Selasa, 29 April 2014

Ibunda, Maafkan Aku yang Belum Memuliakanmu

ibu

Untukmu, Duhai bunga yang tak pernah layu
Untukmu yang telah mengusap air mataku
Untukmu yang  telah membasuh kotoranku
Yang telah menyuapkan makan dan minum dengan tanganmu ke mulutku
Untukmu yang menjadikan haribaan sebagai ketenangan bagiku
Betapa letihnya engkau ibu…

Ya Umma..
Wahai ibu…
Pintu mana lagi yang bisa terbuka untukku  jika seandainya pintumu telah tertutup?
Wahai ibu..
Siapa pula yang dapat mendekatkan dirinya kepadaku jika seandainya selain engkau
Wahai ibu..
Siapa pula yang akan menyayangiku jika seandainya engkau telah murka kepadaku?

Jika engkau kehilangan ibumu..
kehilangan ayahmu..
Bisakah engkau mendapatkan gantinya?
Kemanakah engkau mencari gantinya?

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di berkata,

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Amal apakah yang paling utama?’ Nabi menjawab, ’Shalat pada waktunya’. Ia berkata,”Aku bertanya, ’kemudian apa?’, Beliau menjawab, ’Berbakti kepada kedua orang tua…’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudahkah Kita Memuliakan Mereka?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,”Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”, beliau menjawab, ”Ibumu!”, ia kembali bertanya,”Kemudian siapa lagi?, Nabi menjawab,”Ibumu!”, “Kemudian siapa lagi?,” Nabi menjawab,”Ibumu!”, orang tersebut bertanya kembali, ”Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, ”Bapakmu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu,kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat.” (Hadits hasan, riwayat Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)

Ibu, dialah yang mengurus kita mulai dari kandungan dengan beban yang dirasakannya sangat berat dan susah payah..

Dialah yang melahirkan kita dengan mempertaruhkan jiwanya antar hidup dan mati.

Dialah yang menyusui  ketika kita telah lahir, kemudian yang membersihkan kotoran kita ketika kita buang air.

Semuanya dilakukan oleh ibu kita, bukan orang lain.

Ibu yang selalu menjaga ketika kita terjaga dan menangis, baik di waktu pagi, siang ataupun malam hari.

Apabila kita sakit, tidaklah yang pertama menangis kecuali ibu kita, sehingga kalaulah ditawarkan antara hidup atau mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap hidup! Inilah jasa seorang ibu terhadap anaknya..

Carilah Surga dengan Berbakti kepada Mereka

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه

Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, dia mengatakan, hadits ini shahih)

Teladan  Akhlak  dari Para Salaf

Terdapat kisah dari Abu Burdah bahwasanya Ibnu Umar melihat seorang pria dari Yaman thawaf di ka’bah sambil menggendong ibunya di belakang punggungnya seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah onta ibuku yang tunduk. Jika ia takut untuk menungganginya aku tidak takut (untuk ditunggangi)”, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah menurutmu aku telah membalas jasa ibuku?”, Ibnu Umar berkata, “Tidak, bahkan engkau tidak bisa membalas jasa karena keluarnya satu tetes cairan tatkala melahirkan”, kemudian Ibnu Umar menuju maqam Ibrahim dan shalat dua rakaat lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa sesungguhnya setiap dua rakaat menebus dosa-dosa sebelumnya.”

Lihatlah pemuda dari yaman ini yang telah bersusah payah memikul ibunya untuk berbakti kepada ibunya tatkala thawaf demi membalas kebaikan ibunya namun seluruh keletihan itu tidaklah menyamai setetes air yang keluar tatkala ibunya melahirkan. Lihatlah saudariku.. betapa tinggi dan agungnya hak orangtua atas anaknya.

Dikisahkan bahwasanya Kihmis bin Al-Hasan At-Tamimi hendak membunuh kalajengking namun kalajengking tersebut masuk ke dalam lubangnya, maka beliaupun memasukan jari beliau ke dalam lubang tersebut dari belakang kalajengking, sehingga kalajengking itu menyengatnya. Ketika dia ditanya, mengapa ia melakukan hal itu?, Dia menjawab, “Aku khawatir kalajengking itu keluar dari lubangnya kemudian menyengat ibuku.”

Al-Ma’mun berkata, “Aku tidak melihat ada orang berbakti kepada ayahnya sebagaimana berbaktinya Al-Fadhl bin Yahya kepada ayahnya. Yahya (ayah Fadhl) adalah orang yang tidak bisa berwudhu kecuali dengan air hangat.

Pada suatu waktu Yahya dipenjara maka penjaga penjara melarangnya untuk memasukan kayu bakar di malam yang dingin, maka tatkala Yahya hendak tidur Al-Fadhl pun mengambil qumqum (yaitu tempat air dari tembaga yang atasnya sempit, semacam kendi kecil) lalu ia penuhi dengan air kemudian ia dekatkan dengan lampu sambil berdiri. Ia terus berdiri sambil memegang qumqum hingga subuh.” Kemudian para petugas penjara pun mengetahui apa yang diperbuat oleh Al-Fadhl maka merekapun melarang Al-Fadhl untuk mendekati lampu. pada malam berikutnya Al-Fadhl mengambil qumqum yang penuh dengan air kemudian ia membawanya tatkala ia hendak tidur, ia memasukannya diantara bantal-bantal hingga subuh sehingga airnyapun hangat.”

Dari Musa bin ‘Uqbah berkata, “Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Ali bin Abi Thalib) tidak pernah makan bersama ibunya padahal ia adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya. Ketika ditanya, apa alasan dia melakukan hal itu, jawabnya, “Aku takut jika aku makan bersama ibuku, lantas matanya memandang pada suatu makanan dan aku tidak tahu arah pandangannya tersebut, lalu aku memakan makanan yang dipandangnya itu maka aku telah durhaka kepadanya”

Subhaanallah.. Inilah beberapa kisah salaf yang sangat menjunjung tinggi bakti terhadap ayah dan ibu mereka.

Saudariku.. Selama ibu dan ayah kita masih diberi waktu untuk menemani kita, ayo  maksimalkan diri dalam memuliakannya! Segera hampiri mereka, bantu pekerjaan mereka, berucap dengan lemah lembut terhadapnya, patuhi perintahnya, jagalah hatinya dan jangan lupa selalu do’akan mereka.

“Wahai Rabb-ku, Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu masih kecil”

MASBULOH? Masalah Buat LoH..!!??

masbuloh_voa_2

Pernah ga sih denger kata itu sebelumnya? Pasti udah ga asing lagi kan? Pernah suatu hari aku sedang berjalan di gang rumahku, ada beberapa anak kecil lagi main, tiba-tiba salah satunya dengan bangga dan ngerasa paling keren berteriak ?MASBULO??haha. Di lain hari aku seangkot sama beberapa anak smp yang baru pulang dari sekolahnya. Ga jauh-jauh yang cewek lagi pada ngomongin temen-temen cowoknya, mereka berkali-kali berucap ?MASBULO?? Lebih parah lagi di rumah, sebuah keluarga anak-anaknya lagi nonton di depan televisi. Kemudian datang sang Ibu mengomel tentang mainan mereka yang berserakan. Dan anak-anak itu menjawab dengan kompak sambil niru gaya salah satu artis yang suka nyanyi jawa ?MASBULO??

Kayaknya saking populernya itu ungkapan udah nyaingin jargonnya Syahrini yang suka bilang ?sesuatu??. Tapi pernah ga sih kepikiran ada apa di balik ungkapan itu? Efek apa aja yang mungkin secara ga sadar dialami sama masyarakat yang latah sama ungkapan masubuloh ini? Terus apa kira-kira yang bisa nangkalnya?

Nah, kawan muda ternyata ungkapan tersebut banyak ngedatangin efek negatifnya. Salahsatunya mendidik masyarakat bwat ga peduli sama sesama, jadi kurang sensitif dan cenderung egois. Kita jadi ngerasa hal yang biasa kalo nuntut hak dibanding ngelaksanain kewajibannya dulu. Ga pengen tahu kesusahan orang lain yang penting diri sendiri bahagia. Dan lebih bahaya lagi, kita jadi ga mau dikasih kritik karena ngerasa gimanapun gue ga da sangkutannya ma elo.

Padahal dalam Islam diajarkan supaya saling menyayangi, mengingatkan kalo da saudara yang salah dan mau membaca keadaan sekitar (sensitive ma masalah social). Ga percaya? Coba simak ayat dan hadits-hadits ini:

?Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah?. (QS Luqman:17)

?Tidak lah sempurna iman seseorang dari kalian,sehingga dia mencintai saudaranya(sesama islam) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri ??. (HR. Bukhari)

?Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam maka dia bukan umatku (Umat Nabi Muhammad SAW)?. (HR. Muslim)

So, sobat smart teen masih pada mau bilang ?MASBULO alias Masalah buat Lo? ni padahal lagi da saudaranya yang kesusahan butuh bantuan dan butuh yang ngingetin mereka dalam kebaikan??? [PurWD/voa-islam.com]

?

*) Penulis Fahmi Rahmina: Mahasiswa Hubungan Internasional Fisip Unpas dan Ketua Keputrian DKM Ulul Abshor Unpas.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2014/04/28/30054/masbuloh-masalah-buat-loh/#sthash.DGQPhL81.dpuf

Sabtu, 05 April 2014

Pembelajaran dari Seekor Burung (Tawakkal dalam Mengais Rezeki)

belajar dari burung

Oleh: Nuri Nawan

"Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).

Ternyata ada beberapa sifat dan sikap yang dilakukan oleh burung dalam mencari makanannya, yaitu:

1.     Burung selalu bangun pagi

Tidak ada burung yang bangunnya kesiangan, kecuali burung sakit, atau burung malam (burung hantu). Namun jika dilihat secara umum, burung selalu bangun pagi. Ia bangun dengan penuh optimisme, riang dan gembira tanpa ada rasa khawatir sedikitpun akan makan apa hari ini, tidak pernah khawatir akan rizki yang pasti sudah disiapkan oleh Alloh. Bahkan di celah persiapannya, dia sambil sibuk bernyanyi dan membangunkan manusia, seolah dia menunjukkan kepada kita akan rizki Alloh yang selalu siap kita jemput. Seolah ia menunjukkan kepada kita bagaimana ia bertasbih kepada Alloh, melalui kicauannya.

Contohlah burung saat ia bangun pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk bersyukur, memuji Alloh yang Maha Pemurah, dan bertasbih kepada Alloh melalui nyanyiannya. Kita diberi infrastruktur jauh lebih istimewa daripada  burung, mari kita gunakan waktu kita untuk bangun pagi, bersyukur, bertasbih dan bermunajat kepada Alloh, seperti yang dilakukan oleh burung.

2.     Burung berusaha berdiri, persiapan. sblm terbang

Dalam usaha mencari rizki, kita juga harus melakukan “pemanasan”, persiapan fisik maupun mental, maupun fikiran guna kesempurnaan ikhtiar kita.

3.     Burung terbang dan  mengepakkan sayap melawan gravitasi  bumi.

Dalam usaha mencari rizki, jarang sekali tanpa hambatan ataupun kesulitan yang kita hadapi, seperti burung saat terbang dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan grafitasi bumi, agar tidak terjatuh.

Seperti kita, di setiap usaha ada saja penolakan, kelelahan, kesulitan, kebuntuan berfikir yang kadang kita temui, namun yakinlah, bahwa semua itu akan membuat kita menjadi lebih taft, lebih tangguh, lebih ahli di kemudian hari, seperti otot-otot sayap burung, karena setiap hari melawan kuatnya gravitasi bumi, dia akan menjadi lebih kuat dan kuat lagi, hingga jika dalam cuaca ekstrim sekalipun, dia telah terbiasa. Jika kita telah terbiasa dengan “ hujan badai “ sulitnya mencari rizki, maka disaat ada cuaca normal, semua kondisi wajar, kita akan dengan mudah menaklukkan tantangan kehidupan tersebut.

4.    Saat terbang selalu yakin dan tak pernah ragu

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)

Saat kita telah berdo’a, dan bertawakkal kepada Alloh, maka jangan pernah ragukan hasilnya, karena yakinlah, Alloh telah mempersiapkan rizki untuk kita. Burung tak pernah ragu saat terbang, dia selalu yakin bahwa, disana ada harapan, yang telah dipersiapkan oleh Alloh.

5.    Terbang dgn insting, ke tempat yang rimbun dan subur

Dalam usaha mencari rizki, diperlukan “ilmu” yang relevan, guna menunjang kesempurnaan ikhtiar. Jikalau burung hanya dibekali insting oleh Alloh, untuk mencari tempat-tempat yang rimbun dan subur makanan, maka kita diberi panca indra dan akal pikiran yang luar biasa oleh Alloh, yang bisa kita gunakan untuk menganalisa dimana tempat-tempat yang subur dan rimbun akan rizkia Alloh

6.    Setelah makan, dia bawa pulang sebagian rizkinya

Saat mencari rizki, jangan pernah lupakan beban amanah keluarga, anak istri yang selalu menanti hasil ikhtiar yang kita lakukan

7.    Jika mengambil makanan, burung tidak pernah merusak

Saat mengambil makanan, burung selalu dengan cara yang indah dan santun, tidak pernah ia melakukan perusakan dalam proses pencarian makanan, bahkan ada beberapa jenis burung yang membantu proses pembuahan beberapa tanaman.

Malu rasanya, jika kita dalam proses mencari rizki kita, harus merugikan orang, harus merusak hak-hak orang, harus menyakiti dan mengecewakan orang lain.

“ Barang siapa yg merasa lelah di sore hari karena mencari rizki dgn tangannya, maka akan diampuni dosa dosanya.” (HR Tabroni)

Penulis adalah Direktur Operasional Tazkia Book Network