiri.

Kedua, larangan membersihkan najis (kotoran) yang mengenai (mpeleper,-dalam bahasa jawa-) ke anggota tubuh, seperti paha, betis, dan lainnya. Syaikh Abdullah Al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam menyebutkan salah satu faidah dari hadits pertama, “wajibnya menjauhi barang-barang najis, apabila terpaksa menyentuhnya maka hendaknya menggunakan tangan kiri.”

Sementara hadits kedua –berkaitan dengan tangan kanan- menerangkan satu larangan, yaitu larangan istinja’ (cebok) dengan menggunakan tangan kanan. Sebaliknya, cebok itu dengan menggunakan tangan kiri. Ini juga berlaku pada istijmar (cebok dengan menggunakan batu), maka tangan yang memegang batu dan bekerja membersihkannya adalah yang kiri.

Semua ini menunjukkan pemuliaan terhadap tangan kanan atas tangan kiri. Dalam perkara-perkara yang baik didahulukan tangan kanan, seperti menyisir rambut, memakai baju, memakai sandal, dan selainnya. Sebaliknya, dalam urusan yang berkaitan dengan kotoran atau sesuatu yang menjijikkan digunakan atau didahulukan tangan kiri. Inilah ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam urusan pembagian tugas tangan kanan dan tangan kiri. Sedangkan orang beriman, apabila diseru kepada aturan Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya mengucapkan Sami’naa wa Atha’naa (kami mendengar dan kami taat). Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/ibadah/2013/11/21/27698/tiga-larangan-menggunakan-tangan-kanan-dalam-buang-hajat/#sthash.dR8BDG3O.dpuf