Senin, 22 November 2010

Tips Menghafal Al- Quran


Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

Tips Menghafal Al- Quran


Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

  1. Dorongan dari diri sendiri,
    Bukan karena terpaksa. Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.
  2. Membenarkan ucapan dan bacaan.
    Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahualaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali. Para shahabat radliallahu anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran dan tajwidnya.
  3. Membuat target hafalan setiap hari.
    Misalnya mentargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.
  4. Membaguskan hafalan.
    Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan dihati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.
  5. Menghafal dengan satu mushaf.
    Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar. Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf. Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya
  6. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal.
    Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.
    Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus.
    Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar.
    Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.
  7. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan.
    Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.
  8. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).
    Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa.
    Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.
  9. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah.
    Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam : “Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya.”
    Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: “Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu.” Akan tetapi hendaklah mengatakan: “Aku dilupakan,” karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda: (..arab..)
  10. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa.
    Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.
  11. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.
    Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan. Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.
  12. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.
    Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua. Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.


HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN
Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut. Di antaranya:

  • Banyaknya dosa dan maksiat.
    Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.
  • Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.
  • Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
  • Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.

Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam bishawwab.
(Ummu Abdillah & Ummu Maryam, dinukil dari kutaib: “Kaifa Tataatstsar bil Quran wa Kaifa Tahfadzuhu?” oleh Abi Abdirrahman)

Rabu, 17 November 2010

Idul Adha dan Ibadah Kurban


Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan sehingga mencapai titik fitrah yang suci, tetapi dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimus salam.

Idul Adha dan Ibadah Kurban

Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan sehingga mencapai titik fitrah yang suci, tetapi dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimus salam. Karenanya di hari tersebut ibadah yang paling utama adalah menyembelih kurban sebagai bantuan terhadap orang-orang miskin.

Dalam surah Ash Shaffat 100-111, Allah swt. menggambarkan kejujuran nabi Ibrahim dalam melaksanakan ibadah kurban. Indikatornya dua hal:

Pertama, al istijabah al fauriyah yakni kesigapannya dalam melaksanakan perintah Allah sampai pun harus menyembelih putra kesayangannya.

Ini nampak ketika nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya. Di saat yang sama ia langsung menawarkan perintah tersebut kepadanya. Allah berfirman:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Dan ternyata al istijabah al fauriyah ini nampak juga pada diri Ismail ketika menjawab:

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kedua, shidqul istislam yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah.

Allah berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”

Inilah pemandangan yang sangat menegangkan. Bayangkan seorang ayah dengan jujur sedang siap-siap melakukan penyembelihan. Tanpa sedikitpun ragu. Kata aslamaa yang artinya keduanya berserah diri menunjukkan makna bahwa penyerahan diri tersebut tidak hanya terjadi sepihak, melainkan kedua belah pihak baik dari Ibrahim maupun Ismail. Di sanalah hakikat kehambaan benar-benar nampak. Bahwa sang hamba tidak ada pilihan kecuali patuh secara tulus kepada Tuhannya. Suatu teladan kehambaan yang harus ditiru setiap orang beriman yang berjuang menuju derajat kehambaan. Karenanya pada ayat 100 seteleh itu, Allah menegaskan bahwa keduanya benar-benar hamba-Nya, Allah berfirman: “Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Dari sini nampak bahwa untuk mencapai derajat kehambaan sejati, tidak ada lain kecuali dengan membuktikan al istijabah al fauriyyah dan shidqul istislam. Nabi Ibrahim dan nabi Ismail telah membuktikan kedua hal tersebut. Allah swt. yang Maha Mengetahui telah merekamnya. Bila Allah yang mendeklarasikannya maka itu persaksian yang paling akurat. Tidak perlu diperbincangkan lagi. Bahkan Allah swt. mengabadikannya dengan menjadikan hari raya Idul Adha. Supaya semua hamba Allah setiap tahun selalu bercermin kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail.

Dengan demikian, esensi Idul Adha bukan semata ritual penyembelihan kurban, melainkan lebih dari itu, membangun semangat kehambaan nabi Ibrahim dan nabi Islamil dalam kehidupan sehari-hari.

Yang perlu dikritisi dalam hal ini, adalah bahwa banyak orang Islam masih mengambil sisi ritualnya saja, sementara esensi kehambaanya dilupakan. Sehingga setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha, tetapi prilaku kesehariannya menginjak-injak ajaran Allah swt. Apa-apa yang Allah haramkan dengan mudah dilanggar. Dan apa-apa yang Allah perintahkan diabaikan. Bukankah Allah berfirman udkhuluu fissilmi kaafaah? Tapi di manakah makna kaffah itu dalam dataran kehidupan umat Islam? Karena itu, setiap kita memasuki hari raya Idul Adha, yang pertama kali harus kita gelar adalah semangat kehambaan yang kaffah kepada Allah. Bukan kehambaan sepenggal-sepenggal, atau kehambaan musiman.

Berapa banyak orang Islam yang rajin mentaati Allah di bulan Ramadhan saja, sementara di luar Ramadhan tidak demikian.

Berapa banyak orang Islam yang rajin ke masjid selama di Makkah saja, sementara setelah kembali ke negerinya, mereka kembali berani berbuat dosa tanpa merasa takut sedikitpun. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber: www.blog.muslim-nias.org

Berfikir Positive


Berpikir Positif diawali dengan sebuah keyakinan pada diri sendiri. Keyakinan bahwa dirinya mampu. Keyakinan yang mengatakan bahwa diri beliau “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda “bisa”, maka Anda akan “bisa”.

Berfikir Positive

“Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!”


Mungkin Anda sudah mengenal kalimat yang terkenal ini, sebuah kalimat yang di ucapkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk syurga. Beliau adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Dalam kalimat ini terkandung sebuah makna dari apa yang disebut dengan berpikir positif.

Para ahli saat ini mengatakan bahwa keajaiban berpikir positif ialah saat Anda mengatakan bisa, maka Anda akan bisa. Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan bahwa beliau mampu untuk selalu menghasilkan uang, bahkan dengan peribahasanya: mengangkat batu pun bisa menghasilan emas dan perak. Secara tidak langsung, Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan bahwa beliau bisa mendapatkan uang dari setiap perniagaanya.


Berpikir Positif diawali dengan sebuah keyakinan pada diri sendiri. Keyakinan bahwa dirinya mampu. Keyakinan yang mengatakan bahwa diri beliau “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda “bisa”, maka Anda akan “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda akan menghasilkan, maka Anda akan menghasilkan. Jika Anda tidak bisa melakukan hal seperti ini, maka Anda masih dikuasai oleh pikiran negatif.


Tidak ada orang yang memiliki pikiran positif 100% kecuali para nabi Allah SWT. Sejauh mana diri Anda berpikir positif bisa dilihat pada diri Anda saat ini. Bagaimana dengan keuangan Anda? Itulah tingkat pikiran Anda tentang uang. Bagaimana kesehatan Anda? Itulah level pikiran Anda tentang kesehatan Anda. Bagaimana dengan hubungan Anda? Itulah kualitas pikiran Anda tentang hubungan. Bagaimana dengan orang kaya yang jahat? Dia memiliki pikiran positif terhadap uang. Betul, tetapi hanya kepada uang, tetapi dia memiliki pikiran negatif terhadap hal lain sehingga membuat dia jahat. Begitu juga, adalah sangat mungkin orang yang berpikir positif tidak kaya, bukan berarti tidak bisa, tetapi itu adalah pilihan hidup. Hal yang ideal ialah bagaimana kita memiliki pikiran positif untuk semua hal dalam hidup kita, sehingga kita hidup dalam sebuah keseimbangan. Saya menawarkan sebuah konsep berpikir yang lebih tinggi dibanding dengan berpikir positif, yaitu berpikir indah atau apa yang saya sebut dengan beautiful mind

Sebagai lawan dari pikiran positif tentu saja apa yang disebut pikiran negatif. Kehadiran pikiran negatif bisa mentralisir pikiran positif Anda. Pikiran positif akan memancarkan energi positif, sementara pikiran negatif akan memancarkan energi negatif. Tergantung energi mana yang lebih besar. Jika energi positif lebih besar, maka hidup Anda akan lebih positif. Tugas Anda ada dua, yang pertama memperbesar energi positif dan yang kedua memperkecil energi negatif. Setelah itu, rasakanlah indahnya hidup jika kita memiliki pikiran indah.

Kedudukan Wanita dan Anak Dalam Islam


Kedudukan wanita dalam Islam ialah sangat terhormat. Sebagai laki-laki yang katanya adalah pemimpin kaum wanita kita tidak boleh sembarangan memperlakukan seorang wanita dengan tidak sepantasnya. Wanita itu harus diperlakukan sesuai dengan martabatnya, tidak melebih-lebihkan dan juga tidak mengurangi martabatnya sedikitpun.

Kedudukan Wanita dan Anak Dalam Islam

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S An-Nisaa’: 1)

Kedudukan wanita dalam Islam ialah sangat terhormat. Sebagai laki-laki yang katanya adalah pemimpin kaum wanita kita tidak boleh sembarangan memperlakukan seorang wanita dengan tidak sepantasnya. Wanita itu harus diperlakukan sesuai dengan martabatnya, tidak melebih-lebihkan dan juga tidak mengurangi martabatnya sedikitpun.

Sebelum datang Islam, kedudukan wanita dalam masyarakat sangat rendah dan juga lemah. Wanita disamakan dengan barang, dapat dipindah tangankan bahkan dapat diwariskan. Hal ini terutama terjadi di jazirah Arab di zaman yang kita kenal dengan nama zaman kebodohan (jahiliyah). Pada saat itu kedudukan wanita sangat menyedihkan, sampai-sampai jika anak yang lahir itu perempuan, mereka merasa malu dan dengan teganya mengubur hidup-hidup karena dianggap hanya membebani masyarakat dan juga dianggap tidak berguna. Tidak seperti jika yang dilahirkan adalah anak laki-laki, mereka merasa gembira karena berarti ada tambahan tenaga untuk bekerja dan untuk berperang.

Nabi Muhammad SAW datang untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Harkat dan martabat kaum wanita beliau angkat ke atas. Di dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi dari sahabat Abi Hurairah ra beliau bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang terbaik diantara kamu adalah mereka yang paling baik terhadap wanita-wanita mereka.” (Hadits hasan shahih)

Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan ole Muslim, Nabi memperingatkan agar sang suami tidak sampai menyia-nyiakan isterinya, karena si isteri telah diambilnya sebagai amanat dari Allah. Mengenai hal ini Beliau bersabda, “Takutlah kamu kepada Allah tentang wanita, karena kamu mengambilnya (memperisterinya) dengan amanat Allah.”

Dari ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa martabat kemanusiaan wanita itu sama dengan laki-laki dalam pandangan dan perlakuan Islam.

Menurut penjabaran para ahli tafsir terhadap ayat Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 1 menceritakan bahwa Hawa sebagai nenek moyang manusia dijadikan Allah dari rusuk bagian kiri dari Adam AS. Ketika Adam pada suatu pagi bangun dari tidurnya, tampak olehnya seorang wanita duduk disampingnya. Adam bertanya: “Siapa engkau?” Wanita itu menjawab: “Saya wanita, nama saya Hawa.” Selanjutnya malaikat bertanya kepada Adam, kenapa wanita itu bernama Hawa? Adam menjelaskan, wanita itu dijadikan dari sesuatu yang hidup (syai-in hayyin). Dari hayyin berubah sebutannya menjadi Hawa, maka dinamakan Hawa.

Adam pun senang dan cenderung kepada wanita itu dan wanita itupun senang pula kepada Adam. Sejak saat itulah keduanya menjadi suami isteri diperjodohkan oleh Allah Swt guna menurunkan keturunan manusia yang banyak, laki-laki dan wanita.

Membatasi bukan Mengurangi

Membatasi gerak-gerik pergaulan wanita, bukanlah untuk mengurangi hak-haknya sebagai manusia. Tetapi menjaga martabat kehormatannya supaya jangan mudah ternoda demi keutuhan kehormatan mertabat wanita itu sendiri. Seperti yang diajarkan Al-Qur’an pada surat Al-Isra’ ayat 32.



Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Sama tapi Tidak Serupa
Pria dan wanita punya fithrah yang sama, yakni unsur kejadiannya berasal dari tanah melalui Adam AS dan dari rusuk Adam terlahir Hawa, tetapi tidak serupa fisiknya.

Jadi martabat pria dan wanita itu sama, tapi tidak serupa. Karena pria memiliki ciri khusus yaitu sebagai pelindung. Hal ini tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 34.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Status itu adalah sangat cocok secara fithri dan juga cocok dalam pergaulan antar wanita dan pria, baik dalam kehidupan lajang, apalagi dalam kehidupan berumah tangga.

Sering terasa suram bagi seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya. Terasa hilang pelindung dan hilang pengayom. Oleh karena itu Al-Qur’an memberi kesaksian atas eksistensi wanita dan pria dalam alam, dengan penegasan seperti difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 21.


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Kewajiban Terhadap Anak

Kewajiban utama dari seorang wanita sebagai Ibu adalah mengurus dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebagai buah dari suatu pasangan rumah tangga anak adalah belahan jiwa. Kedudukan anak-anak dalam Islam sangat diperhatikan. Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Anak-anak kecil itu adalah kupu-kupu hiasan surga.” Oleh karena itu, jika seorang bayi meninggal, meskipun boleh ditangisi, tapi janganlah berlebihan karena bayi-bayi itu akan mengelu-elukan dan memohonkan ampun atas dosa orang tuanya.

Menurut ajaran Islam, terhadap anak perlu diperhatikan 4 hal :

1. Diberi nama yang baik

2. Diberi makan yang sehat

3. Diberi pakaian yang memadai

4. Diberi pendidikan, ilmu, dan keterampilan dan akhlak yang tinggi.

Dengan itu anak dipersiapkan masa depannya yang penuh harapan, agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah, mampu mandiri dalam hidupnya kelak serta taqwa pada Allah SWT. Tugas ini dibebankan pertama-tama pada kaum Ibu. Sedangkan para bapak menunjangnya dengan bekerja keras mengumpulkan rezeki yang halal guna membiayai rumah tangga tersebut.

Penyakit Hati dan Pencegahannya


Hati selain merupakan salah satu organ internis manusia, juga berfungsi sebagai tempat seluruh perasaan jiwa, kekuatan berfikir dan keyakinan. Perasaan cinta, benci, bahagia, gelisah, marah, takabbur, tawadhu, yakin, ragu, iman, kafir dst.

Penyakit Hati dan Pencegahannya

Kedudukan Hati

Hati selain merupakan salah satu organ internis manusia, juga berfungsi sebagai tempat seluruh perasaan jiwa, kekuatan berfikir dan keyakinan. Perasaan cinta, benci, bahagia, gelisah, marah, takabbur, tawadhu, yakin, ragu, iman, kafir dst.

Hati sangat menentukan baik dan buruk manusia secara menyeluruh. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal organ, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad manusia itu, dan bila dia rusak, maka rusaklah ia seluruhnya. Ia itu adalah hati (qolbu).”

Dengan demikian menjaga kesehatan hati berarti menjaga manusia secara keseluruhan. Sedangkan membiarkan hati rusak sama dengan merusak manusia itu sendiri. Hal ini sangatlah rasional mengingat hati adalah tempat bersemayam keyakinan dan pemahaman yang akan menentukan visi hidup seorang manusia sumber niat, motivasi, selera dan emosi yang akan mengarahkan amal seseorang dan menentukan mutunya.

Dari sinilah masa depan manusia ditentukan sebagaimana firman Allah dalam Q.S As-Syu’araa ayat 88-89.



“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Hati Yang Sakit

Di dalam Al-Qur’an, hati yang sakit dianalogikan beberapa istilah yaitu buta, keras membatu, dan berkarat.

  1. Buta, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 22:46, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Maka sesunguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dada.”
  1. Keras membatu, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 2:74, “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, atau lebih keras dari itu ……” atau firman Allah di ayat lain seperti Q.S. 6:43, Q.S. 57:16, Q.S. 5:13, dalam hal ini hati yang keras senantiasa dicirikan dengan munculnya sifat-sifat tercela seperti ujub, riya’, takabbur, dholim, hasad, dan sejenisnya.
  1. Berkarat, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 83:14, Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” Dengan kata lain kebiasaan buruk mereka telah menjadi penyebab atas rusaknya selera mereka sehingga muncul sifat-sifat nifaq, mengikuti hawa nafsu, mencintai dunia secara berlebihan.

Pencegahan Penyakit Hati

Berbagai penyakit hati dapat dicegah dengan upaya mensucikan hati. Diantara sarana mensucikan hati secara umum adalah sebagai berikut :

  1. Melaksanakan shalat secara khusyu

Shalat adalah sarana terbesar dalam pensucian hati. Firman Allah: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (Q.S Al-Mu’minuun : 1-2). Fungsi shalat akan efektif bila dilaksanakan dengan benar dan khusyu’, serta berusaha untuk segera melaksanakannya di awal waktu, yakni ketika mendengar adzan.

  1. Puasa (shaum)

Urgensi puasa dalam pensucian hati sangat penting bagi seseorang, sebab di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kelamin. Sedangkan puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut. Puasa juga sarana mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang Allah, misal memfitnah, memprofokasi, korupsi. Seperti sabda Rasulullah : “Puasa itu tidak lain adalah perisai bagi orang mukmin.” (HR. Bukhari dan Muslim)


  1. Tilawah Al-Qur’an

Al-Qur’an akan berfungsi sebagai pelita hati secara baik apabila dibarengi dengan menghadirkan hati untuk memahami maknanya, mentadaburi artinya dan merenungi kandungannya. Allah berfirman :




“(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Ali Imron: 138)

  1. Dzikrullah

Biasanya nafsu hati itu dibarengi rasa cepat jemu, bosan, pesimis, malas, dan lain-lain, makanya dalam berdzikir pun harus melakukan kreatifitas dalam arti berganti-ganti suasananya; seperti dalam keadaan berdiri, berjalan, duduk atau tiduran baik di waktu pagi maupun malam.

Firman Allah :Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (Q.S Al-Insaan: 25-26)


  1. Tafakkur

Tafakkur adalah kesediaan akal pikiran untuk senantiasa memikirkan akan kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bagaimana langit di tinggikan, bumi di hamparkan, kejadian manusia dari setetes air yang hina, kemudian menjadi mulia dan berbagai keajaiban lainnya. Dan hal itu menunjukkan betapa manusia tidak ada apa-apanya, sangat lemah, dan karenanya tidak pantas untuk berbuat sombong dan dzalim di muka bumi.

Allah SWT berfirman: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?”…(Q.S Al-Araf: 185).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S Ali Imran: 190-191)

Dua ayat di atas mengisyaratkan bahwa kesempurnaan akal tidak akan tercapai kecuali dengan bertemunya dzikir dan fikir manusia. Apabila kita telah mengetahui bahwa kesempurnaan hati merupakan kesempurnaan manusia, maka kita mengetahui pula bahwa dzikir dan fikir merupakan dua hal yang berpengaruh pada pensucian jiwa.

Pangkal kebaikan dan keburukan bermula dari kalbu (hati). Jika kalbu itu baik, baiklah sikap dan perilakunya, dan jika rusak, maka rusaklah lingkungannya. Sungguh orang-orang yang giat bersusah payah mensucikan hatinya, pastilah Allah akan menuntunnya ke jalan yang diridhoi-Nya, sebaliknya orang yang cuek akan kebersihan hatinya, hati-hatilah sebab kesengsaraan hidup nan abadi telah menantinya.

Allah SWT berfirman :



“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (As-Syams : 9-10)

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meminta kepada Allah agar di bersihkan hati kita dengan do’anya, “Ya Allah, berikanlah ketaqwaan ke dalam hatiku dan bersihkanlah hati ini. Engkaulah sebaik-baik yang membersihkannya, Engkaulah pemeliharanya.” (HR. Muslim)

Demikian semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah SWT sehingga bisa membedakan antara haq dan bathil, juga mendapat taufiq-Nya sehingga kita mau dan mampu untuk mengamalkannya. Amin

Pola Hidup Rasullah SAW


Dalam berbagai aktifitas dan pola kehidupannya, Rasulullah SAW memang sudah dirancang oleh Allah SWT sebagai contoh teladan yang baik (al uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk pola makan.


Pola Hidup Rasullah SAW

Dalam berbagai aktifitas dan pola kehidupannya, Rasulullah SAW memang sudah dirancang oleh Allah SWT sebagai contoh teladan yang baik (al uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk pola makan. Sepintas masalah makan ini tampak sederhana, tapi dengan pola makan yang dicontohkan Rasulullah saw, beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat dan bugar. Bahkan, berbagai riwayat shahih menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sanggup membanting Rukanah beberapa kali dalam sebuah pertarungan gulat, padahal Rukanah adalah juara gulat Mekkah yang saat itu tak terkalahkan.

Ketika Kaisar Romawi mengirimkan bantuan dokter ke Medinah ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit. Dokter tersebut bertanya kepada Rasulullah saw tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit. Rasulullah saw bersabda:”Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali sudah betul betul lapar dan apabila makan, kami berhenti sebelum kekenyangan”

Aktifitas Rasulullah SAW yang padat dengan dakwah dan perjuangan menegakkan agama yang masih muda ini, sehingga tiap menit dalam kehidupan Rasulullah SAW selalu diisi dengan kegiatan produktif. Rasulullah saw hampir tidak pernah bermalas malasan, bebicara tanpa tujuan ataupun tidur yang melebihi batas. Siang dan malam waktu beliau dipadati oleh urusan dakwah dan perjuangan. Aktifitas yang sarat beban ini harus didukung oleh kondisi fisik yang prima. Dan Alhamdulillah, Rasulullah SAW selalu dalam keadaan sehat dan hanya mengalami dua kali sakit selama hidupnya. Pertama, ketika beliau diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah SAW di Madinah. Kedua, menjelang wafatnya.

Para ahli kesehatan menilai gaya hidup Rasulullah SAW dalam mengkonsumsi makanan, memberikan pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan beliau. Kecerdasan Rasulullah SAW dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsi telah menentukan tingkat kesehatan beliau.

Akhir akhir ini dunia medis baru menyadari bahwa ternyata pola makan merupakan faktor penentu dari penyakit-penyakit yang diderita manusia. Kebanyakan penyakit disebabkan oleh kacaunya pola makan, dan begitu pula faktor penyembuhan penyakit seringkali ditentukan dari pola makan seseorang. Itulah sebabnya sekarang pola makan menjadi bagian dari obat dan penyembuhan. Selama ini dikenal dua bentuk pengobatan, yaitu:

1.

Pengobatan sebelum terjangkit penyakit, yang sering disebut sebagai pencegahan.
2.

Pengobatan setelah terjangkit penyakit (ath thib al’ilaji)

Dengan mencontoh pola makan Rasulullah SAW, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza). Hal ini jauh lebih baik dan murah daripada kita harus berhubungan dengan obat-obat kimia senyawa sintetik yang hakekatnya adalah racun. Berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah SAW melalui makanan dengan senyawa kimia organik.

Kita mengenal ungkapan “mencegah lebih baik dari mengobati”. Mengenal serta meneladani pola makan Rasulullah SAW merupakan langkah aplikatif dan tidakan preventif dari penyakit yang bisa menyerang tubuh kita. Jika kita cermat melihat pola hidup Rasulullah SAW, maka akan kita dapati point penting sbb:

Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah SAW adalah udara segar dipagi hari. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan (shalat) qiyamullail. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas dalam aktifitasnya sehari penuh. Orang yang memulai kehidupan dipagi hari dengan bangun subuh, biasanya menjalani hari dengan penuh semangat dan optimisme. Berbeda dengan orang yang tidak bangun subuh, biasanya lebih mudah terserang rasa malas beraktifitas.

Dipagi hari, Rasulullah SAW menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya. Mulut dan gigi merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu. Kita tahu siwak mengandung fluor yang sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi. Fluor yang terkandung dalam siwak merupakan fluor alami yang berguna, berbeda dengan fluorsintetik yang dapat membahayakan kesehatan. Saat ini, fluor alami yang terdapat dalam siwak sudah mampu di ekstraksi dalam bentuk pasta gigi agar mudah digunakan.

Dipagi hari pula Rasulullah SAW membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasitnya luar biasa. Dalam Al-Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Hal ini berarti pada dasarnya madu bisa menjadi obat atas berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. Madu juga mengandung mikronutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Dalam istilah masyarakat Arab, madu dikenal dengan al hafidz al amin karena bisa menyembuhkan luka bakar.

Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah SAW senantiasa mengkonsumsi 7 butir kurma ajwa’ (matang). Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”. Hal ini berbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah SAW pada sebuah percobaan pembunuhan diperang Khaibar, racun yang tertelah oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibnu al Barra, salah seorang sahabat yang ikut memakan makanan yang beracun tersebut, akhirnya meninggal. Tetapi Rasulullah SAW selamat dari racun tersebut. Rahasianya adalah 7 butir kurma yang biasa dikonsumsi Rasulullah SAW.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah SAW biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan dihari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan. Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjadi suhu tubuh dimusim dingin. Ada cerita menarik terkait dengan buah Tin dan minyak Zaitun. Allah swt bersumpah dalam surat At Tin. Dalam Al-Qur’an surat At Tin kata at tin hanya disebutkan sekali saja, sedangkan az zaytun diulang sampai 7 kali. Seorang ahli melakukan penelitian terkait hal itu. Kesimpulannya luar biasa: jika zat-zat yang terkandung dalam at tin dan az zaytun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1:7, maka akan menghasilkan ahsani taqwin (tubuh terbaik dan optimum kekuatannya) sebagaimana tercantum dalam surat At Tin.

Dimalam hari, menu makan malam Rasulullah SAW adalah sayur mayur. Beberapa riwayat mengatakan, Rasululah SAW selalu mengkonsumi sana al makki dan sanut. (Dalam kamus Al Munjid sana dan sanut berarti jenis tumbuh-tumbuhan, bisa bermakna sayuran atau lalapan. Tetapi sanut bisa berarti pula madu dan keju). Menurut Prof Dr Musthofa, di Mesir keduanya mirip dengan sabbtah dan ba’dunis. Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang luar Arab, tapi Prof Musthofa menjelaskan, intinya adalah sayur-sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. (dr Gia PMA)

Sumber: denagis.wordpress.com/2010/02/14/pola-hidup-rasulullah-saw

Ganjaran Bersedekah


Banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untuk melakukannya karena kekhawatiran bahwa kita salah memberi.

Ganjaran Bersedekah

Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita umatnya untuk memperbanyak sedekah, hal itu dimaksudkan agar rezeki yang Allah berikan kepada kita menjadi berkah.

Allah memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang bersedekah, ganjaran yang berlipat ganda (700 kali) dan ganti, sebagaiman firman-Nya dan sabda Rasulullah SAW, sbb:

  • Allah Ta'ala berfirman, "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". {Qs. Al Lail (92): 5-8}
  • Allah Ta'ala berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Dan Allah Maha Luas (Kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui". {Qs. Al Baqarah (2): 261}
  • Rasulullah SAW bersabda, "Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, "Ya Tuhan, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kepada Allah". Yang satu lagi menyeru "Musnahkanlah orang yang menahan hartanya".

Tolak Bala dengan Sedekah

Orang-orang yang berfirman sangat sadar dengan kekuatan sedekah untuk menolak bala, kesulitan dan berbagai macam penyakit, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sbb:

  • "Bersegeralah bersedakah, sebab yang namanya bala tidak pernah mendahului sedekah"
  • "Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah"
  • "Obatilah penyakitmu dengan sedekah"

Banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untuk melakukannya karena kekhawatiran bahwa kita salah memberi, sebagai contoh kadang kita enggan memberi pengemis/pengamen yang kita temui di pinggir jalan dengan pemikiran bahwa mereka (pengemis/pengamen tsb) menjadikan meminta-minta sebagai profesinya, tidak mendidik, dll. Padahal sesungguhnya prasangka kita yang demikian adalah bisikan-bisikan setan laknatullah yang tidak rela melihat kita berbuat baik (bersedekah), sebaiknya mulai saat ini hendaknya kita hilangkan prasangka-prasangka yang demikian karena seharusnya sedekah itu kita niatkan sebagai bukti keimanan kita atas perintah Allah dan rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk gemar bersedekah.

Masalah apabila ternyata kemudian bahwa sedekah yang kita beri kepada pengemis/pengamen tadi tidak tepat sasaran, bukan lagi urusan kita, karena sedekah hakekatnya adalah ladang amal bagi hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Pengemis/pengamen/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkecukupan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi orang-orang tersebut, kepada siapa lagi kita dapat beramal (bersedekah) ???

Atau kalau kita termasuk orang yang tidak suka memberi sedekah (kepada pengemis/pengamen/fakir miskin) dengan berbagai alasan dan pertimbangan maka biasakanlah bersedekah dengan menyiapkan sejumlah uang sebelum sholat Jum'at dan memasukkannya ke kotak-kotak amal yang tersedia dan biasakanlah dengan memberi sejumlah minimal setiap Jum'at, misalnya Jum'at ini kita menyumbang Rp 10 ribu ke kotak amal maka sebaiknya Jum'at berikutnya harus sama, syukur-syukur bisa lebih dan terutama harus diiringi dengan keikhlasan.

Sedekah anda, walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah Azza Wa Jalla. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak mendapat keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab menginfaqkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah dan sebaliknya menahannya adalah celaka. Tidak mengherankan jika orang yang bersedekah diibaratkan orang yang berinvestasi dan menabung di sisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperoleh berlipatganda. Mereka tidak akan rugi meskipun pada awalnya mereka kehilangan sesuatu.

Sedekah yang pahalanya terus mengalir

Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: "Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal: amal jariah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo'akannya" (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad)

Berikut contoh konkrit, sadaqah (amal) jariah, yang pahalanya terus mengalir walaupun si pemberi sadaqah telah wafat:

  1. Berikan Al-Quran pada seseorang, setiap saat Al-Quran tersebut dibaca, anda mendapatkan kebaikan.
  2. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, anda mendapatkan kebaikan.
  3. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, anda mendapatkan kebaikan.
  4. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau hewan berlindung di bawahnya atau makan buahnya, anda mendapatkan kebaikan.
  5. Tempatkan pendingin air di tempat umum.
  6. Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang.
  7. Libatkan diri dalam pembangunan mesjid.
  8. Berbagi CD Quran atau Do'a.
  9. Bantulah pendidikan seorang anak.
  10. Bagikan pengetahuan ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal di atas, Anda dapat kebaikan sampai hari Qiamat.

Jadilah Da'i "sejuta artikel" dengan meneruskan bulletin ini kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang barangkali belum mengetahuinya.

Dari Abdullah bin 'Amru ra, Rasulullah SAW bersabda: "Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat".

Hikmah Sholat Dhuha


Menunaikan sholat Dhuha selain sebagai wujud kepatuhan kepada ALLAH dan Rasul-NYA, juga sebagai perwujudan syukur dan takwa kepada kepada ALLAH karena ALLAH Maha Hikmah.



Hikmah Sholat Dhuha

Sholat Dhuha hukumnya sunah muakkad. Oleh karenanya, siapa saja yg ingin memperoleh pahala dan keutamaannya silahkan mengerjakan dan tidaklah berdosa apabila meninggalkannya. Namun Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan sholat Dhuha.

Rasulullah adalah teladan utama dalam segala hal. Beliau tidak akan mewasiatkan atau memerintahkan sesuatu sebelum mengerjakannya. Demikian pula dengan sholat Dhuha.

Menunaikan sholat Dhuha selain sebagai wujud kepatuhan kepada ALLAH dan Rasul-NYA, juga sebagai perwujudan syukur dan takwa kepada kepada ALLAH karena ALLAH Maha Hikmah. Apapun amal ibadah yang disyariatkan akan mengandung banyak keutamaan dan hikmah.
Dan di antara keutamaan dan hikmah dari sholat Dhuha adalah sebagai berikut :

1. Sholat Dhuha adalah Sedekah

Rasulullah bersabda,

Setiap ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari, harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat disepadankan dengan mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat.
(HR. Muslim dari Abu Dzar)

Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang, hendaklah ia mengeluarkan satu sedekah untuk setiap ruas itu. Para sahabat bertanya, “Siapa yang mampu mengerjakan hal tersebut wahai Nabi ALLAH?” Nabi berkata, “Dahak di masjid yang engkau pendam, suatu aral yang engkau singkirkan dari jalan. Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang sepadan, cukuplah bagimu sholat Dhuha dua rakaat.”
(HR. Abu Daud dan Ahmad dari Abu Buraidah)

2. Sholat Dhuha sebagai Investasi Amal Cadangan

Sholat adalah amal yang pertama kali diperhitungkan pada hari Kiamat. Sholat juga merupakan kunci semua amal kebaikan. Sholat sunah -termasuk- sholat Dhuha merupakan investasi atau amal cadangan yg dapat menyempurnakan sholat fardhu (wajib).

Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah sholatnya. Apabila benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan apabila rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka ALLAH berfirman, “Perhatikanlah, jikalau hamba-KU mempunyai sholat sunah maka sempurnakanlah dengan sholat sunahnya sekedar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya.”
(HR. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA)

3. Ghanimah (Keuntungan) Yang Besar

Rasulullah bersabda,

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, ia berkata, “Rasulullah SAW mengirim pasukan perang. Lalu pasukan itu mendapatkan harta rampasan perang yang banyak dan cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan cepat kembalinya mereka. Makam Rasulullah SAW bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepat kembali (dari meda perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk mengerjakan sholat sunah Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.”
(HR. Ahmad)

4. Dicukupi Kebutuhan Hidupnya

Orang yang gemar melaksanakan sholat Dhuha karena ALLAH, akan dberikan kelapangan rezeki oleh ALLAH. Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits Qudsi dari Abu Darda’ bahwa ALLAH berfirman:

Wahai anak Adam, rukulah (sholatlah) karena AKU pada awal siang (sholat Dhuha) emapt rakaat, maka AKU akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore.
(HR. Tirmidzi)

5. Pahala Haji dan Umrah

Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang sholat Shubuh berjamaah kemudian duduk berzikir untuk ALLAH sampai matahari terbit kemudian (dilanjutkan dengan) mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.
(HR. Tirmidzi)

6. Diampuni Semua Dosanya Walau Sebanyak Buih di Laut

Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang menjaga sholat Dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

7. Istana di Surga

ALLAH akan membangun istana di surga bagi orang yang gemar sholat Dhuha. Rasulullah bersabda,

Barangsiapa shalat Dhuha dua belas rakaat, maka ALLAH akan membangun istana dari emas di surga.
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikian beberapa keutamaan dan hikmah dari sholat Dhuha yang diambil dari hadits. Semoga menjadi motivas bagi kita semua agar lebih memperhatikan sholat Dhuha dan membiasakan sholat Dhuha.

Meniti Gerbang Hidayah


Kadangkala seseorang menunggu suatu perubahan dalam dirinya dengan perkataan, ‘saya belum dapat hidayah’. Atau ketika ingin melakukan suatu kebaikan padahal sudah melintas di hati dan pikirannya dengan ucapan, ‘saya masih menunggu hidayah untuk melakukannya’.

Meniti Gerbang Hidayah

Hidayah, bukan kata tanpa makna. Justru dari sanalah semua keindahan bermulai jumpa. Hidayah menemukan antara penantian dan perjalanan usaha yang dijalani seseorang. Hidayah senantiasa mengakrabi hati tiap hamba datang dan pergi silih berganti siapapun dia. Sejatinya hidayah sesuai dengan arti katanya adalah menunjukkan kepada sesuatu. Ibnul Qayyim menegasikan bahwasanya hidayah adalah bayan (penjelasan) dan dilalah (bimbingan), serta taufiq dan ilham.

Kadangkala seseorang menunggu suatu perubahan dalam dirinya dengan perkataan, ‘saya belum dapat hidayah’. Atau ketika ingin melakukan suatu kebaikan padahal sudah melintas di hati dan pikirannya dengan ucapan, ‘saya masih menunggu hidayah untuk melakukannya’. Sahabat, momentum hidayah adalah momentum terindah. Segala keindahan itu sejatinya adalah tempuhan suatu usaha yang dijalankan. Setelah perintah untuk menyegerakan kebaikan menyeru dalam hati, selanjutnya adalah adakah diri untuk melaksanakan. Hidayah adalah situasi bahagia, tidak ada yang memiliki harga termahal selain mahalnya sebuah hidayah bagi seseorang yang telah merasakannya, dan tak ada yang dapat menandingi cahayanya terkecuali bagi mereka yang sebelumnya berada dalam kejahatan salah pintu kesesatan. Benarlah apa yang diucapkan oleh Ibnul Qayyim takkala mengambil faidah mengapa dalam setiap shalat seseorang diwajibkan mengucapkan “ Tunjukilah kami jalan yang lurus ” (QS. Al Fatihah : 6), karena hidayah yang telah Allah berikan kepada seseorang telah banyak jumlahnya. Takkala seseorang dapat mengetahui bagaimana adab makan dan minum yang benar, bagaimana adab buang hajat yang sesuai Islam, bagaimana seseorang paham tentang tata cara penyelenggaraan jenazah. Maka kesemua itu adalah hidayah. Semua tak terlepas dari doa yang terpanjatkan dalam tiap shalat tersebut dan Allah telah menunjukkannya.

Allah Ta’ala banyak menjelaskan soal kemuliaan jalan-jalan raihan hidayah ini di banyak ayat. Salah satunya adalah, “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al A’raaf : 43).

Ibnu Katsir menjelaskan salah satu dari makna ayat tersebut adalah sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Setiap penghuni surga menyaksikan tempatnya di neraka, lalu berkata : ‘Jikalau Allah tak memberi hidayah kepada kami niscaya kami akan celaka maka bagi-Nya syukur’.” (HR. An Nasai, di-hasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Al Jami’ 4514).

Disebabkan hidayah terbagi menjadi dua, ada hidayah yang sifatnya taufiq sebagai salah satu bentuk kekhususan milik Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashshash : 56), dan ada pula hidayah yang sifatnya penjelasan serta pengarahan seperti yang dilakukan oleh para penyeru dijalan Allah seperti yang Allah firmankan “Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syuura : 52).

Ibnul Qayyim mengatakan, Taufiq dan ilham datang setelah adanya penjelasan dan petunjuk. Penjelasan dan bimbingan hanya bisa diperoleh melalui diutusnya para rasul. Setelah datang penjelasan, petunjuk dan bimbingan, hidayah taufiq akan datang kemudian. Yakni dengan diciptakannya iman dalam hati sehingga menjadi hiasannya, membuatnya menjadi suka dan menyukai petunjuk tersebut. (Badai’ut Tafsir I : 116)

Panggilan hidayah adalah sebuah panggilan jiwa yang menyelusup halus kedalam dada dengan penuh makna. Selalu punya cerita bagi setiap hasil, dan selalu indah dikenang setiap momentum yang digapai. Begitulah hidayah selalu menunjukkan eksistensinya. Ada keberadaan yang tak terlepas dari harapan dan dukungan. Ada sebuah tekad untuk memenuhi fitrah setiap manusia sebagaimana ia dilahirkan, “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Qadar (no. 2658).

Insya Allah dalam kesempatan berikutnya akan disampaikan beberapa sebab hidayah tersebut datang kepada seseorang. Diantaranya adalah adanya sebuah pengaruh lingkungan, kesadaran dalam diri, dan tak ada pilihan lain yang harus diambil atau keterdesakan. Insya Allahu Ta’ala dalam kesempatan berikutnya.



sumber: http://rujakkata.com/2009/11/07/meniti-gerbang-hidayah.html

Bangga Menjadi MUSLIM


Dialah (Allah) yang telah menamakan kamu sekalian muslimin dari dulu dan didalam (Alquran) ini, supaya rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah

Bangga Menjadi MUSLIM


“Dialah (Allah) yang telah menamakan kamu sekalian muslimin dari dulu dan didalam (Alquran) ini, supaya rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dialah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj: 78).

Saat ini kebanyakan orang bangga dengan nama dan julukan serta gelar yang disandangnya, namun enggan menyandang julukan sebagai muslim. Hingga banyak di antara mereka yang enggan menyatakan dan menampakkan bahwa dirinya muslim. Sebagian lagi malah lebih parah, mereka banyak yang bangga mendapat julukan dan sebutan yang negatif dan buruk dan bangga akan keburukan dan kejahatan yang mereka lakukan. Sementara itu, yang muslim ada juga yang tidak puas dengan titel muslim saja, maka mereka menambahinya dengan embel-embel yang tak jelas juntrungnya. Seperti tambahan liberal, subtantif, moderat dan lain sebagainya. Tidak puas dengan diri sendiri, mereka juga menjuluki muslimin lain dengan bermacam-macam, seperti ekstrim, fundamentalis, dan lain sebagainya. Adalah julukan dan predikat sebagai muslim merupakan penghormatan dan kemuliaan dari Allah Sang Pencipta Alam yang langsung menamakan orang-orang yang beriman dengan julukan tersebut. Lalu, apakah yang membuat orang-orang enggan menampakkannya? Mungkin yang paling menonjol adalah timbulnya pandangan di kalangan muslimin bahwa dunia itu segalanya, dan orang yang memiliki kedudukan, harta di dunia memiliki kemuliaan di atas mereka, sehingga menimbulkan rasa rendah diri di hadapan kemewahan dunia. Seharusnya sebagai muslim kita justru harus bahagia dan gembira. Sebab, jika kita tidak dapat dunia, masih ada akhirat, sedangkan orang-orang kafir, walaupun dapat dunia, tetapi tidak dapat apa-apa di akhirat. Renungkanlah firman Allah SWT yang artinya, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah segala yang mereka usahakan di dunia serta sia-sialah segala yang telah mereka kerjakan.” (Huud: 16).

Sebagai muslim kita harus bangga menampilkan diri dalam warna keislaman dari segala segi kehidupan dengan segala corak dan warnanya. Bukankah agama kita, Islam, merupakan agama yang sempurna? Di dalamnya terdapat segala aturan dan bimbingan untuk segala bidang kehidupan. Dari hal yang kecil, seperti buang air dan meludah, kita sudah dibimbing dan diarahkan untuk tampil sebagai muslim yang berbeda dari orang-orang kafir, apalagi dalam perkara yang lebih besar. Jikalau seseorang mengamati ajaran Islam, niscaya ia akan mendapatkan bahwa Islam memberikan pemeluknya identitas dan jati diri yang jelas, agar dengan mengetahui dan menyadari hakikat dirinya, ia dapat menempuh kehidupan dunia ini dengan baik dan selamat. Suatu hal yang tidak akan pernah ditemukan pada agama lain. Kita tidak boleh ragu mengatakan bahwa kita muslim dan Islam adalah agama yang lurus dan benar. Jangan termakan hasutan orang-orang pluralisme agama. Karena, hal sebenarnya bagi orang-orang yang bingung tidak tahu mau ke mana. Renungkan dan camkanlah firman Allah SWT yang artinya, “Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: ‘Sesungghnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimin)’.” (Fushshilat: 33).

Dalam banyak hal kaum muslimin selalu jadi bahan tertawaan dan cemoohan dari orang-orang yang banyak berdosa. Kesabaran adalah senjata pemusnahnya, karena memang itulah tabiat mereka, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan mata. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya mereka dalam keadaan senang (karena telah mengejek orang-orang beriman). Dan apabila mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata: “Sesungguhnya mereka ini benar-benar orang yang sesat. Padahal, mereka tidak diutus untuk menjadi penjaga bagi orang-orang beriman. Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir, mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Muthaffifiin: 29 — 36).

Biarkanlah mereka begitu, dan janganlah kita merasa rendah diri di hadapan mereka. Persiapkanlah bekal untuk menjadi orang yang menertawakan mereka di akhirat nanti dengan bertakwa kepada Allah. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat dan akan berbalik menertawakan mereka orang-orang kafir kelak di akhirat yang di dunia ini kita ditertawakan, dicemooh, dihinakan dan diinjak-injak martabatnya.