Selasa, 30 Juli 2013

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

lailatul-qadar

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah dan tercurah kepada manusia pilihan, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Lailatul Qadar adalah malam yang agung. Malam penuh kemuliaan. Ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Siapa yang mendapatkan kemuliaannya sungguh ia manusia beruntung dan dirahmati. Sebaliknya, siapa yang luput dari kebaikan di dalamnya, sungguh ia termasuk manusia buntung dan merugi.

Kemuliaan Lailatul Qadar yang penuh keberkahan dapat dilihat dari pilihan Allah terhadapnya untuk menurunkan kitab terbaik-Nya dan syariat agama-Nya yang paling mulia. AllahSubhanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadar: 1-5)

Sesungguhnya Lailatul Qadar tidak seperti malam-malam selainnya. Pahala amal shalih di dalamnya sangat besar. Maka siapa yang diharamkan mendapatkan pahalanya, sungguh  ia tidak mendapatkan kebaikan malam itu. Oleh karenanya, sudah sewajarnya seorang muslim menghidupkan malam tersebut dengan bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara maksimal. Dan menghidupkannya harus didasarkan kepada iman dan berharap pahala kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan dalam hadits shahih:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam redaksi lain,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan tentang waktu turunnya Lailatul Qadar tersebut. Beliau bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَان

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan." (Muttafaq 'alaih)

Lalu beliau menjelaskan lebih rinci lagi tentang waktunya dalam sabdanya,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan." (HR. Al-Bukhari)

Yaitu malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan secara hakiki. Yakni malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Lalu sebagian ulama merajihkan (menguatkan), Lailatul Qadar berpiindah-pindah dari dari satu malam ke malam ganjil lainnya pada setiap tahunnya. Lailatul Qadar tidak melulu pada satu malam tertentu pada setiap tahunnya.

Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: "Ini adalah yang zahir dan terpilih karena bertentangan di antara hadits-hadits shahih dalam masalah itu. tidak ada jalan untuk menjama'(mengompromikan) di antara dalil-dalil tersebut kecuali dengan intiqal (berpindah-pindah)-nya."

Syaikh Abu Malik Kamal dalam Shahih Fiqih Sunnah memberikan catatan terhadap pendapat-pendapat tentang Lailatul Qadar di atas, "Yang jelas, menurutku, Lailatul Qadar terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir dan berpindah-pindah di malam-malam tersebut. Ia tidak khusus hanya pada malam ke 27 saja. Adapun yang disebutkan oleh Ubay, Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 27, ini terjadi dalam suatu tahun dan bukan berarti terjadi pada semua tahun. Buktinya, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mendapatinya pada malam ke 21, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa'idRadhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallamberkhutbah kepada mereka seraya mengatakan:

إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ

"Sungguh aku telah diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian terlupakan olehku. Oleh sebab itu, carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur."

Abu Sa'id berkata: "Hujan turun pada malam ke 21, hingga air mengalir menerpa tempat shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Seusai shalat aku melihat wajah beliau basah terkena lumpur. (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

Demikian kumpulan hadits yang menyinggung tentang masalah Lailatul Qadar. Wallahu A'lam." (Selesai ulasan dari Shahih Fiqih Sunnah: III/202-203)

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ithaf al-Kiram(Ta'liq atas Bulughul Maram) hal 197, mengatakan, "Pendapat yang paling rajih dan paling kuat dalilnya adalah ia berada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Ia bisa berpindah-pindah, terkadang di malam ke 21, terkadang pada malam ke 23, terkadang pada malam ke 25, terkadang pada malam ke 27, dan terkadang pada malam ke 29. Adapun penetapan terhadap beberapa malam secara pasti, sebagaimana yang terdapat dalam hadits ini (hadits Mu'awiyah bin Abi Sufyan), ia di malam ke 27, dan sebagaimana dalam beberapa hadits lain, ia berada di malam 21 dan 23, maka itu pada tahun tertentu, tidak pada setiap tahun. Tetapi perkiraan orang yang meyakininya itu berlaku selamanya, maka itu pendapat mereka sesuai dengan perkiraan mereka. Dan terjadi perbedaan pendapat yang banyak dalam penetapannya."

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Disebutkan juga oleh Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah bahwa Lailatul Qadar memiliki beberapa tanda-tanda yang mengiringinya dan tanda-tanda yang datang kemudian.

Tanda-tanda yang megiringi Lailatul Qadar:

  1. Kuatnya cahaya dan sinar pada malam itu, tanda ini ketika hadir tidak dirasakan kecuali oleh orang yang berada di daratan dan jauh dari cahaya.
  2. Thama'ninah (tenang), maksudnya ketenangan hati dan lapangnya dada seorang mukmin. Dia mendapatkan ketenanangan dan ketentraman serta lega dada pada malam itu lebih banyak dari yang didapatkannya pada malam-malam selainnya.
  3. Angin bertiup tenang, maksudnya tidak bertiup kencang dan gemuruh, bahkan udara pada malam itu terasa sejuk.
  4. Terkadang manusia bisa bermimpi melihat Allah pada malam itu sebagaimana yang dialami sebagian sahabat radliyallah 'anhum.
  5. Orang yang shalat mendapatkan kenikmatan yang lebih dalam shalatnya dibandingkan malam-malam selainnya.

Tanda-tanda yang mengikutinya:

Matahari akan terbit pada pagi harinya tidak membuat silau, sinarnya bersih tidak seperti hari-hari biasa. Hal itu ditunjukkan oleh hadits Ubai bin Ka'b radliyallah 'anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammengabarkan kepada kami: "Matahari terbit pada hari itu tidak membuat silau." (HR. Muslim)         

Penutup

Siapa yang merindukan Lailatul Qadar hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam sisa hari Ramadhan ini, khususnya di sepuluh hari terakhirnya. Semoga satu dari sepuluh malam terakhir yang kita hidupkan tersebut adalah Lailatul Qadar. Sehingga kita mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar. Selain itu, esungguhan ini adalah bentuk iqtida' (mengikuti dan mencontoh) Nabi MuhammadShallallahu 'Alaihi Wasallam. kita juga memperbanyak doa dan pengharapan kepada-Nya untuk kebaikan diri kita, keluarga, dan kaum muslimin secara keseluruhan. Amiin! [PurWD/voa-islam.com]

Minggu, 28 Juli 2013

Berapa Jumlah Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Mu'akkadah?

sholat sunnah

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakutuh

Ustadz, berapakah shalat sunnah rawatib dalam sehari? Dan kapan saja waktunya? Soalnya ada yang bilang sebelum Dzuhur 4 rakaat dan 2 rakaat, mana yang paling dianjurkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam?

Elang Agus

____________________________________________

Oleh: Badrul Tamam

Wa’alaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Shalat Sunnah Rawatib adalah sebutan untuk shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu, baik sebelumnya atau sesudahnya. Para ulama membaginya menjadi dua: Mu’akkadah (sangat ditekankan) dan Ghairu Mu’akkadah (tidak terlalu ditekankan).

Disebut mu’akkadah karena senantiasa dikerjakan RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam dan hampir-hampir beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan ini sepertinya yang dimaksud dalam pertanyaan.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya. Pendapat Syafi’iyah dan Hanabilah, jumlahnya sepuluh rakaat. Yakni dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat ba’da Maghrib, dua rakaat ba’da Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.

Pendapat ini didasarkan kepada hadits Ibnu UmarRadhiyallahu 'Anhuma, ia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ رَكَعَاتٍ : رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلصُّبْحِ

Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya' di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (Muttafaq ‘Alaih)

Sedangkan pendapat Hanafiah, jumlah rakaat shalat sunnah rawatib mu’akkadah sebanyak dua belas rakaat. Yakni empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat ba’da Maghrib, dua rakaat ba’da Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Ini didasarkan hadits ‘AisyahRadhiyallahu 'Anha, “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallamtidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur.” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan Ummu Habibah Radhiyallahu 'Anha berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda

مَنْ صَلَّى اِثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي اَلْجَنَّةِ

Barangsiapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim dan Al-Tirmidzi)

Dalam tambahan riwayat Tirmidzi ada hadits yang serupa dengan tambahan: “Empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya', dan dua rakaat sebelum Shubuh.” Maka silahkan Anda memilih dari dua pendapat di atas. Namun jika bisa mengerjakan yang dua belas rakaat itu lebih utama. Wallahu Ta’ala A’lam.

Sabtu, 27 Juli 2013

Mengenal rahasia buah kurma

P

Buah kurma, buah yang umumnya dikenal dari negeri Arab ini kini juga telah banyak digandrungi di nusantara dan negara-negara lainnya. Dunia medis membuktikan bahwa kurma memiliki banyak khasiat yang bermanfaat bagi tubuh. Khususnya di bulan Ramadhan ini, kurma biasanya diburu masyarakat untuk disajikan pada saat berbuka atau sahur. Tahukah anda bahwa kurma disebut-sebut sebagai makanan terbaik untuk yang berpuasa. Inilah istimewanya kurma:

Kurma makanan terbaik untuk yang berpuasa

kurma

Kurma mengandung unsur-unsur penting berupa vitamin mineral dan gula yang mudah diserap, dan membantu untuk mengurangi kelaparan dan memberi rasa kenyang dengan cepat, karena itulah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ

“Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa maka makanlah buah kurma karena ia mengandung keberkahan”. (HR. Abu Daud)..

Dan Inilah yang banyak direkomendasikan oleh para ilmuwan Nutrisi Hari ini. Subhanallah!

Kurma berfungsi untuk pengobatan kelebihan berat badan

kurma1

Berdasarkan pengalaman dan penelitian, menegaskan  bahwa fokus mengkonsumsi beberapa biji buah kurma rutin setiap hari dapat membantu tubuh dan otak dalam mengatur sekresi hormon lalu masuk akal manusia sehingga mengirimkan sinyal merasa selalu kenyang sehingga mengurangi jumlah makanan yang biasa dikonsumsi, maksudnya adalah bahwa setiap biji kurma membantu mengatur dan mengurangi berat badan. Dengan demikian, beberapa peneliti mengatakan bahwa kurma adalah makanan utama untuk pengobatan obesitas! Dari sini kita mengingat sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَجُوْعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ

“Tidak akan kelaparan rumah tangga seseorang yang memiliki kurma di dalamnya”. ( H.R Muslim).

Penyakit yang dapat disembuhkan oleh kurma (insya Allah)

Para peneliti saat ini menegaskan bahwa kurma adalah makanan yang sempurna untuk pengobatan lebih dari seratus penyakit, termasuk mengobati gangguan usus dan membantu usus untuk memfungsikan tugasnya secara efektif, begitu pula kurma mengandung komponen penting seperti mineral, garam dan vitamin dan mampu memberikan pengaruh terhadap fungsi otak dan tubuh yang hilang melalui unsur-unsur Makanan, dan yang demikian mampu menyebabkan stabilitas psikologis pada manusia. Ini berarti bahwa mengkonsumsi kurma setiap hari dan teratur akan mempengaruhi kondisi mental yang akan membuatnya lebih stabil, dan Subhanallah (Maha suci Allah) yang telah memberikan kepada kita makanan ini dan telah disebutkan dalam firmanNya:

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ (٣٤)لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلا يَشْكُرُونَ (٣٥)

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat Makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur? (Q.S Yasin:34-35)

Air dan Kurma

kurmawater

Para peneliti dalam ilmu gizi juga menegaskan bahwa untuk puasa yang efektif harus ditopang pada air dan gula alami, dan gula yang terdapat pada kurma merupakan salah satu gula terbaik di dunia. Dalam penelitian menunjukkan bahwa manusia yang mengkonsumsi air dan kurma untuk periode dua puluh hari atau tiga puluh hari, maka tubuhnya akan terhindar dari berbagai racun yang terakumulasi dan vitalitasnya jauh lebih baik dari sebelumnya! Sebelum ada penelitian tersebut, Nabi shalallahu’alaihi wa sallam telah menegaskan kaidah ini dan berbicara tentangnya:

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ

“Jika salah seorang diantara kalian berbuka puasa maka makanlah buah kurma karena ia mengandung keberkahan dan jika tidak mendapatkan kurma maka dengan air putih karena ia adalah simbol kebersihan”. (H.R Abu Daud).

Kurma untuk Diet

kurma2

Kurma mengandung berbagai nutrisi yag dapat membuat orang merasa kenyang dan hilang rasa laparnya! Dan jika kita tahu bahwa alasan utama yang menyebebabkan soseorang mengalami obesitas adalah rasa lapar yang terus menerus dan nafsu makan yang tidak berhenti dan dengan demikian konsumsi lemak dan gula sangat banyak disaat makan.

Pengobatan yang jitu adalah dengan memakan beberapa butir kurma ketika terasa lapar sehingga akan membantu menimbulkan perasaan kenyang. Kurma-kurma tersebut akan memberikan tubuh berupa gula yang diperlukan dan mengatur gerakan usus dan selanjutnya mengurangi sebagian besar rasa lapar. Mengkonsumsi beberapa buah kurma setiap hari dapat mengurangi konsumsi makanan lainnya. Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahu kita bahwa:

لاَ يَجُوْعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ

“Tidak akan kelaparan rumah tangga seseorang yang memiliki kurma di dalamnya”. (H.R Muslim).

Disini dapat kita simpulkan bahwa penanggulangan obesitas dapat dilakukan dengan mengkonsumsi buah kurma! karena dengan mengkonsumsi buah kurma setiap hari dapat mengurangi berat badan berlebih. Hal inilah yang ditegaskan oleh para ilmuwan hari ini, seperti yang diperintahkan oleh sang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pembawa rahmat pada empat belas abad yang lalu!

Kurma Basah dan Saat melahirkan

kurma ruthab matang

Para ilmuwan mengatakan: Bahwa rahim selama persalinan dan melahirkan sangat membutuhkan gula alami sebagai makanan untuk otot yang relatif besar. Karena kurma memiliki materi yang lunak dan mudah, sehingga sangat penting sebelum melahirkan untuk membersihkan usus besar dan usus serta memudahkan proses melahirkan. Oleh karena itu kurma sangat mempengaruhi otot-otot rahim, mengaktifkannya dan mengatur gerakan yang memudahkan kelahiran ibu hamil. Di sinilah tampak mukjizat dalam ayat Al-Qur’an saat disampaikan kepada Maryam ketika sedang mengandung Nabi Isa ‘alaihissalam:

(فَأَجَآءَهَا ٱلۡمَخَاضُ إِلَىٰ جِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ قَالَتۡ يَـٰلَيۡتَنِى مِتُّ قَبۡلَ هَـٰذَا وَڪُنتُ نَسۡيً۬ا مَّنسِيًّ۬ا (٢٣

(فَنَادَٮٰهَا مِن تَحۡتِہَآ أَلَّا تَحۡزَنِى قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيًّ۬ا (٢٤

(إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَـٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبً۬ا جَنِيًّ۬ا (٢٥

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia [bersandar] pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (23) Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. (24) Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (25). (Q.S Maryam: 23-25)

Subhanallah (Maha suci Allah), sebaik-baik Pencipta!

(siraaj/kaheel7.com/arrahmah.com)

Ramadhan Mendidik Menjadi Pemaaf

timthumb (1)

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Salah satu akhlak yang sangat dipuji Islam adalah pemaaf. Yaitu tidak marah atas kesalahan dan keburukan orang terhadap dirinya. Ia tidak membalas kezaliman orang terhadapnya dengan keburukan. Tapi ia tahan kemarahan, ia hilangkan rasa dongkol dalam hatinya terhadapnya dengan maaf, lalu ia balas keburukan orang lain kepada dirinya dengan kebaikan-kebaikan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memuji sifat memberi maaf, mengarahkan hamba-hamba-Nya menjadi pemaaf dan menyanjung orang-orang untuk memiliki sifat mulia ini.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134)

Ramadhan yang mulia mendidik kita kepada sifat yang mulia ini. Saat orang menantang kelahi dan mengajak adu mulut, puasa mendidik agar kita mengatakan kepadanya, “Aku orang yang sedang puasa.” Tersirat dari kalimat ini, orang yang berpuasa tidak boleh perturutkan emosi dan hawa nafsunya. Ia tahan diri dari berbuat buruk kepada orang yang telah berbuat buruk terhadap dirinya.

Terlebih tujuan dari ibadah shiyam adalah untuk membentuk pribadi bertakwa. Salah satu sifat orang bertakwa, tidak memperturutkan emosi dan kepuasan nafsunya. AllahSubhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134)

Pada dasarnya Islam membolehkan seseorang membalas kezaliman orang lain terhadap dirinya dengan pembalasan yang setimpal (sebanding). Tapi jika ia bersabar, memaafkan, dan membalas keburukannya dengan kebaikan maka pahala di dalamnya sangat besar. Dan orang bertakwa lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan pembalasan di akhirat daripada kepuasan diri memperturutkan hawa nafsu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.  Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Syuura: 40)

Maksud “maka Pahalanya atas Allah”: Allah tidak akan menyia-nyiakan sikapnya itu di sisi-Nya. Tetapi Allah akan memberikan pahala yang besar dan balasan baik yang setimpal. Disebutkan dalam hadits shahih, "Tidaklah Allah menambah kepada hamba melalui maaf yang ia berikan kecuali kemuliaan." (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)

Benar, berbuat baik kepada orang lain (apalagi sesama muslim) tidaklah sama dengan berbuat buruk kepadanya; baik dalam zat, sifat dan balasannya. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula),” (QS. Al-Rahman: 60)

Dan kebaikan itu memiliki derajat yang lebih tinggi jika dilakukan terhadap orang yang telah berbuat buruk kepada kita. “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik,” maksudnya: apabila ada orang yang berbuat buruk kepadamu baik dengan perkataan atau perbuatan, maka balaslah dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, maka sambunglah. Jika ia menzalimimu maka maafkan ia. Jika membicarakan keburukanmu –baik di depan atau di belakangmu- maka jangan engkau balas, tapi maafkan ia dan bebicara kepadanya dengan lemah lembut. Jika ia mengucilkanmu dan tidak mau berbicara denganmu, maka berbicaralah yang baik dan mulailah berilah salam kepadanya. Jika Anda bisa demikian, maka Anda akan mendapatkan faidah yang besar, “maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Tidaklah taufiq Allah ini diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar atas keburukan yang ia dapatkan dan menyikapinya dengan sesuatu yang Allah cinta. Karena sifat dasar manusia –inginnya- membalas keburukan dengan keburukan agar terpuaskan. Ia tidak mau memberikan maaf. Tapi sifat dalam ayat ini sangat istimewa, bukan hanya maaf yang ia berikan, tapi membalas keburukan dengan memberikan kebajikan. Ia sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan tidaklah mendatangkan kebaikan untuk dirinya, khususnya di akhirat. Bahkan permusuhan akan semakin hebat. Semesntara jika ia berbuat baik kepadanya, kebaikannya itu akan tetap dicatat kebaikan.

Bersikap seperti di atas tidaklah akan merendahkan martabat Anda, tetapi sebaliknya, Allah akan meninggikan Anda dengan akhlak mulia tersebut. Allah akan meninggikan derajat Anda di dunia dan akhirat karena mulianya akhlak yang Anda tampilkan. Semoga Akhi Aldy bisa memilih yang lebih baik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Waspadalah! Lisanmu Bisa Menghancurkan Puasamu

Oleh: Badrul Tamam

jaga lisan

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Lisan memiliki peran sangat penting dalam pelaksanaan ibadah shiyam. Ada beberapa amalan utama di dalamnya yang menjadi domain lisan seperti membaca Al-Qur'an, zikir, doa, dan lainnya. Amalan-amalan tersebut akan menyempurnakan pahala ibadah shiyam.

Sebaliknya, lisan yang tidak dikendalikan akan bisa merusak puasa hilang nilai dan pahalanya. Artinya nilai pahala bisa berkurang, bahkan bisa tidak didapatkan sama sekali akibat kesalahan-kesalahan lisan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka Allah tidak butuh kepada ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya menurut riwayat Abu Dawud)

Qaul Al-Zuur adalah perkataan yang menyimpang dari kebenaran dan condong kepada kebatilan. Masuk di dalamnya setiap perkataan haram. Misalnya: bohong, ghibah (menggunjing), adu domba, kesaksian palsu, mencaci, mencela, dan semisalnya.

Sebenarnya, Perkataan Zuur diharamkan di mana saja dan kapan saja. Tetapi semakin tegas larangannya dan semakin besar dosanya apabila dikerjakan pada waktu-waktu utama seperti Ramadhan, dan di tempat yang mulia seperti di dua tanah haram, dan pada kondisi yang utama seperti shiyam.

Al-Jahlu juga sebutkan sebagian ulama berkaitan dengan amal lisan. Yakni, perkataan yang menjerumus kepada hal-hal porno dan jorok.

Jadi, perbuatan lisan punya pengaruh yang sangat besar terhadap kegiatan puasa kita. Bahkan sebagian ulama menyebutkan, apabila perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang melaksanakan puasa maka puasanya akan berkurang makna dan pahalanya. Puasanya menjadi tidak sempurna. Walaupun tetap sah puasa yang ia kerjakan dan tak perlu mengulanginya lagi.

Ada sebagian ulama yang memahami makna “maka Allah tidak butuh kepada ia meninggalkan makanan dan minumannya,” adalah keterangan bahwa ibadah tersebut tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ibnul Munir dalam Hasyiyah-nya menyebutkan bahwa ini adalah kinayah (kiasan) puasanya tidak diterima. Pendapat lainnya mengatakan, “Puasa yang tercampur dengan al-Zuur tertolak. Sebagian yang lain mengatakan, puasa semacam ini tidak mendapat keridhaan Allah yang menyebabkan diterima puasa.

Ibnul ‘Arabi berkata: tuntutan hadits ini bawha orang yang mengerjakan apa-apa yang telah disebutkan maka tidak diberi pahala atas puasanya.” Maknanya: Pahala orang yang berpuasa tidak sebanding dengan dosa zuur (dusta dan semisalnya) dan yang disebutkan bersamanya.

Bukanlah maksud disyariatkan puasa itu hanya merasakan lapar dan haus, tapi juga menahan syahwat , dan menundukkan nafs amarah kepada nafs muthmainah. Puasa juga sebagai moment untuk membina diri, memuliakan akhlak, dan membaguskan tabiat. Jika tidak bisa demikian maka Allah tidak akan menerima ibadah shiyam tersebut.

Oleh sebab itu, orang yang sedang berpuasa wajib menjaga lisannya. Jangan sampai keluar dari lisannya kecuali yang baik-baik dan mendatangkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala seperti membaca kalam-Nya (Al-Qur'an), zikir, doa, menasihati kepada kebenaran, mencegah dari kemungkaran, bertutur kata yang lembut kepada orang lain, tidak emosi dengan kalimat-kalimat kemarahan dan selainnya. Wallahu Ta’ala A’lam.

Hikmah Banyak Sedekah di Bulan Ramadhan?

timthumb

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Selain dikenal sebagai syahru shiyam, syahru qiyam, dan syahru Qur'an, Ramadhan juga masyhur dengan syahru muwasah (bulan bersimpati dan menolong) kepada fakir miskin dengan berbagi dan bersedekah. Dan bersedekah ini, termasuk salah satu dari amal utama di bulan  yang sangat mulia ini.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)

Sesungguhnya sedekah atau shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan. Dan ini haruslah menjadi motifasi/pendorong seorang muslim menjadi lebih dermawan pula di bulan yang mulia. Maka pada tulisan ini kami akan tuturkan beberapa sebab pendorong kaum mukminin yang sedang berpuasa Ramadhan untuk lebih dermawan di dalamnya. Antara lain: 

1. Kemuliaan zaman (waktu) dan dilipat gandakannya amal-amal shalih di dalamnya. Dalam Sunan al-Tirmidzi, dari Anas bin Malik secara marfu', "Shadaqah yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan."

2. Membantu shaimin, qaimin, dan dzakirin untuk menjalankan ketaatan mereka. Inilah yang menjadi sebab ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka. Dalam hadits Zaid bin Khalid, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:  

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)

3. Bahwasanya bulan Ramadhan adalah bulan di mana Allahberderma (melimpahkan kebaikan) kepada para hamba-Nya dengan mecurahkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka, terlebih di Lailatul Qadar. Allah Ta'ala akan menyayangi para hamba-Nya yang senang mengasihi yang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

"Sesungguhnya Allah akan merahmati para hamba-Nya yang ruhama' (suka mengasihi yang lainnya)." (HR. Al-Buhkari) Maka siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal.

. . . Maka siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal. . .

4. Puasa dan shadaqah, keduanya menjadi sebab yang bisa menghantarkan ke surga. Seperti yang terdapat dalam hadits Ali Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan yang dalamnya bisa dilihat dari luarnya dan luarnya bisa dilihat dari dalamnya." Lalu para sahabat bertanya: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

"Bagi siapa yang baik tutur katanya, memberi makan, kontinyu melaksanakan shiyam, dan shalat malam karena Allah di saat manusia tertidur." (HR. Al-Tirmidzi)

Amal-amal ini terkumpul pada bulan Ramadhan, di mana seorang mukmin mengumpulkan shiyam, qiyam, shadaqah, dan berkata yang baik di dalamnya. Pada saat yang sama, orang yang puasa menahan diri dari tindakan lahwun (sia-sia) dan tercela.

Shiyam, shadaqah, dan shalat bisa menghantarkan pelakunya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sebagian ulama salaf berkata, "Shalat menghantarkan pelakunya kepada pertengahan jalan, puasa menghantarkannya sampai ke pintu raja, sementara shadaqah meraih tangannya untuk dimasukkannya menemui sang raja."

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa di antara kalian di pagi ini yang berpuasa?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah mengantarkan jenazah hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah memberi makan orang miskin hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah mengeluarkan shadaqah?" Abu Bakar menjawab, "Saya."

Lalu beliau bertanya lagi, "Siapa  di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah amal-amal tersebut terkumpul pada diri seseorang kecuali ia akan masuk surga."

5. Berkumpulnya puasa dan shadaqah lebih kuat untuk dihapuskannya kesalahan, dipelihara dari jahannam, dan dijauhkan darinya. Lebih lagi, kalau digabung dengan qiyamullail. Terdapat sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Puasa menjadi tameng." (HR. al-Nasai)

Dalam riwayat lain, "Tameng salah seorang kalian dari neraka sebagaimana tameng yang melindunginya dari serangan musuh." (HR. al-Nasai)

Dalam hadits Mu'adz, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda,

والصَّدقَةُ تُطْفِئُ الخَطيئَةَ كَما يُطفئُ الماءُ النارَ ، وصَلاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوفِ اللَّيلِ

"Shadaqah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR. Al-Tirmidzi)

Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu berkata,

صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور، صوموا يوماً شديداً حرُّه لحر يوم النشور، تصدَّقوا بصدقة لشرِّ يوم عسير

"Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk gelapnya kubur, berpuasalah di hari yang sangat panas untuk (menebus) panasnya hari perhimpunan, dan bershadahlah dengan shadaqah (menebus) untuk hari yang sulit."

. . . Berkumpulnya puasa dan shadaqah lebih kuat untuk dihapuskannya kesalahan, dipelihara dari jahannam, dan dijauhkan darinya. . .

6. Dalam pelaksanaan puasa pastilah ada cacat dan kurang, sedangkan puasa bisa menghapuskan dosa-dosa bila puasanya memenuhi syaratnya, yaitu terjaga dari yang seharusnya dipeliharanya. Hal ini seperti yang terdapat dalam hadits yang dikeluarkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya.

Umumnya manusia, puasanya tidak memenuhi syarat-syarat yang harus dipeliharanya. Oleh karena itu, seseorang dilarang mengatakan: "Aku telah berpuasa atau qiyam Ramadhan secara sempurna." Maka shadaqah menutup kekurangan dan cacat padanya. Karenanya, pada akhir Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah sebagai permbersih bagi orang yang berpuasa dari perkara lahwun dan perbuatan tercela.

7. Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya karena Allah. Jika ia menolong para shaimin untuk bertakwa dengan menyediakan makan dan minum untuk mereka maka kedudukannya seperti orang meninggalkan sikap egoisnya karena Allah dengan memikirkan dan membantu yang lain. Karena itu disyariatkan mengajak orang lain untuk berbuka bersamanya yang pada saat itu makanan menjadi sesuatu yang paling disukainya. Jika ia bisa berbagi dengan yang lain, semoga ia menjadi bagian dari orang yang memberi makanan yang disukainya kepada yang lain. Hal itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya makan dan minum untuknya setelah sebelumnya dilarang. Dan nikmat makan dan minum akan terasa luar biasa setelah sebelumnya tidak dibolehkan.

Sebagian ulama salaf saat ditanya tentang hikmah disyariatkan berpuasa menjawab, "Supaya orang kaya merasakan rasanya lapar sehingga tidak lupa terhadap orang-orang kelaparan." Dan ini termasuk hikmah dan faidah pelaksanaan ibadah shaum.

Disebutkan dalam hadits Salman, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan muwasah (bersimpati/menolong orang lain). Maka siapa yang tidak mampu mengutamakan orang lain atas dirinya maka tidak termasuk orang yang suka menolong. Maka kita lihat banyak ulama salaf yang lebih mengutamakan orang lain saat berbuka, bahkan melayaninya. Adalah Ibnu Umar saat berpuasa, ia tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya melarangnya, maka ia tidak makan pada malam itu. Dan jika datang seorang pengemis padahal ia bersiap akan makan, maka ia ambil sebagian dari makanan itu lalu ia bawa pergi untuk diberikan kepada pengemis tadi, dan saat ia kembali sisa makanan tadi sudah habis dimakan keluarganya, maka pada saat itu ia berpuasa dan tidak makan apa-apa.

8. Sebab lainnya, kenapa kaum muslimin bersikap dermawan pada bulan Ramadhan ini adalah seperti yang diutarakan oleh Imam Syafi'i, al-Qadhi 'Iyadh, Abu Ya'la, dan lainnyarahimahumullah, "Sesuatu yang paling disuka oleh seseorang dalam menambah kedermawanan di bulan Ramadhan adalah karena mencontoh kepada RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam." Juga karena pada bulan tersebut manusia terdesak dengan kebutuhan pokoknya sementara kesibukan kerja mereka tersita dengan ibadah shaum dan shalat tarawih. Sehingga jika orang kaya berbagi kepada saudara muslimnya yang kurang mampu, ia telah meringankan beban orang lain dan mempermudah urusannya. Dan Allah senantiasa menolong hamba, selama dia gemar menolong sesamanya.

. . . kenapa kaum muslimin bersikap dermawan pada bulan Ramadhan:karena mencontoh kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam . . .

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ . . . وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

"Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. . .  dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan memenuhi kebutuhan kaum muslimin, memberi kemanfaatan bagi mereka dengan ilmu, harta, bantuan, nasihat, arahan kepada yang lebih bermanfaat bagi mereka, dan yang lainnya. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Rabu, 24 Juli 2013

10 Golongan Teman Setan Dari Dunia Sampai Akhirat

devil

Bahwa Alloh SWT. Menciptakan manusia dan jin untuk melaksanakan ibadah kepadaNya. Manusia yang ingkar terhadap perintah ini dinamakan kafir, sedangkan jin yang mengingkari ini dinamakan setan.

Adapun yang namanya Iblis pada hakekatnya cuma satu saja, yaitu yang ingkar pada printah Alloh untuk sujud kepada Nabi Adam AS. Iblis inilah yang kemudian menjadi sesepuh,raja, atau dedengkotnya para setan. Seluruhnya akan tunduk kepda komando iblis, akan taat dan setia kepada perintah iblis untuk mencari teman sebanyak-banyaknya guna menemani mereka di neraka nanti. Maka merekapau melakukan suatu proklamasi yang kita bisa baca dalam QS. Al-A'raf ayat 16 dan 17. Bahwa iblis dengan tegas mengatakan:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Artinya: "Wahai Allah, "Dari sebab Engkau telah menghukum saya tersesat, saya akan benar-benar ( menghalang-halangi ) dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).(QS. Al-A'raf : 16-17)

Adapun Iblis dan setan sudah mnyadari betul, bahwa iblis dan setan tempatnya di akhirat nanti jelas neraka, itu sudah di sadari betul. Maka yang mereka lakukan sekarang bagai mana mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menemani mereka di neraka nanti. Mereka berusaha dengan segala macam cara mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya, kalau mereka sendiri sudah tahu pasti sadar,nasib saya di akhirat nanti pasti masuk neraka di azab dan di siksa oleh Alloh, cuma saya begini lantaran ulah nabi adam dulu, maka anak-anak cucu Nabi Adam harus menjadi teman-teman saya sebanyak-banyaknya guna menemani saya di dalam neraka.

Diriwayatkan dari wahab bin munabbih, Bahwa pada suatu hari Iblis di perintahkan oleh Alloh untuk datang kepada Baginda Rosulullah SAW. Dan menjwab pertanyaan yang di ajukan oleh Baginda Nabi. Datang Iblis dengan bentuk orang tua dengan memakai tongkat (jadi iblis bisa malik malih ia termasuk jenis mahluk halus, seperti halnya jin dan malaikat, itu bisa malih warna sesui yang di kehendakinya).

Ketika datang Baginda Nabi bertanya, "Siapa kamu?"

Dia jawab "saya Iblis"(jujur)

"Mau apa kamu datang kemari?" kata baginda Nabi

Di jawab oleh Iblis "Alloh memerintahkan saya untuk datang kepadamu dan menjawab segala pertanyaan yang Engkau ajukan kepada saya".

Atas penyataan ini Baginda Nabi kemudian bertanya "Ada berapa sih teman-temanmu dari golongan umatku" (umat Islam), "siapa saja yang jadi teman-teman kamu iblis, menjadi antekmu, menjadi alatmu sejak dari dunia sampai ke neraka nanti".

Atas pertanyaan ini Iblis menjawab "Teman-teman saya dari golongan umatmu ya Muhammad ada 10 Orang".

Ada sepuluh Orang yang merupakan teman-teman Iblis dari dunia sampai ke neraka, "siapa mereka?"

1. Hakim yang curang, hakim yang tidak adil.

2. Orang kaya yang sombong.

3. Pedagang yang berhianat, baik sesama dengan pedagangnya, atau kepada para pembelinya.

4. Orang yang minum arak, pemabuk, bahkan di vonis tidak beriman Orang yang pada saat meninggal dunia didalam perutnya itu masih ada minuman yang memabukan.

5. Pemfitnah, tukang-tukang fitnah. Fitnah lebih bahaya dari pembunuhan,

6. Orang yang riya. Beramal cuma ingin di puji orang,ingin dilihat orang, tidak ada ikhlas.

7. Orang yang memakan harta anak yatim.

8. Orang yang mengangap ringan sholat.

9. Orang yang nggan membayar zakat.

10. Orang yang terlalu panjang angn-angan. penghitung bintang dilangit. Tidak mau berbuta cuma angan-angan kelewat panjang.

Sobat, kalau kita sudah tahu itulah teman-teman setan, teman-teman iblis, mari kita berusaha jangan termasuk kedalam salah satu dari sepuluh orang yang menjadi teman iblis.

Cara untuk mengatasinya bagai mana? Imam Al Ghazali memberikan tuntunan,

- Pertama untuk mengatasi perangkap setan jangan sampai kita termasuk teman setan, Ziqirulloh, banyak ingat Kepada Alloh.

- Yang Kedua, Jangan mendekati tempat maksiat.

- Yang ke tiga, mengosongkan perut (rajin puasa)

- Yang terakhir kata Imam Al Ghazali ialah Hendaknya kita selalu ingat bahwa tujuan iblis dan setan adalah menjerumuskan manusia, menyengsarakan manusia, supaya kita menjadi teman mereka di neraka nanti. Kalau ingat itu Insalloh kita bisa mengendalikan diri.

   Sekian saja kutipan ini saya rangkum dari ceramah KH Zainuddin MZ. Semoga bermanfaat. Dan untuk lebih jelas lagi bisa anda Download disini.

Kamis, 18 Juli 2013

Inilah Alasan Kenapa Harus Memperbanyak Doa di Bulan Ramadhan

ikhwan-berdoa

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.

Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak doa dan mengetuk pintu langit, karena ia saat yang mustajab dikabulkannya doa. Allah langsung menyebutkan urusan berdoa setelah menyebutkan beberapa ayat tentang puasa. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Allah mengabarkan kepada kita –melalui ayat ini- di sana terdapat kaitan erat antara puasa dan doa. Ditambah lagi kabar dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bahwa orang yang berpuasa memiliki doa yang tak tertolak.

Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi, dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda,

ثَلَاث دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ، وَدَعْوة الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tak tertolak; doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.”  (Dishahihkan Syaikh Al-Hamdulillah, segala puji milik Al-Albani dalam Silsilah Shahihah)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doanya orang yang terzalimi." (HR. Al-Tirmidi, Ahmad, Ibnu Majah. Dishahihkan Syu'aib al-Arnauth dalam Tahqiq al-Musnad)

Tiga orang yang disebutkan dalam hadits tersebut diistimewakan dengan pengabulan doa. Yakni doa mereka segera dikabulkan. Hal itu karena ketundukan mereka dalam berdoa kepada-Nya. Terkhusus orang berpuasa saat berbuka, karena ia usai mengerjakan ibadah dan saat itu ia dalam keadaan khudhu' dan tenang. Karenanya para ulama salaf sangat-sangat mengagungkan waktu penghujung hari (sore hari) karena ia menjadi penutup hari puasa.

Oleh sebab itu hendaknya seseorang memperbanyak doa dan sungguh-sungguh dalam berdoa saat berpuasa. Karena saat berpuasa seseorang menyambut seruan Allah untuk meninggalkan apa yang disukai jiwanya lalu mengerjakan apa-apa yang diridhai Rabbnya. Hatinya bersih karena ketaatan-ketaatan yang dikerjakannya serta ia meninggalkan apa-apa yang menghalangi terkabulnya dia seperti memakan yang haram dan semisalnya. Maka orang yang berdoa seperti ini akan mendapatkan jaminan pengabulan dari AllahSubhanahu Wa Ta'ala.

. . . hendaknya seseorang memperbanyak doa dan sungguh-sungguh dalam berdoa saat berpuasa. Karena saat berpuasa seseorang menyambut seruan Allah untuk meninggalkan apa yang disukai jiwanya lalu mengerjakan apa-apa yang diridhai Rabbnya. . .

Terlebih doa merupakan sesuatu yang sangat Allah sukai. Allah senang jika hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Sebaliknya, Allah murka terhadap hamba yang tidak mau meminta dan berdoa kepada-Nya. Tentunya ini akan semakin menyempurnakan ibadah shiyam yang di kerjakan di bulan Ramadhan Mubarak ini.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".” (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR. Abu Dawud dan Al-Tirmidzi Dishahihkan oleh Al-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan Al-Tirmidzi)

Dalam berdoa hendaknya memanfaatkan waktu istimewa untuk memanjatkan doa, seperti: penghujung hari Jum’at, saat akan berbuka, antara adzan dan iqomah, saat sujud, di penghujung shalat, dan sepertiga malam terakhir. Khusus di sepertiga malam terakhir ini terdapat kemuliaan lebih karena Allah 'Azza Wa Jalla turun ke langit dunia dan menyeru akan mengabulkan doa dan mengampuni untuk orang yang berdoa dan beristighfar kepada-Nya. Karenanya, jangan tidur di waktu sahur (penghujung malam). Perbanyak shalat, doa, dan istighfar. Lalu lanjutkan dengan makan sahur. Wallahu Ta’ala A’lam.

Rabu, 10 Juli 2013

Sahur itu berkah

sahur-ramadhan

Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda,

تَسَّحَرُوا فَإِنَّ فِيْ السُّحُورِ بَرَكَةً.

artinya, ” “Bersahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut diatas merupakan salah-satu petunjuk Rasulullah saw kepada umatnya akan keutamaan melaksanakan sahur. Sebagaimana Islam adalah din yang haq, maka dalam peribadahan seperti berpuasa pun, Islam menuntunnya dengan syari’at pendahuluannya berupa sahur yang akan memberikan kekuatan bagi fisik selama beberapa jam yang ditentukan dan mendatangkan kegembiraan. Rasulullah saw pun telah berpesan untuk jangan meninggalkan sunnah ini. Sabdanya saw,

إِنَّهَا بَرَكَةً أَعْطَاكُمْ اللهُ إِيَّاهَا فَلَا تَدَعُوْهُ.

artinya, “Sesungguhnya ia (sahur) itu adalah keberkahan yang diberikan Allah kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya.” (HR. An-Nasa’i)

dan juga sabdanya dari Abu Sa’id al-Khudri ra,

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوْهُ وَ لَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

artinya, ”Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersholawat atas orang yang bersahur.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad)

Sunnah bersahur juga menjadi pembeda puasanya umat Islam dengan umat ahli kitab terdahulu, seperti yang disabdakan Rasulullah saw dari Abu Sa’id al-Khudri ra,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ.

artinya, “Yang membedakan antara puasa kita (umat Islam) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”(HR. Muslim)

Keutamaan lain dari sunnah bersahur adalah memperoleh pujian dari Allah Ta’ala dan para malaikat. Dari Abdullah bin Umar ra, bahwasanya telah bersabda Rasulullah saw,

إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat atas orang yang bersahur.” (HR. Imam Ibnu Hibban dan Ath-Tabhrani)

dan dalam hadits beliau saw yang tersebut diatas yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra,

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوْهُ وَ لَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

artinya, ”Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersholawat atas orang yang bersahur.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad)

Demikian, semoga bermanfaat dan selamat melaksanakan puasa ramadhan 1434 hijriyah. Barakallahu fikum