. . . siapa yang tidak mengamalkan ilmu yang telah dipahaminya, ia termasuk orang yang mendapat murka . .
. . . siapa yang tidak mengetahui urusan dien (Islam) maka ia termasuk orang yang tidak dikehendaki oleh Allah menjadi baik. . .
. . . siapa yang tidak mengamalkan ilmu yang telah dipahaminya, ia termasuk orang yang mendapat murka . .
. . . siapa yang tidak mengetahui urusan dien (Islam) maka ia termasuk orang yang tidak dikehendaki oleh Allah menjadi baik. . .
. . . Siapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah tanpa mengetahui maknanya, tanpa meyakini dan mengamalkan tuntutannya, maka ucapannya itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama). . .
. . . Jika seseorang beriman dengan dua negeri ini maka akan mendorongnya beramal shalih dan bertaubat dari dosa. Sementara yang tidak beriman kepada akhirat, ia akan berbuat semaunya sesuai keinginan syahwatnya . . .
. . . ahli tauhid pasti akan dimasukkan ke dalam surga, hanya saja dia bisa dimasukkan segera atau diakhirkan setelah sebelumnya dibersihkan dosa-dosanya di neraka. . .
. . . setiap muslim dalam menjalani hidupnya wajib memperhatikan aturan-aturan agamanya. Karena kepatuhan kepada hukum agamanya, sesuai keyakinannya, akan menentukan nasibnya di akhirat. . .
. . . Setiap anggota tubuh manusia itu tidak boleh diperjualbelikan. Karenanya menjual ginjal hukumnya haram. . .(DR. Ahmad Zain An-Najah)
. . . anggota tubuh seseorang bukan milik dirinya dan menurut syariat ia tidak dibolehkan menjualnya. Maka hukumnya masuk dalam menjual sesuatu yang bukan miliknya. . .

"Hai manusia yang tersayang....::::::::::::::::::::::::::
Tadi malam waktu akan tidur, aku lihat engkau tidak memuji Allah, tidak bersholawat, tidak membaca Ayat Kursi dan Al Ikhlas. Ini bagus sekali karena waktu akan tidur adalah waktu untuk tidur, bukan untuk membaca Al-Qur'an. Sungguh engkau tidak membuang-buang waktu.
Pagi ini aku lihat engkau tidak bangun mengerjakan Shalat Subuh. Bagus sekali! Engkau telah membuktikan bahwa engkau adalah sahabatku yang budiman. Janganlah engkau susah-susah bangun dan memendekan tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak dan nyaman. Jangan hiraukan suara ayam berkokok yang membangunkanmu dari tidurmu. Bila Subuh datang menjelang, udara masih dingin, tariklah selimutmu dan tidurlah sayangku seperti putri kayangan.
Aku lihat engkau jarang-jarang mengambil Wudhu'. Ini bagus sekali karena engkau tidak memubadzirkan air dan tidak meninggikan tagihan air PAM rumahmu.
Aku lihat engkau tak pernah membaca Bismillah sewaktu akan makan. Ini yang ku suka, karena aku bisa ikut makan denganmu. Dan bila sudah kenyang, engkau tak pernah menyebut Alhamdulillah. Ini bagus juga. Cukuplah bersendawa kuat-kuat seperti lembu.
Hai manusia yang ku cintai....
Kemarin ada seorang peminta sedekah datang ke rumahmu. Engkau menghalau dia suruh pergi tanpa engkau memberikan duit serupiah atau seteguk air. Ini sangat bagus dan terpuji, karena engkau tidak membuang-buang duit dan tak memubadzirkan rezekimu yang melimpah ruah yang di beri Allah kepadamu. Engkau seorang yang hemat dan cermat. Biarlah rezekimu untuk kegunaan engkau seorang, untuk menonton film, berholiday di Eropa dan membeli kemewahan-kemewahan dunia.
Aku lihat bila engkau bertemu dengan sahabatmu, engkau tidak mengucapkan ”Assalamu ' alaikum...”. Engkau mengucapkan ”Hi Everybody!” Ini bagus juga karena engkau menunjukan bahwa engkau mengerti gaya orang kafir dan engkau mengerti bahasa Inggris. Tak perlu engkau belajar membaca bahasa Arab karena ini bukan bahasa internasional. Engkau telah membuktikan bahwa engkau dan aku adalah sahabat sejati. Sudah tentu engkau adalah seorang yang budiman kepada kaumku.
Duhai manusia....
Di sepanjang Ramadhan, telah lemah seluruh urat sendiku, telah terbakar seluruh jasadku, merintih ku kesakitan, bila setiap kali kulihat hamba-hamba-Nya yang penat berpuasa di malam hari dan menghabiskan waktu malam dengan bertarawih, berdzikir dan merintih mengenang dosa-dosanya yang lampau, karena pintu taubat telah di buka oleh Allah dengan seluas-luasnya....
Namun, aku tetap gembira karena ada di antara kalian yang masih sudi menjadi temanku..... melepaskan peluang rahmat Allah dengan mengucap perkataan yang sia-sia, mengumpat, tidak bertarawih, malah mencipta persengketaan..... aduhai tubuh badanku yang terbelenggu telah segar kembali..... cukuplah nafsu manusia sendiri menjadi penyambung tugasku di sepanjang bulan yang di rahmati ini.....
Di akhirat nanti, engkau dan aku dapat berjalan bersama-sama..... kita berpegang-tangan menuju Neraka Jahannam.
Sahabatmu Yang Tercinta,
Iblis Laknatullah"
...Nah, doa ini tentu manjur juga buat kita untuk mengobati penyakit malezz, bête, galau, gelisah, dan kawan-kawannya...
...Doa ini adalah jembatan perlindungan dari rasa malas dan kejenuhan, agar segala urusan kita dimudahkan dan terhindar dari segala bentuk bencana...
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang dari-Nya semua nikmat berasal. Shalawat dan salam semoga terlimpah dan tercurah kepada baginda Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Pernah saya dan kawan-kawan berada di kantor seorang teman bersama Ustadz Farid Okbah, guru kami sewaktu belajar di Pesantern Tinggi Al-Islam, Bekasi. Saat sudah masuk waktu shalat Zuhur, kami bergegas menuju Mushalla. Karena banyaknya jumlah kami sehingga mushalla tidak muat. Tidak semuanya berada di belakang imam. Masih ada dua orang yang tidak mendapat tempat. Lalu beliau hafidzahullah meminta kepada keduanya untuk berada di sebelah kanan dan kirinya, sejajar dengan beliau.
Boleh jadi keadaan yang kami alami juga pernah atau akan dialami oleh salah seorang pembaca. Pertanyannya, apakah dibolehkan penataan shaff semacam itu, yakni salah satu atau dua orang makmum sejajar dengan imam sementara yang lainnya berada di belakang imam?
Saat kondisi tempat shalat sempit dan tidak mencukupi untuk menampung semua Jamaah untuk shalat secara bersama, maka dibolehkan bagi sebagian makmum untuk shalat di sebelah imam, sejajar dengannya, dengan posisi di sebelah kanan imam. Tidak mengapa imam bergeser di sebelah kiri makmum, tidak pas di tengah jamaah karena sempitnya tempat.
Makmum yang berdiri sejajar dengan imam tersebut tidak boleh berada di sebelah kirinya, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah menggeser (menarik atau memindahkan) Ibnu Abbas saat ia berada di sebelah kiri beliau. Lalu memindahkan ke sebelah kanannya, kecuali kalau tempat tersebut benar-benar sangar sempit.
Dalam Fatawa Lajnah Daimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa disebutkan: "Apabila makmum hanya seorang, maka ia berdiri di sebelah kanan Imam. Hal ini berdasarkan riwayat yang terdapat dalam Shahihain, dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata: "Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bangun shalat malam. Akupun ikut shalat. Aku berdiri di sebelah kiri beliau. Beliau menarik tanganku dan memindahkanku di sebelah kanannya" (Hadits yang disepakati keshahihannya).
Dan ini apabila sebelah kanan imam kosong sebagaimana hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma. Adapun jika di sebelah kanan imam telah berdiri orang, maka tidak mengapa orang kedua menempati sebelah kiri imam. Shalat jamaah semacam itu tetap sah. Tetapi petunjuk sunnah, para makmum agar berdiri di belakang imam jika masih memungkinkan. Karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan Jabir dan Jabbar saat keduanya berdiri di sebelah kanan dan kiri beliau agar shalat di belakang beliau. (HR. Muslim dalam shahihnya). Selanjutnya, apabila tempat shalat benar-benar sangar sempit sehingga tidak memungkinkan untuk mengerjakan shalat berjamaah sekaligus, maka shalat boleh diadakan secara bergantian menjadi beberapa jamaah." Wallahu Ta'ala A'lam....Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...
...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...
...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...
...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...
Oleh: Badrul Tamam
قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
Qaddarallahu Wamaa Syaa-a Fa'ala
"Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat."
Boleh juga diucapkan:
قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
Qadarulluhi Wamaa Syaa-a Fa'ala
"ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat."
Sumber Doa:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, "Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain." Akan tetapi katakanlah, "Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat." Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan." (HR. Muslim)
Keterangan
Seorang muslim semestinya menjadi orang yang dinamis dan penuh semangat. Karena setiap dari amalnya tidak akan disia-siakan oleh Rabb-nya. Kerjanya mencari nafkah untuk keluarganya dan semua usahanya untuk kebaikan dunia dan akhiratnya dinilai sebagai shadaqah untuknya, ibadah yang berpahala. Namun perlu diingat, ia tidak boleh hanya bersandar kepada usahnya semata. Tapi haruslah ia mentawakkalkan usahanya kepada Allah dengan berdoa, berharap, dan menyerahkan hasil puncaknya kepada Tuhannya. Sehingga ia berada pada maqam Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in.
Kemudian kesungguhan usaha dan isti'anah tadi diikuti dengan husnudzan (prasangkan baik kepada-Nya), bahwa Dia akan memberikan yang terbaik kepada dirinya. Setiap ketetapan Allah mengandung hikmah yang boleh jadi tak diketahuinya dan tak terlihat oleh matanya. Sehingga saat terjadi sesuatu yang berbeda ia tetap tenang dan semangat. Ia tidak melemah dan menyesali usahanya tersebut. Karena penyesalan hanya akan menghapuskan amal kebaikan yang sudah dikumpulkannya. Apalagi sampai mengandai-andai, kalau saja ia memilih usaha atau melakukan sesuatu yang lain tentu tidak terjadi apa yang sudah terjadi. Padahal apa yang sudah terjadi itu adalah takdir yang sudah sudah dicatat jauh-jauh sebelum itu diperbuat, diketahui dan dikehendaki oleh-Nya. Karenanya ucapan semacam itu termasuk bagian yang bertentangan dengan rukun iman ke enam, iman kepada takdir yang baik dan yang buruk (menurut kita).
Mengandai-andai di kala terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginan akan membuka pintu syetan, yakni akan menyebabkan cacian, lemah semangat, marah, was-was, merana dan sedih. Semua ini termasuk dari perbuatan syetan sehingga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang membuka kesempatan pada syetan untuk menggoda hamba dengan kalimat pengandaian ini. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar melihat kejadian itu dari sudut pandang takdir. Ia meyakini, apa yang sudah Allah takdirkan atasnya pasti itu akan menimpanya, tak seorangpun yang sanggup menghalau dan menolaknya.
. . . Mengandai-andai di kala terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginan akan membuka pintu syetan, yakni akan menyebabkan cacian, lemah semangat, marah, was-was, merana dan sedih. . .
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menasihatkan kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Ketahuilah, seandainya semua umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Sebaliknya, seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan kemadharatan kepadamu, maka mereka tidak bisa menimpakan kemadharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. al-Tirmidzi)
Benar, urusan telah usai. Tidak mungkin yang sudah terjadi bisa berubah lagi. Perkara ini sudah tercatat di Lauh Mahfudz lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Akan terjadi apa yang sudah tercatat bagaimanapun ia berbuat. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan untuk berkata: "Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat." Artinya: ini yang terjadi adalah takdir dan qadha' (ketetapan) Allah. Apa yang Allah 'Azza wa Jalla kehendaki maka Dia lakukan, tak seorangpun yang bisa melarang dan menahan-Nya dari melakukan keinginan-Nya dalam kekuasaan yang Dia miliki. Maka Setiap yang Dia kehendaki pastilah Dia akan melakukannya.
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (QS. Huud: 107)
Meyakini Hikmah dalam Takdir
Mengembalikan kenyataan yang tidak sesuai keinginan kepada takdir haruslah disertai dengan keyakinan bahwa setiap takdir Allah mengandung hikmah yang dikehendaki oleh-Nya. Boleh jadi hikmah tersebut tak mampu kita baca atau tidak nampak oleh kita. Meyakini ini hukumnya wajib berdasarkan firman Allah Ta'ala,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah." (QS. al-Insan: 30)
Allah menjelaskan bahwa Masyi'ahnya (kehendak-Nya) diiringi dengan hikmah dan ilmu. Berapa banyak kenyataan yang dibenci orang tapi akibatnya baik untuk dirinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu." (QS. Al-Baqarah; 216) dan banyak kejadian-kejadian yang membenarkan ayat ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menuturkan dalam Syarh Riyadhus Shalihin, pernah terjadi kecelakaan pesawat yang berangkat dari Riyadh menuju Jeddah. Di dalamnya terdapat penumpang sangat banyak, lebih dari 300 penumpang. Terdapat salah seorang calon penumpang yang sudah membeli tiket berada di ruang tunggu sampai tertidur. Tatkala diumumkan bahwa pesawat segera berangkat, para penumpang memasuki pesawat. Sementara seorang penumpang tadi masih terlelap dalam tidurnya. Saat ia bangun, pintu pesawat sudah tertutup. Ia sangat menyesal dan jengkel. Kemudian Allah menetapkan takdir-Nya dengan hikmah-Nya, pesawat tersebut mengalami kecelakaan, terbakar. Semua penumpangnya tewas. Subhanallah, laki-laki yang tertidur tadi selamat dari kecelakaan karena tertidur. Ia marah karena tertinggal pesawat, tapi kejadian itu malah membawa kebaikan untuk dirinya. Semoga kita menjadi orang cerdas yang senantiasa beriman kepada Allah dan takdir-Nya, serta selalu berbaik sangka kepada-Nya. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]
ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.
Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.
Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)
Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.
Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’râf: 180)
Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.
| No | Nama | Arti | terdapat dalam |
| 1 | ar-Rahmaan | Yang Maha Pemurah | Al-Faatihah: 3 |
| 2 | ar-Rahiim | Yang Maha Pengasih | Al-Faatihah: 3 |
| 3 | al-Malik | Maha Raja | Al-Mu’minuun: 11 |
| 4 | al-Qudduus | Maha Suci | Al-Jumu’ah: 1 |
| 5 | as-Salaam | Maha Sejahtera | Al-Hasyr: 23 |
| 6 | al-Mu’min | Yang Maha Terpercaya | Al-Hasyr: 23 |
| 7 | al-Muhaimin | Yang Maha Memelihara | Al-Hasyr: 23 |
| 8 | al-’Aziiz | Yang Maha gagah | Aali ‘Imran: 62 |
| 9 | al-Jabbaar | Yang Maha Perkasa | Al-Hasyr: 23 |
| 10 | al-Mutakabbir | Yang Memiliki Kebesaran | Al-Hasyr: 23 |
| 11 | al-Khaaliq | Yang Maha Pencipta | Ar-Ra’d: 16 |
| 12 | al-Baari’ | Yang Mengadakan dari Tiada | Al-Hasyr: 24 |
| 13 | al-Mushawwir | Yang Membuat Bentuk | Al-Hasyr: 24 |
| 14 | al-Ghaffaar | Yang Maha Pengampun | Al-Baqarah: 235 |
| 15 | al-Qahhaar | Yang Maha Perkasa | Ar-Ra’d: 16 |
| 16 | al-Wahhaab | Yang Maha Pemberi | Aali ‘Imran: 8 |
| 17 | ar-Razzaq | Yang Maha Pemberi Rezki | Adz-Dzaariyaat: 58 |
| 18 | al-Fattaah | Yang Maha Membuka (Hati) | Sabaa’: 26 |
| 19 | al-’Aliim | Yang Maha Mengetahui | Al-Baqarah: 29 |
| 20 | al-Qaabidh | Yang Maha Pengendali | Al-Baqarah: 245 |
| 21 | al-Baasith | Yang Maha Melapangkan | Ar-Ra’d: 26 |
| 22 | al-Khaafidh | Yang Merendahkan | Hadits at-Tirmizi |
| 23 | ar-Raafi’ | Yang Meninggikan | Al-An’aam: 83 |
| 24 | al-Mu’izz | Yang Maha Terhormat | Aali ‘Imran: 26 |
| 25 | al-Mudzdzill | Yang Maha Menghinakan | Aali ‘Imran: 26 |
| 26 | as-Samii’ | Yang Maha Mendengar | Al-Israa’: 1 |
| 27 | al-Bashiir | Yang Maha Melihat | Al-Hadiid: 4 |
| 28 | al-Hakam | Yang Memutuskan Hukum | Al-Mu’min: 48 |
| 29 | al-’Adl | Yang Maha Adil | Al-An’aam: 115 |
| 30 | al-Lathiif | Yang Maha Lembut | Al-Mulk: 14 |
| 31 | al-Khabiir | Yang Maha Mengetahui | Al-An’aam: 18 |
| 32 | al-Haliim | Yang Maha Penyantun | Al-Baqarah: 235 |
| 33 | al-’Azhiim | Yang Maha Agung | Asy-Syuura: 4 |
| 34 | al-Ghafuur | Yang Maha Pengampun | Aali ‘Imran: 89 |
| 35 | asy-Syakuur | Yang Menerima Syukur | Faathir: 30 |
| 36 | al-’Aliyy | Yang Maha Tinggi | An-Nisaa’: 34 |
| 37 | al-Kabiir | Yang Maha Besar | Ar-Ra’d: 9 |
| 38 | al-Hafiizh | Yang Maha Penjaga | Huud: 57 |
| 39 | al-Muqiit | Yang Maha Pemelihara | An-Nisaa’: 85 |
| 40 | al-Hasiib | Yang Maha Pembuat Perhitungan | An-Nisaa’: 6 |
| 41 | al-Jaliil | Yang Maha Luhur | Ar-Rahmaan: 27 |
| 42 | al-Kariim | Yang Maha Mulia | An-Naml: 40 |
| 43 | ar-Raqiib | Yang Maha Mengawasi | Al-Ahzaab: 52 |
| 44 | al-Mujiib | Yang Maha Mengabulkan | Huud: 61 |
| 45 | al-Waasi’ | Yang Maha Luas | Al-Baqarah: 268 |
| 46 | al-Hakiim | Yang Maha Bijaksana | Al-An’aam: 18 |
| 47 | al-Waduud | Yang Maha Mengasihi | Al-Buruuj: 14 |
| 48 | al-Majiid | Yang Maha Mulia | Al-Buruuj: 15 |
| 49 | al-Baa’its | Yang Membangkitkan | Yaasiin: 52 |
| 50 | asy-Syahiid | Yang Maha Menyaksikan | Al-Maaidah: 117 |
| 51 | al-Haqq | Yang Maha Benar | Thaahaa: 114 |
| 52 | al-Wakiil | Yang Maha Pemelihara | Al-An’aam: 102 |
| 53 | al-Qawiyy | Yang Maha Kuat | Al-Anfaal: 52 |
| 54 | al-Matiin | Yang Maha Kokoh | Adz-Dzaariyaat: 58 |
| 55 | al-Waliyy | Yang Maha Melindungi | An-Nisaa’: 45 |
| 56 | al-Hamiid | Yang Maha Terpuji | An-Nisaa’: 131 |
| 57 | al-Muhshi | Yang Maha Menghitung | Maryam: 94 |
| 58 | al-Mubdi’ | Yang Maha Memulai | Al-Buruuj: 13 |
| 59 | al-Mu’id | Yang Maha Mengembalikan | Ar-Ruum: 27 |
| 60 | al-Muhyi | Yang Maha Menghidupkan | Ar-Ruum: 50 |
| 61 | al-Mumiit | Yang Maha Mematikan | Al-Mu’min: 68 |
| 62 | al-Hayy | Yang Maha Hidup | Thaahaa: 111 |
| 63 | al-Qayyuum | Yang Maha Mandiri | Thaahaa: 11 |
| 64 | al-Waajid | Yang Maha Menemukan | Adh-Dhuhaa: 6-8 |
| 65 | al-Maajid | Yang Maha Mulia | Huud: 73 |
| 66 | al-Waahid | Yang Maha Tunggal | Al-Baqarah: 133 |
| 67 | al-Ahad | Yang Maha Esa | Al-Ikhlaas: 1 |
| 68 | ash-Shamad | Yang Maha Dibutuhkan | Al-Ikhlaas: 2 |
| 69 | al-Qaadir | Yang Maha Kuat | Al-Baqarah: 20 |
| 70 | al-Muqtadir | Yang Maha Berkuasa | Al-Qamar: 42 |
| 71 | al-Muqqadim | Yang Maha Mendahulukan | Qaaf: 28 |
| 72 | al-Mu’akhkhir | Yang Maha Mengakhirkan | Ibraahiim: 42 |
| 73 | al-Awwal | Yang Maha Permulaan | Al-Hadiid: 3 |
| 74 | al-Aakhir | Yang Maha Akhir | Al-Hadiid: 3 |
| 75 | azh-Zhaahir | Yang Maha Nyata | Al-Hadiid: 3 |
| 76 | al-Baathin | Yang Maha Gaib | Al-Hadiid: 3 |
| 77 | al-Waalii | Yang Maha Memerintah | Ar-Ra’d: 11 |
| 78 | al-Muta’aalii | Yang Maha Tinggi | Ar-Ra’d: 9 |
| 79 | al-Barr | Yang Maha Dermawan | Ath-Thuur: 28 |
| 80 | at-Tawwaab | Yang Maha Penerima Taubat | An-Nisaa’: 16 |
| 81 | al-Muntaqim | Yang Maha Penyiksa | As-Sajdah: 22 |
| 82 | al-’Afuww | Yang Maha Pemaaf | An-Nisaa’: 99 |
| 83 | ar-Ra’uuf | Yang Maha Pengasih | Al-Baqarah: 207 |
| 84 | Maalik al-Mulk | Yang Mempunyai Kerajaan | Aali ‘Imran: 26 |
| 85 | Zuljalaal wa al-’Ikraam | Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan | Ar-Rahmaan: 27 |
| 86 | al-Muqsith | Yang Maha Adil | An-Nuur: 47 |
| 87 | al-Jaami’ | Yang Maha Pengumpul | Sabaa’: 26 |
| 88 | al-Ghaniyy | Yang Maha Kaya | Al-Baqarah: 267 |
| 89 | al-Mughnii | Yang Maha Mencukupi | An-Najm: 48 |
| 90 | al-Maani’ | Yang Maha Mencegah | Hadits at-Tirmizi |
| 91 | adh-Dhaarr | Yang Maha Pemberi Derita | Al-An’aam: 17 |
| 92 | an-Naafi’ | Yang Maha Pemberi Manfaat | Al-Fath: 11 |
| 93 | an-Nuur | Yang Maha Bercahaya | An-Nuur: 35 |
| 94 | al-Haadii | Yang Maha Pemberi Petunjuk | Al-Hajj: 54 |
| 95 | al-Badii’ | Yang Maha Pencipta | Al-Baqarah: 117 |
| 96 | al-Baaqii | Yang Maha Kekal | Thaahaa: 73 |
| 97 | al-Waarits | Yang Maha Mewarisi | Al-Hijr: 23 |
| 98 | ar-Rasyiid | Yang Maha Pandai | Al-Jin: 10 |
| 99 | ash-Shabuur | Yang Maha Sabar | Hadits at-Tirmizi |