Rabu, 25 April 2012

Paham Agama, Syarat Utama Menjadi Baik di Sisi Allah Ta'ala

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Kepada kaum muslimin kami berpesan, supaya bertakwa kepada Allah setiap saat. Istiqamah dalam mengamalkan ajaran Islam. Hendaknya takut kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya di mana saja berada. Lalu melakukan introspeksi diri, sehingga tidak meninggalkan apa yang telah Allah wajibkan dan tidak menerjang apa yang telah Dia larang atas kalian.
Kami juga berwasiat agar terus bertafaqquh fiddin (mengkaji Islam), mempelajari kaidah-kaidah dasar Islam dan mengetahui masalah halal dan haram. Karena di sanalah letak kebaikan umat Islam. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Siapa yang kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan jadikan orang itu fakih terhadap dien." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'Anhu)
Yufaqqihu, maknanya: menganugerahkan kecerdasan, pengetahuan, dan kefahaman terhadap urusan Islam (hukum-hukum syar'i). Faham di sini adalah faham yang membuahkan amal shalih agar kefahaman dan ilmunya tersebut tidak menjadi bumerang bagi dirinya. Karena siapa yang tidak mengamalkan ilmu yang telah dipahaminya, ia termasuk orang yang mendapat murka, sebagaimana yang tersebut dalam hadits shahih, "Al-Qur'an itu menjadi pembelamu atau yang memberatkanmu."
Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tegas mencela orang yang memahami kebenaran dan telah menyampaikannya kepada yang lain, namun ia sendiri tidak mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ  كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
 "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (QS. Al-Shaff: 2-3)
. . . siapa yang tidak mengamalkan ilmu yang telah dipahaminya, ia termasuk orang yang mendapat murka . .
Saat menjelaskan hadits di atas, banyak ulama menyebutkan juga hadits lain, dari Abu Musa al-Asy'ari, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah seperti air hujan yang turun ke tanah. Di antaranya  ada tanah yang subur yang menyerap air sehingga menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga tanah tandus yang menahan air sehingga orang-orang bisa memanfaatkannya; mereka minum darinya, memberi minum ternaknya, dan mengairi tanaman. Ada juga tanah yang keras; tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan tanam-tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mengambil manfaat apa yang dengannya Allah mengutusku, sehingga ia belajar dan mengajarkannya. Dari sisi lain ada orang yang tidak mau mengambil manfaat darinya, serta orang yang sama sekali tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus." (Muttafaq 'Alaih)
Dalam kitab Miftah Daar al-Sa'adah (1/60-61), milik Ibnul Qayyim, beliau menjelaskan, manusia dilihat dari sisi kesiapan dan kesediaannya menerima risalah (ajaran) yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam tiga bagian; Pertama, ada orang yang menghafal, memahami maksudnya, dan mampu menyimpulkan hukum, hikmah dan faedah-faedahnya. Mereka inilah yang diumpamakan sebagai tanah yang bisa menerima air. Hafalan itu seperti tanah yang menumbuhkan tanaman yang sangat banyak. Sedangkan pemahaman, ma'rifah, istimbath adalah seperti penumbuhan tanaman dengan air. Inilah perumpamaan para huffaz, fuqaha', dan ahlul hadits.
Kedua, orang yang diberi hafalan dan ucapan, lalu mencatatnya, tetapi mereka tidak dberi pemahaman makna dan kemampuan menyimpulkan hukum, mengungkap hikmah dan faidahnya. Mereka itu seperti orang yang membaca dan menghafalkan Al-Qur'an, juga memperhatikan huruf dan i'rabnya, tetapi mereka tidak diberi pemahaman khusus dari Allah.
Manusia memiliki pemahaman yang sangat beragam. Cukup banyak yang hanya mampu memahami satu atau dua hukum, dan ada juga yang sanggup memahami seratus atau dua ratus hukum. Mereka itu seperti tanah yang menahan air air untuk kepentingan orang banyak, untuk minum, memberi minum ternak, dan menyiram tanaman.
Kedua macam manusia di atas termasuk orang-orang yang bahagia. Macam pertama, derajatnya lebih tinggi dan terhoقmat, "Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Jumu'ah: 4)
Ketiga, manusia yang tidak mendapatkan bagian; baik berupa hafalan, pemahaman, riwayah, maupun dirayah. Jika diumpamakan mereka ini laksana tanah tandus yang tidak bisa menumbuhkan tumbuhan dan tidak pula menyimpan air. Mereka itu orang-orang celaka.
Macam dua pertama, orang-orang yang sama-sama belajar dan mengajar, masing-masing sesuai dengan apa yang dimilikinya. Satu bagian mengetahui lafaz-lafaz Al-Qur'an dan menghafalnya. Satunya lagi, memiliki pengetahuan tentang makna, hukum, dan ilmu-ilmunya.
Adapun golongan ketiga adalah orang-orang yang tidak mempunyai ilmu dan tidak pula bergelut dalam dunia pengajaran. Mereka itulah yang tidak mau menyambut dan menerima petunjuk Allah. Mereka itu lebih buruk dari binatang ternak dan akan menjadi bahan bakar neraka.
Hadits di atas mencakup  penjelasan tentang kemuliaan ilmu agama dan mengajarkannya serta keagungan statusnya. Juga mencakup kesengsaraan orang-orang yang tidak memilikinya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan beberapa macam manusia ditinjau dari sisi ilmu tersebut, bahwasanya di antara mereka ada yang memperoleh kebahagiaan dan ada pula yang celaka dan sengsara. (disarikan secara ringkas)
Maka siapa yang Allah Ta'ala kehendaki kebaikan padanya, Dia akan buka hidayah hatinya dan menjadikan ia paham terhadap dien ini, Allah jadikan pemahaman terhadap nash syar'i pada hatinya, sehingga ia mampu memahami Al-Qur'an dan hadits.
. . . siapa yang tidak mengetahui urusan dien (Islam) maka ia termasuk orang yang tidak dikehendaki oleh Allah menjadi baik. . . 
Sebaliknya, siapa yang tidak mengetahui urusan dien (Islam) maka ia termasuk orang yang tidak dikehendaki oleh Allah menjadi baik. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari berkata, "Mafhum hadits bahwa orang yang tidak bertafakkuh fiddin, yakni tidak belajar kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabangnya, maka sungguh ia diharamkan kebaikan. Abu Ya'la mengeluarkan hadits Mu'awiyah dari jalur lain yang dhaif, ditambahkan di ujungnya,  "Siapa yang tidak dijadikan paham terhadap dien, maka Allah tidak peduli kepadanya." Makna hadits ini adalah shahih, karena siapa yang tidak mengetahui perkara-perkara (ajaran) agamanya, maka ia bukan seorang fakih dan tidak pula mencari pengetahuan, sehingga pantas ia disifati bahwa ia tidak dikehendaki mendapatkan kebaikan." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Mau Masuk Surga? Anda Wajib Meyakini Lima Prinsip Ini!


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Setiap kita pastinya ingin masuk surga. Hanya orang yang rusak akal dan fitrahnya yang siap masuk neraka. Sedangkan untuk masuk surga ada syarat yang harus dipenuhi. Ada jalan yang harus ditempuh. Ada pula I'tiqad dan amal yang harus dijalankan.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan syarat-syarat dan jalan menuju surga. Di antara yang terdapat dalam hadits Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ
"Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat) pula bahwa surga benar adanya dan neraka benar adanya; pasti Allah memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang telah diperbuatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Makna syahadat ialah: persaksian dengan hati dan lisan dengan memahami maknanya dan mengamalkan tuntutannya secara zahir dan batin. Sebuah persaksian tidak sah kecuali jika bersumber dari ilmu (pengetahuan), keyakinan, ikhlas, dan jujur. Maka siapa yang bersaksi dengan lima perkara di atas berarti ia berikrar (mengucapkan)-nya dengan memahami maknanya, mengamalkan tuntutannya, secara lahir dan batin. (Lihat: Fathul Majid: 51-51)
Makna Laa Ilaha Illallah
Kesaksian pertama yang disebutkan dalam hadits di atas adalah bersyahadat Laa Ilaha Illallah. Maknanya bersaksi bahwa tidak ada yang disembah dengan hak (benar) kecuali Allah. Karena ma'budat (sesembahan/yang diibadahi) itu ada dua; Pertama, disembah dengan benar, yaitu Allah Ta'ala. Kedua, disembah dengan batil, yaitu setiap yang diibadahi selain Allah seperti patung-patung, berhala, para wali, orang-orang shalih dan semisalnya.
Maka makna syahadat ini: mengucapkan kalimat syahadat dengan mengetahui maknanya, benar-benar meyakininya, dan mengamalkan tuntutannya. Maka siapa yang tidak mau mengucapkan Laa Ilaha Illallah maka tidak dihukumi sebagai muslim, walaupun hatinya benar-benar mengetahuinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaha Illallah . ."
Berucap dengan lisan saja juga belum cukup, tapi ia harus meyakininya dengan hatinya. Siapa yang hatinya tidak meyakini kalimat ini, ia bukan seorang muslim. Orang-orang munafikin mengucapkan Laa Ilaha Illallah, tapi mereka tidak meyakini maknanya. Mereka mengucapkannya atas kepentingan duniawi, karenanya mereka berada di kerak neraka paling bawah.
Munafikin: mereka menampakkan Islamnya dan menyembunyikan kekafirannya, di antara perbuatan mereka menghina agama, Rasul, atau membenci Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan apa yang beliau bawa.
Syaikh Abdurrahman bin Hasan berkata: "Siapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah tanpa mengetahui maknanya, tanpa meyakini dan mengamalkan tuntutannya: berupa sikap bara' (lepas diri) dari kesyirikan, ikhlas dalam ucapan dan perbuatan, -ucapan hati dan lisan, amal hati dan anggota badan,- maka ucapannya itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama)." (Fath al-Majid: 51)
Kalimat, wahdahu (Dia semata) menguatkan penetapan ibadah kepada Allah. sementara Laa Syariikalah (Tidak ada sekutu baginya) menguatkan peniadaan hak bermacam bentuk ibadah kepada selain Allah. Sehingga ringkas dari kandungan persaksian pertama dalam hadits ini, meniadakan peribadatan dari selain Allah dan menetapkannya hanya untuk Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan inilah isi Al-Qur'an dari awal sampai akhir, menjelaskan makna ini, menetapkan dan mengajak kepadanya.
. . . Siapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah tanpa mengetahui maknanya, tanpa meyakini dan mengamalkan tuntutannya, maka ucapannya itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama). . .
Makna Muhammad Abduhu wa Rasuluh
Menjadi hamba Allah dan Rasul-Nya merupakan sifat mulia yang dimiliki Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bahwa beliau menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau bukan sekutu bagi Allah. Tidak pula mengajak manusia untuk beribadah kepadanya dan mengangkatnya sebagai Tuhan selain Allah. Karenanya tidak boleh bersikap berlebihan kepada beliau dengan mengangkatnya melebihi derajat kehambaannya kepada derajat tuhan.
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam memang seorang hamba yang wajib beribadah kepada Tuhannya seperti yang lainnya, namun beliau dimuliakan lebih tinggi atas manusia selainnya dengan risalah. Allah memilihnya untuk menjadi utusan-Nya yang mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya semata. Sehingga beliau tidak boleh diremehkan, perkataanya tidak boleh didustakan, perintahnya tidak boleh dikesampingkan, dan larangannya tidak boleh diterjang. Kehidupannya menjadi teladan yang wajib diikuti. Siapa yang ingin dicintai oleh Allah, ia harus mengikuti beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Dalam Fathul Majid disebutkan, "Syahadat Muhammad adalah utusan Allah menuntut iman kepadanya, membenarkan kabar berita yang disampaikannya, mentaati apa yang beliau perintahkan, meninggalkan apa yang beliau larang dan cela, dan tidak mendahulukan perkataan siapapun atas perkataanya."
Makna Isa Adalah Hamba Allah dan Utusan-Nya
Kalimat Abdullah (hamba Allah) adalah sebagai bantahan terhadap keyakinan Nasrani yang meyakini Isa bukan hamba Allah tapi sebagai anak Allah, satu oknum dari tiga tuhan (trinitas). Bahkan mereka sampai menyebut Isa adalah Allah itu sendiri. Allah mengingkari keyakinan mereka dan menghukumi kafir atasnya, "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam"," (QS. Al-Maidah: 72), "Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga". (QS. Al-Maidah: 73).
Warasuluh (utusan-Nya) sebagai bantahan dan pengingkaran terhadap keyakinan Yahudi yang menentang risalah Nabi Isa 'alaihis salam, mendustakannya, menghinanya sebagai anak zina, terus memusuhi dan berusaha membunuhnya.           Kemudian Allah menyelamatkannya dengan mengangkatnya ke langit.
Dalam hadits ini dijelaskan hakikat Nabi Isa dan penciptaannya, keunikan dalam penciptaan beliau sebagai penciptaan Nabi Adam 'Alaihis Salam. Allah ciptakan dengan kalimatnya KUN (jadilah), maka beliau ada tanpa seorang bapak. Karenanya Nabi Isa disebut dengan kalimat karena Allah menciptakan Nabi Isa dengannya. Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (QS. Ali Imran: 59) Maksudnya: Jika kalian heran dengan penciptaan Isa, dia diciptakan dari seorang Ibu tanpa bapak, ia diciptakan dengan kalimat KUN, lalu jadilah ia, maka bagaimana kalian tidak lebih heran dengan penciptaan Adam yang diciptakan tanpa perantara seorang bapak dan ibu?.
Kehidupan yang Allah berikan kepadanya sebagaimana ruh-ruh bani Adam yang lain. Maknanya bukan dalam diri beliau 'Alaihis Salam bersarang ruh dari Dzat Allah Ta'ala, Maha suci Allah dari memiliki sekutu. Dikhususkan penyebutannya di sini karena beliau diciptakan tanpa perantara bapak. Ini terjadi dengan kuasa Allah 'Azza wa Jalla, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Makna Surga dan Neraka Benar Adanya
Dia juga bersaksi bahwa surga adalah negeri orang-orang bertakwa, sementara neraka sebagai tempat tinggal orang-orang kafir. Keduanya benar-benar ada. Keduanya sudah diciptakan dan sudah ada. Keduanya kekal dan tidak akan hilang untuk selama-lamanya.
Ibnul Qayim menjelaskan, bahwa surga dan neraka adalah negeri balasan pada hari kiamat. Negeri yang tak akan binasa dan hancur untuk selama-lamanya. Jika seseorang beriman dengan dua negeri ini maka akan mendorongnya beramal shalih dan bertaubat dari dosa. Sementara yang tidak beriman kepada akhirat, ia akan berbuat semaunya sesuai keinginan syahwatnya, ia tidak mengintrsopeksi diri mereka sendiri sebagaimana yang Allah kabarkan tentang kaum zalimin dan kafirin. Allah Ta'ala berfirman,
أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُمْ مُخْرَجُونَ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
"Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?,jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi." (QS. Al-Mukminun: 35-37)
. . . Jika seseorang beriman dengan dua negeri ini maka akan mendorongnya beramal shalih dan bertaubat dari dosa. Sementara yang tidak beriman kepada akhirat, ia akan berbuat semaunya sesuai keinginan syahwatnya . . .
Balasan Untuk Lima Kesaksian di Atas
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan bagi siapa yang bersaksi dengan benar terhadap lima perkara yang telah disebutkan maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga seberapa amal yang diperbuatnya.
أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ
"Pasti Allah memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang telah diperbuatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain berbunyi, "Allah pasti memasukkannya ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki."
Para ulama menjelaskan tentang makna balasan baik di atas dalam dua pendapat: Pertama, Allah pasti memasukkannya ke dalam surga walaupun di antara amalnya ada yang baik dan yang buruk. Karena ahli tauhid pasti akan dimasukkan ke dalam surga, hanya saja dia bisa dimasukkan segera atau diakhirkan setelah sebelumnya dibersihkan dosa-dosanya di neraka. Semua ini menunjukkan keutamaan tauhid dan ia menghapuskan dosa-dosa.
. . . ahli tauhid pasti akan dimasukkan ke dalam surga, hanya saja dia bisa dimasukkan segera atau diakhirkan setelah sebelumnya dibersihkan dosa-dosanya di neraka. . .
Kedua, Allah pasti memasukkanya ke dalam surga sesuai dengan amalnya. Karena sesungguhnya penghuni surga itu berbeda-beda atau bertingkat-tingkat tergantung sedikit dan banyaknya amal mereka. Amal penghuni surga saat di dunia berbeda-beda sehingga di akhirat mereka juga bertingkat-tingkat. Sebagiannya lebih tinggi daripada yang lain sesuai dengan kadar amal mereka.
Sesungguhnya surga itu bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih tinggai daripada yang lainnya. Neraka juga demikian, sebagiannya lebih rendah daripada yang lainnya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya di surga ada seratus derajat (tingkatan), jarak antara satu derajat dengan satunya seperti jarak antara langit dan bumi yang semua itu disediakan bagi para mujahidin (orang-orang yang berjihad) di jalan-Nya." (HR. al-Bukhari) Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Dalil Haramnya Menjual Ginjal dan Anggota Tubuh Manusia Lainnya

Oleh: Ustadz Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Penjualan organ tubuh manusia semakin marak. Berita dan informasi tentangnya semakin banyak. Ibarat susunan piramida, yang tak terlihat paslinya lebih banyak. Di antara organ yang paling banyak diperjualbelikan adalah ginjal.
Beragam motif niatan orang menjual ginjalnya. Dari mencari biaya untuk pengobatan atas penyakitnya, membayar hutang, sampai untuk membeli barang mewah berharga.
BBC Indonesia pada 7 April 2012 menurunkan berita dengan judul yang cukup memprihatinkan, " Pemuda jual ginjal demi iPad dan iPhone".
Detiknews, pada Jumat, 17/06/2011, memberikan judul pada beritanya"Demi Lunasi Utang Suami, Wanita Malaysia Berniat Jual Ginjal."
Kegiatan penyimpangan ini tak terkecuali, bisa jadi, dilakukan juga oleh seorang muslim. Padahal setiap muslim dalam menjalani hidupnya wajib memperhatikan aturan-aturan agamanya. Karena kepatuhan kepada hukum agamanya, sesuai keyakinannya, akan menentukan nasibnya di akhirat. Oleh sebab itu penting sekali untuk disampaikan tentang hukum tentangnya.
. . . setiap muslim dalam menjalani hidupnya wajib memperhatikan aturan-aturan agamanya. Karena kepatuhan kepada hukum agamanya, sesuai keyakinannya, akan menentukan nasibnya di akhirat. . .
Dalam kajian bulanan malam Ahad pertama bulan April tahun ini, di masjid Al-Muhajirin – Kavling harapan Kita, Bekasi Utara, DR. Ahmad Zain an-Najah menjelaskan, "Setiap anggota tubuh manusia itu tidak boleh diperjualbelikan." Kemudian beliau memberikan beberapa contohnya, di antaranya darah, ginjal, paru-paru, tangan, jari-hari, dan anggota  tubuh lainnya.
Beliau menuturkan, pernah ada seorang pemuda menyampaikan kepada beliau, dia ingin menjual ginjalnya untuk biaya berobatnya. Dia mengaku, tidak memiliki biaya untuk berobat. "Bolehkah saya jual ginjal saya untuk berobat?," tanya pemuda itu kepada beliau.
Doktor alumnus Al-Azhar, Kairo Mesir ini menjawab, menjual ginjal hukumnya haram. Bagaimana Anda mengobati penyakit dengan mengambil ginjal. Sama saja. Anda mengobati penyakit dalam diri Anda, tapi Anda menyakiti diri Anda.
Beliau menambahkan jawaban, berobat tidak harus menggunakan uang. Banyak pengobatan yang gratis seperti dengan tidur malam cukup, minum air putih, dengan membaca Al-Qur'an, tidak bersedih, dan lain sebagainya. "Subhanallah, berobat tidak harus mahal, bahkan bisa sampai gratis," Tutur beliau.
. . . Setiap anggota tubuh manusia itu tidak boleh diperjualbelikan. Karenanya menjual ginjal hukumnya haram. . .
(DR. Ahmad Zain An-Najah)
Haram Jual Beli Anggota Tubuh
Syarat sah Jual beli, di antaranya, sang penjual benar-benar yang memiliki barang yang akan dijual. Hal ini didasarkan pada hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dan Abu Dawud, dari Umar bin Syu'aib, dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda: "Jangan kamu menjual apa yang tidak menjadi milikmu"
Para ulama sepakat, jika seseorang menjual apa yang bukan miliknya atau sesuatu yang pemiliknya tidak dibolehkan menjualnya, maka jual beli tersebut batil. Sangat maklum, anggota tubuh seseorang bukan milik dirinya dan menurut syariat ia tidak dibolehkan menjualnya. Maka hukumnya masuk dalam menjual sesuatu yang bukan miliknya. Terlebih jual beli anggota tubuh manusia, -baik muslim atau kafir-, bentuk penghinaan terhadapnya, padahal Allah Ta'ala telah muliakannya secara umum,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra': 70)
. . . anggota tubuh seseorang bukan milik dirinya dan menurut syariat ia tidak dibolehkan menjualnya. Maka hukumnya masuk dalam menjual sesuatu yang bukan miliknya. . .
Para fuqaha' telah membahas rinci tentang haramnya menjual anggota tubuh manusia karena hal itu menyalahi pemuliaan Allah terhadap manusia. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Minggu, 22 April 2012

Memulai Kebajikan Walaupun Kecil

Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai. Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air.
Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran, “Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam air?” “Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang terdampar itu akan segera mati kekeringan, “Jawab si kecil itu.
“Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya,” Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu. “Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai arti yang besar,” Lanjutnya penuh ragu.
Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.” kemudian dengan tersenyum pada lelaki tua itu, ia berkata “Aku membuat perubahan untuk satu hal. Satu Tindakan Sebuah kebaikan yang sederhana dapat membuat sebuah perubahan untuk keluargamu, temanmu, bahkan untuk wajah wajah asing yang kadang tidak kita kenal”. Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar sekurang-kurangnya bagi yang satu ini.” Kata si kecil itu.
Pesan Moral : kadang kadang, kita selalu merasa tidak bisa berbuat apa apa seperti layaknya anak kecil itu, namun walaupun itu cuma tindakan kebaikan sederhana, tapi membuat begitu banyak perbedaan untuk Bintang laut itu sendiri
Ketika anda memberikan sedikit senyuman untuk orang lain, baik itu keluarga anda, teman anda ataupun orang asing yang anda temui, anda telah membuat perbedaan besar bagi mereka.
Tindakan kecil yang sederhana dapat membuat perbedaan besar kepada seseorang yang sedang membutuhkan. Menyelamatkan Bintang laut adalah sedikit aksi yang membuktikan kebenaran itu
Kita sering mendambakan untuk melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali kita lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan sesuatu yang kecil. Mulailah berbuat kebajikan pada hal-hal kecil, maka engkau akan diberkati dalam hal-hal besar.

Sabtu, 21 April 2012

Apakah Kotoran Cicak Itu Najis, Bagaimana Jika Jatuh di Bak Mandi?


Pertanyaan:
Assalamu 'Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
1. Apakah kotoran cicak itu najis?
2. Apakah air bak yang ada kotoran cicak suci untuk wudhu dan mandi?
Mohon penjelasannya ustadz, karena selama ini jika ada kotoran cicak di bak mandi saya selalu kuras, karena saya takut jika air tersebut najis padahal air bak masih penuh.
Wassalamu 'Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Trisno, Boyolali
______________________
______________________
Jawaban:
Wa'alaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Senang bersua dengan antum, semoga Antum senantiasa mendapat limpahan rahmat dari Allah. Saudara Trisno, cicak termasuk binatang yang diperintahkan untuk dibunuh. Karenanya dagingnya haram dimakan. Dan setiap hewan yang dagingnya haram dimakan maka kotorannya adalah najis. Ini kaidah menurut sebagian ulama, namun tidak mendapat kesepakatan para ulama. Sebagian mereka yang lain menganggap kotoran cicak adalah suci. Karena asal sesuatu itu mubah dan suci sehingga ada dalil kuat yang menerangkan najisnya. Dan menurut mereka tidak ada satu dalil yang secara jelas menunjukkan najisnya kotoran cicak.
Jikapun kotoran cicak adalah najis, namun jumlahnya itu sangat sedikit dan sulit dihindari sehingga dimaafkan. Sebagaimana darah nyamuk yang dipukul saat menempel dibaju, maka itu dimaafkan karena sedikitnya. Maka saat kotoran cicak itu jatuh di bak mandi, air di dalamnya tetap suci. Terlebih, -seperti yang Antum sebutkan- air yang di dalamnya jumlahnya banyak yang mana kotoran tersebut tidak sampai merubah bau, rasa, dan warnanya. Karenanya ia tetap pada kesuciannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ
"Sesungguhnya benda najis tidak merubah air menjadi najis kecuali ia sampai merubah bau, rasa, dan warnanya." (HR. Ibnu Majah dari Abu Umamah al-Bahili)
Kotoran cicak yang jatuh di bak air Antum tidak sampai menajiskan airnya. Sehingga airnya tetap suci dan menyucikan. Anda boleh berwudhu dan mandi dari sana. Jika ingin membersihkan cukuplah Antum ambil kotorannya dan buang. Jangan buang semua air di dalamnya, karena itu perbuaran tabzir, menyia-nyiakan sesuatu. Dan menyia-nyiakan sesuatu termasuk perbuatan setan.
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra': 26-27) Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/vos-islam.com]

Rabu, 18 April 2012

"SURAT TERBUKA DARI IBLIS"




Inilah isi surat terbuka dari Iblis

"Hai manusia yang tersayang....
Tadi malam waktu akan tidur, aku lihat engkau tidak memuji Allah, tidak bersholawat, tidak membaca Ayat Kursi dan Al Ikhlas. Ini bagus sekali karena waktu akan tidur adalah waktu untuk tidur, bukan untuk membaca Al-Qur'an. Sungguh engkau tidak membuang-buang waktu.


Pagi ini aku lihat engkau tidak bangun mengerjakan Shalat Subuh. Bagus sekali! Engkau telah membuktikan bahwa engkau adalah sahabatku yang budiman. Janganlah engkau susah-susah bangun dan memendekan tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak dan nyaman. Jangan hiraukan suara ayam berkokok yang membangunkanmu dari tidurmu. Bila Subuh datang menjelang, udara masih dingin, tariklah selimutmu dan tidurlah sayangku seperti putri kayangan.


Aku lihat engkau jarang-jarang mengambil Wudhu'. Ini bagus sekali karena engkau tidak memubadzirkan air dan tidak meninggikan tagihan air PAM rumahmu.


Aku lihat engkau tak pernah membaca Bismillah sewaktu akan makan. Ini yang ku suka, karena aku bisa ikut makan denganmu. Dan bila sudah kenyang, engkau tak pernah menyebut Alhamdulillah. Ini bagus juga. Cukuplah bersendawa kuat-kuat seperti lembu.


Hai manusia yang ku cintai....
Kemarin ada seorang peminta sedekah datang ke rumahmu. Engkau menghalau dia suruh pergi tanpa engkau memberikan duit serupiah atau seteguk air. Ini sangat bagus dan terpuji, karena engkau tidak membuang-buang duit dan tak memubadzirkan rezekimu yang melimpah ruah yang di beri Allah kepadamu. Engkau seorang yang hemat dan cermat. Biarlah rezekimu untuk kegunaan engkau seorang, untuk menonton film, berholiday di Eropa dan membeli kemewahan-kemewahan dunia.


Aku lihat bila engkau bertemu dengan sahabatmu, engkau tidak mengucapkan ”Assalamu ' alaikum...”. Engkau mengucapkan ”Hi Everybody!” Ini bagus juga karena engkau menunjukan bahwa engkau mengerti gaya orang kafir dan engkau mengerti bahasa Inggris. Tak perlu engkau belajar membaca bahasa Arab karena ini bukan bahasa internasional. Engkau telah membuktikan bahwa engkau dan aku adalah sahabat sejati. Sudah tentu engkau adalah seorang yang budiman kepada kaumku.


Duhai manusia....
Di sepanjang Ramadhan, telah lemah seluruh urat sendiku, telah terbakar seluruh jasadku, merintih ku kesakitan, bila setiap kali kulihat hamba-hamba-Nya yang penat berpuasa di malam hari dan menghabiskan waktu malam dengan bertarawih, berdzikir dan merintih mengenang dosa-dosanya yang lampau, karena pintu taubat telah di buka oleh Allah dengan seluas-luasnya....


Namun, aku tetap gembira karena ada di antara kalian yang masih sudi menjadi temanku..... melepaskan peluang rahmat Allah dengan mengucap perkataan yang sia-sia, mengumpat, tidak bertarawih, malah mencipta persengketaan..... aduhai tubuh badanku yang terbelenggu telah segar kembali..... cukuplah nafsu manusia sendiri menjadi penyambung tugasku di sepanjang bulan yang di rahmati ini.....


Di akhirat nanti, engkau dan aku dapat berjalan bersama-sama..... kita berpegang-tangan menuju Neraka Jahannam.

Sahabatmu Yang Tercinta,
Iblis Laknatullah"

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

>> 20 MUSUH IBLIS <<


Pada suatu hari, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa ' sallam bertemu dengan iblis lalu baginda bertanya :
”Siapakah orang yang paling engkau benci?”
Jawab iblis :
”Aku benci kepada 20 jenis umatmu” :


1. Engkau sendiri wahai Muhammad
2. Orang yang beramal dengan ilmu
3. Orang yang mengamalkan isi ajaran Al-Qur'an
4. Orang yang mengumandangkan Adzan untuk Shalat fardhu
5. Orang yang mengasihi orang miskin dan anak yatim
6. Orang yang penyayang
7. Orang yang tunduk pada kebenaran
8. Orang muda yang taat kepada Allah Subhanahu Wata ' Alla
9. Orang yang menjaga makanannya (makanan halal)
10. Orang muda yang saling berkasih sayang karena Allah Subhanahu Wata ' Alla
11. Orang yang Shalat berjama'ah
12. Orang yang Shalat Tahajjud
13. Orang yang menjaga dirinya dari perkara haram
14. Orang yang menasehati saudaranya dengan ikhlas
15. Orang yang senantiasa mengekalkan Wudhunya
16. Orang yang murah hati
17. Orang yang berakhlak mulia
18. Orang yang yakin dengan jaminan rezeki Allah Subhanahu Wata ' Alla
19. Orang yang berbuat baik terhadap janda (menjaga kebaikan mereka)
20. Orang yang siap diri untuk mati.


Semoga kita bisa menghindari semua tipu daya iblis ini Aamiin Yaa Allah.

By : Mutiara Amaly

Yakin dia Sahabat Terbaik Kamu?


Temen, sohib, karib, sahabat ato apalah namanya, pasti dah jadi bagian dari kehidupan kita sehari- hari. Bayangin aja kalo idup tanpa mereka, dunia bakal terasa garing banget plus sepi.
Bgaul itu dah jadi kodrat manusia. Nggak da manusia yang nggak btuh orang laen. Yang dah mati aja pasti masih butuh orang laen buat ngebawa dia. Kan nggak lucu juga kalo doi bakal jalan sendiri ke kuburan, ya toh?. So, nggak di sangkal lagi kalo bgaul itu naluri dari lahir manusia. Tapi.. nah niy masalahnya, yang perlu kita waspadai yaitu dengan siapa kita gaul? Apa iya sih kita kudu milih teman?
Pertemanan itu ada tingkatan lepelnya juga. May be cuman sekedar teman kenalan, trus ada yang teman biasa seperti teman maen, atau temen kelas, dll. Ada juga teman yang lumayan dekat gara- gara kita biasa ketemu atau malah curhat sama dia. Yang ini nih yang biasa kita sebut dengan temen gaul. En yang terakhir, yang porsinya lebih deket lagi, yaitu yang biasa kita sebut sahabat.
Apa kamu pernah denger salah satu nasehat dari ortu, yaitu kalo `Bteman jangan suka milih-milih` ? Biasanya sih tuh kalimat sasarannya adalah buat yang pada sombong, en maunya bgaul ma yang selevel ajah. Nah paaas bener tuh sama yang di sabdakan nabi kalo definisi "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim). Emang, siapapun pasti nggak bakalan nyaman begaul ma teman yang hobinya ngerendahin orang kan.
Trus kalo soal milih temennya sendiri, pada prakteknya dalam bgaul kita juga kudu seleksi tuh teman- teman loh ternyata. Cuman kriterianya ajah yang kudu pas, yaitu kriteria atawa syarat- syarat yang bakal bisa nuntun kita jadi remaja yang baik, syukur- syukur bisa lebih baek dari sekarang.
Trus apa aja sih kriteria yang bisa ngejadiin kita remaja yang baek? Pastinya, kriteria yang bdasarkan pada kebaikan. Maksudnya, teman yang kita pilih harusnya mereka yang akhlaknya baek, jujur, rajin belajar, gemar menabung, hee...dll, dsb.
Sirius nih ya, ibarat virus penyakit, kebaikan ato kejelekan temen kita itu bakal menular ke kita. Nggak sedikit loh contohnya, temen kita yang tadinya alim, gara- gara salah salah gaul jadi suka ngerokok awalnya, trus lama- lama eh nggak taunya sekarang bermetamorfosis jadi bandar narkoba, Astagfirullah.
Maka itu, kita kudu ingeeet baek- baek pesan Rasulullah yang manteb niy, cekidot yach...
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)
Trus juga, di hadits lain Rasulullah bersabda: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)
Lanjut!! Imam Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)
Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Hati-hatilah kalian dalam memilih teman, sesungguhnya teman adalah bekal di dunia dan akhirat.”
Saran deh ya, Kalo ada ekskul Rohis di skul ato lingkungnan kamu, jangan buru- buru alergi dah. Tuh justru kesempatan buat kamu supaya ngerti jalan idup yang bener kya gimana. Asli` deh, bakal banyak sifat baik di komunitas ini yang bisa kamu jadiin contoh. Orang- orang yang sholeh, bakal dengan tangan terbuka nrima kamu, apa adanya. Catat ye, apa adanya. Nggak pke pra syarat apapun cuy. Malah kalo bisa kalo kamu belum tau, mereka insyaAllah bakal nunjukin kamu ke arah yang bener. Karena insyaAllah mereka dah pada ngerti, kalo mukmin itu bersaudara. En ukhuwah Islamiyah itu adalah karena Allah swt.
Deket ma orang sholeh tuh bakalan adem boss. Kalo nggak percaya, cari aja deh tandingannya di luar yang bisa ngebuat batin kamu adem, pasti nggak bakal sedahsyat kalo lagi gaul ma mereka. Soalnya tujuan persahabatan yang ada, juga karena Allah aja. Apa adanya, bukan ada apanya. Kan bakal enak tuh kalo pas iman kita turun, eh ada sahabat yang ngingetin kita, trus akirnya kita yang melenceng jadi lurus lagi. Berkah bener kan berteman karena Allah aja? Selanjutnya, simak baek baek yang ni...
Sebuah hadist dari Umar bin Khattab, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda: "Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan nabi & bukan syuhada, tapi para nabi & syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa mereka & bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka." Rasulullaah saw bersabda, "Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah. Mereka tidak memiliki hubungan nasab & tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama. Demi Allah mereka adalah cahaya & mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut.Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih" Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (TQS Yunus :62)
Trus、Allah Subhanahu wata`ala juga sudah menjelaskan gimana keadaan orang-orang yang salah gaul di Al-Qur'an. Cekidot nich...
”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".(QS AlAhzab ayat 66-68)
Fiuuhhh... ternyata temen juga bisa nyumbangin pencatatan sejarah idup kita bro. Mangkanya, mumpung masih muda, kudu pinter- pinter pilih en pilah temen. Soalnya bakal ada peluang yang besar loh buat ngedapetin naungan di akhirat,di mana saat tuch nggak bakal ada naungan kecuali dari Allah swt. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi Saw bersabda, ada 7 kategori orang yang mendapat naungan Allah di hari kiamat. Salah satunya yaitu pemuda yang menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah swt. Kategori lainnya yaitu dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula.
Yah emang siy, no body`s perfect gituh. May be pikiran dari salah satu kalian bilang, jangan- jangan tar baek tapi kekurangan dia yang laen malah nyiksa kita, nah lo bgimana tuh?. Kalo mang gitu masalahnya, pokoknya yang kudu kita ingat cuman satu, kalo idup cuman satu kali pren, en jangan ampe salah buat pilihan salah satunya tentang milih temen. Dan siapapun mereka, yang pasti mereka bisa membawa kita lebih dekat dengan Allah subhanahu wata`ala. Itu aja kuncinya pren.
So, good luck buat kamu yang pengen ngedapetin temen en memilih memilah teman, smoga pilihan kamu kali ini en sterusnya nggak salah lagi yach. aamiin.

Obat Anti Galau, Malezz, Bete dan Gelisah Agar Tetap Semangat!!


Pagi hari, waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tak seperti biasanya, Sandra belum keluar dari kamarnya. Ibunya sudah bolak-balik mengingatkannya dari depan pintu kamar agar Sandra bergegas keluar dan bersiap berangkat ke sekolah. Namun, jawabannya cuma satu dan selalu sama, “Iya.” Sementara di dalam kamar, Sandra hanya tiduran di tempat tidur dan memegang hp warna biru lautnya. Status di fesbuk-nya, “Males banget, bête mau ke sekolah.”
Padahal, Sandra tahu betul, kalau dia tidak berangkat sekolah hari itu, maka ia akan mendapatkan “semprotan” dari ibunya yang rada galak sekaligus melewatkan kesempatan untuk dapat mengikuti seleksi peserta lomba debat antar sekolah seprovinsi. Tapi, Sandra emang bener-bener mogok. Nggak mood sama sekali untuk berangkat sekolah. Rasanya melihat seragam sekolah, bagaikan melihat serbet dapur yang udah bau bin dekil gara-gara seminggu nggak dicuci, alias memuakkan! Tak peduli ibunya yang sudah mulai berteriak dan mengomel panjang-pendek di depan kamar, Sandra malah memasang headset hp-nya dan mulai mendengarkan musik sambil bernyanyi.
Pernah merasakan hal seperti ini? Pasti pernah kayaknya ya Sob. Bete sampe ke ubun-ubun dan rasanya males banget melakukan hal yang harus kita lakukan. Yang itu lagi-yang itu lagi. Rasanya dunia nggak berubah warna dan membebani hati. Kalau yang gini sampai lama mengendap, bisa kacau-beliau semua urusan kita.
...Nah, doa ini tentu manjur juga buat kita untuk mengobati penyakit malezz, bête, galau, gelisah, dan kawan-kawannya...
Nah, yang kayak gini juga pernah menghinggapi shahabat Rasulullah yang bernama Abu Umamah. Abu Umamah duduk dengan air muka yang lesu di dalam masjid, padahal ketika itu biasanya seluruh penduduk Madinah sedang berada dalam kesibukan, baik bertani, berdagang, maupun mengurus keperluan rumah tangga. Rasulullah kemudian bertanya ada apakah gerangan dengan shahabat tersebut. Abu Umamah kemudian mengatakan pada Rasulullah bahwa ia dalam keadaan yang sangat berat, gelisah, juga terlilit hutang.
Rasulullah SAW kemudian mendekati shahabatnya tersebut dan berkata, “Bukankah aku telah mengajarkanmu sebuah ucapan yang bila kamu mengucapkannya maka Allah akan menghilangkan kesedihan dan melunaskan hutangmu?”
Mau tahu, apa yang pernah diajarkan Rasulullah kepada shahabatnya? Nah, inget-inget ya Sobat. Jangan lupa kayak shahabat Rasul yang satu ini. Nah, ini dia nih doa yang pernah diajarkan Rasulullah SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kesusahan, berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan ketakutan, dan berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang” (HR Abu Daud).
Doa ini diajarkan Rasulullah untuk diucapkan setiap pagi dan petang. Hasilnya… beberapa waktu kemudian, Abu Umamah telah kembali terlihat cerah-ceria dan mengaku bahwa semua kesulitannya telah hilang.
...Doa ini adalah jembatan perlindungan dari rasa malas dan kejenuhan, agar segala urusan kita dimudahkan dan terhindar dari segala bentuk bencana...
Nah, doa ini tentu manjur juga buat kita untuk mengobati penyakit malezz, bête, galau, gelisah, dan kawan-kawannya. Kalau kamu tiba-tiba kena rasa malezz trus bête yang bikin mogok nggak bergerak, maka bacalah doa ini sekhusyu’ yang kamu bisa. Terutama di pagi hari dan petang hari. Pagi, waktu di mana seharusnya kita seoptimal mungkin bergerak dan sore, waktu di mana biasanya kelelahan sudah mulai hinggap. Doa ini adalah jembatan bagi kita untuk meminta perlindungan kepada-Nya dari rasa malas dan kejenuhan yang kadang nggak bisa kita selesaikan sendiri. Juga doa, agar segala urusan kita dimudahkan dan terhindar dari segala bentuk bencana.
Insya Allah, bête dan malas yang menyergap bakalan hilang. Sebagai pencegahan, nggak ada salahnya, doa ini kita baca juga setiap pagi dan petang. Agar semangat untuk melakukan yang terbaik selalu full dan kita selalu terjaga dari setiap kesulitan yang tidak mampu kita atasi. Sip ‘kan? [Anis/voa-islam.com]

Karena Sempit, Bolehkah Seorang Makmum Berdiri Sejajar Dengan Imam?


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang dari-Nya semua nikmat berasal. Shalawat dan salam semoga terlimpah dan tercurah kepada baginda Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Pernah saya dan kawan-kawan berada di kantor seorang teman bersama Ustadz Farid Okbah, guru kami sewaktu belajar di Pesantern Tinggi Al-Islam, Bekasi. Saat sudah masuk waktu shalat Zuhur, kami bergegas menuju Mushalla. Karena banyaknya jumlah kami sehingga mushalla tidak muat. Tidak semuanya berada di belakang imam. Masih ada dua orang yang tidak mendapat tempat. Lalu beliau hafidzahullah meminta kepada keduanya untuk berada di sebelah kanan dan kirinya, sejajar dengan beliau.

Boleh jadi keadaan yang kami alami juga pernah atau akan dialami oleh salah seorang pembaca. Pertanyannya, apakah dibolehkan penataan shaff semacam itu, yakni salah satu atau dua orang makmum sejajar dengan imam sementara yang lainnya berada di belakang imam?

Saat kondisi tempat shalat sempit dan tidak mencukupi untuk menampung semua Jamaah untuk shalat secara bersama, maka dibolehkan bagi sebagian makmum untuk shalat di sebelah imam, sejajar dengannya, dengan posisi di sebelah kanan imam. Tidak mengapa imam bergeser di sebelah kiri makmum, tidak pas di tengah jamaah karena sempitnya tempat.

Makmum yang berdiri sejajar dengan imam tersebut tidak boleh berada di sebelah kirinya, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah menggeser (menarik atau memindahkan) Ibnu Abbas saat ia berada di sebelah kiri beliau. Lalu memindahkan ke sebelah kanannya, kecuali kalau tempat tersebut benar-benar sangar sempit.

Dalam Fatawa Lajnah Daimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa disebutkan: "Apabila makmum hanya seorang, maka ia berdiri di sebelah kanan Imam. Hal ini berdasarkan riwayat yang terdapat dalam Shahihain, dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata: "Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bangun shalat malam. Akupun ikut shalat. Aku berdiri di sebelah kiri beliau. Beliau menarik tanganku dan memindahkanku di sebelah kanannya" (Hadits yang disepakati keshahihannya).

Dan ini apabila sebelah kanan imam kosong sebagaimana hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma. Adapun jika di sebelah kanan imam telah berdiri orang, maka tidak mengapa orang kedua menempati sebelah kiri imam. Shalat jamaah semacam itu tetap sah. Tetapi petunjuk sunnah, para makmum agar berdiri di belakang imam jika masih memungkinkan. Karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan Jabir dan Jabbar saat keduanya berdiri di sebelah kanan dan kiri beliau agar shalat di belakang beliau. (HR. Muslim dalam shahihnya). Selanjutnya, apabila tempat shalat benar-benar sangar sempit sehingga tidak memungkinkan untuk mengerjakan shalat berjamaah sekaligus, maka shalat boleh diadakan secara bergantian menjadi beberapa jamaah." Wallahu Ta'ala A'lam.

Jangan Galau, Allah Bersama Kita! Inilah 4 Ayat Anti Galau!


Oleh: Zakariya Hidayatullah
Mahasiswa STID Muhammad Natsir
Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.
“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.
Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.
...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...
Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.
Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.
Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)
Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.
...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...
Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.
Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.
Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;
1. Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).
Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.
2. Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).
...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...
Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.
Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.
3. Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).
4. Dzikrullah (Mengingat Allah)
Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...
Sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).
Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.
Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita. [voa-islam.com]

Doa Bila Tertimpa Sesuatu yang Tidak Diinginkan


Oleh: Badrul Tamam

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Qaddarallahu Wamaa Syaa-a Fa'ala

"Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat."

Boleh juga diucapkan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Qadarulluhi Wamaa Syaa-a Fa'ala

"ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat."

Sumber Doa:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, "Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain." Akan tetapi katakanlah, "Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat." Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan." (HR. Muslim)

Keterangan

Seorang muslim semestinya menjadi orang yang dinamis dan penuh semangat. Karena setiap dari amalnya tidak akan disia-siakan oleh Rabb-nya. Kerjanya mencari nafkah untuk keluarganya dan semua usahanya untuk kebaikan dunia dan akhiratnya dinilai sebagai shadaqah untuknya, ibadah yang berpahala. Namun perlu diingat, ia tidak boleh hanya bersandar kepada usahnya semata. Tapi haruslah ia mentawakkalkan usahanya kepada Allah dengan berdoa, berharap, dan menyerahkan hasil puncaknya kepada Tuhannya. Sehingga ia berada pada maqam Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in.

Kemudian kesungguhan usaha dan isti'anah tadi diikuti dengan husnudzan (prasangkan baik kepada-Nya), bahwa Dia akan memberikan yang terbaik kepada dirinya. Setiap ketetapan Allah mengandung hikmah yang boleh jadi tak diketahuinya dan tak terlihat oleh matanya. Sehingga saat terjadi sesuatu yang berbeda ia tetap tenang dan semangat. Ia tidak melemah dan menyesali usahanya tersebut. Karena penyesalan hanya akan menghapuskan amal kebaikan yang sudah dikumpulkannya. Apalagi sampai mengandai-andai, kalau saja ia memilih usaha atau melakukan sesuatu yang lain tentu tidak terjadi apa yang sudah terjadi. Padahal apa yang sudah terjadi itu adalah takdir yang sudah sudah dicatat jauh-jauh sebelum itu diperbuat, diketahui dan dikehendaki oleh-Nya. Karenanya ucapan semacam itu termasuk bagian yang bertentangan dengan rukun iman ke enam, iman kepada takdir yang baik dan yang buruk (menurut kita).

Mengandai-andai di kala terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginan akan membuka pintu syetan, yakni akan menyebabkan cacian, lemah semangat, marah, was-was, merana dan sedih. Semua ini termasuk dari perbuatan syetan sehingga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang membuka kesempatan pada syetan untuk menggoda hamba dengan kalimat pengandaian ini. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar melihat kejadian itu dari sudut pandang takdir. Ia meyakini, apa yang sudah Allah takdirkan atasnya pasti itu akan menimpanya, tak seorangpun yang sanggup menghalau dan menolaknya.

. . . Mengandai-andai di kala terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginan akan membuka pintu syetan, yakni akan menyebabkan cacian, lemah semangat, marah, was-was, merana dan sedih. . .

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menasihatkan kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, "Ketahuilah, seandainya semua umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Sebaliknya, seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan kemadharatan kepadamu, maka mereka tidak bisa menimpakan kemadharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. al-Tirmidzi)

Benar, urusan telah usai. Tidak mungkin yang sudah terjadi bisa berubah lagi. Perkara ini sudah tercatat di Lauh Mahfudz lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Akan terjadi apa yang sudah tercatat bagaimanapun ia berbuat. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan untuk berkata: "Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat." Artinya: ini yang terjadi adalah takdir dan qadha' (ketetapan) Allah. Apa yang Allah 'Azza wa Jalla kehendaki maka Dia lakukan, tak seorangpun yang bisa melarang dan menahan-Nya dari melakukan keinginan-Nya dalam kekuasaan yang Dia miliki. Maka Setiap yang Dia kehendaki pastilah Dia akan melakukannya.

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (QS. Huud: 107)

Meyakini Hikmah dalam Takdir

Mengembalikan kenyataan yang tidak sesuai keinginan kepada takdir haruslah disertai dengan keyakinan bahwa setiap takdir Allah mengandung hikmah yang dikehendaki oleh-Nya. Boleh jadi hikmah tersebut tak mampu kita baca atau tidak nampak oleh kita. Meyakini ini hukumnya wajib berdasarkan firman Allah Ta'ala,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah." (QS. al-Insan: 30)

Allah menjelaskan bahwa Masyi'ahnya (kehendak-Nya) diiringi dengan hikmah dan ilmu. Berapa banyak kenyataan yang dibenci orang tapi akibatnya baik untuk dirinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu." (QS. Al-Baqarah; 216) dan banyak kejadian-kejadian yang membenarkan ayat ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menuturkan dalam Syarh Riyadhus Shalihin, pernah terjadi kecelakaan pesawat yang berangkat dari Riyadh menuju Jeddah. Di dalamnya terdapat penumpang sangat banyak, lebih dari 300 penumpang. Terdapat salah seorang calon penumpang yang sudah membeli tiket berada di ruang tunggu sampai tertidur. Tatkala diumumkan bahwa pesawat segera berangkat, para penumpang memasuki pesawat. Sementara seorang penumpang tadi masih terlelap dalam tidurnya. Saat ia bangun, pintu pesawat sudah tertutup. Ia sangat menyesal dan jengkel. Kemudian Allah menetapkan takdir-Nya dengan hikmah-Nya, pesawat tersebut mengalami kecelakaan, terbakar. Semua penumpangnya tewas. Subhanallah, laki-laki yang tertidur tadi selamat dari kecelakaan karena tertidur. Ia marah karena tertinggal pesawat, tapi kejadian itu malah membawa kebaikan untuk dirinya. Semoga kita menjadi orang cerdas yang senantiasa beriman kepada Allah dan takdir-Nya, serta selalu berbaik sangka kepada-Nya. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]

Nama – Nama Allah | 99 Asmaul Husna

 ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.

Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)

Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.

Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’râf: 180)

Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.


No

Nama

Arti

terdapat dalam

1

ar-Rahmaan

Yang Maha Pemurah

Al-Faatihah: 3

2

ar-Rahiim

Yang Maha Pengasih

Al-Faatihah: 3

3

al-Malik

Maha Raja

Al-Mu’minuun: 11

4

al-Qudduus

Maha Suci

Al-Jumu’ah: 1

5

as-Salaam

Maha Sejahtera

Al-Hasyr: 23

6

al-Mu’min

Yang Maha Terpercaya

Al-Hasyr: 23

7

al-Muhaimin

Yang Maha Memelihara

Al-Hasyr: 23

8
al-’Aziiz
Yang Maha gagah
Aali ‘Imran: 62
9
al-Jabbaar
Yang Maha Perkasa
Al-Hasyr: 23

10

al-Mutakabbir

Yang Memiliki Kebesaran

Al-Hasyr: 23

11

al-Khaaliq

Yang Maha Pencipta

Ar-Ra’d: 16

12

al-Baari’

Yang Mengadakan dari Tiada

Al-Hasyr: 24

13

al-Mushawwir

Yang Membuat Bentuk

Al-Hasyr: 24

14

al-Ghaffaar

Yang Maha Pengampun

Al-Baqarah: 235

15

al-Qahhaar

Yang Maha Perkasa

Ar-Ra’d: 16

16

al-Wahhaab

Yang Maha Pemberi

Aali ‘Imran: 8

17

ar-Razzaq

Yang Maha Pemberi Rezki

Adz-Dzaariyaat: 58

18

al-Fattaah

Yang Maha Membuka (Hati)

Sabaa’: 26

19

al-’Aliim

Yang Maha Mengetahui

Al-Baqarah: 29

20

al-Qaabidh

Yang Maha Pengendali

Al-Baqarah: 245

21

al-Baasith

Yang Maha Melapangkan

Ar-Ra’d: 26

22

al-Khaafidh

Yang Merendahkan

Hadits at-Tirmizi

23

ar-Raafi’

Yang Meninggikan

Al-An’aam: 83

24

al-Mu’izz

Yang Maha Terhormat

Aali ‘Imran: 26

25

al-Mudzdzill

Yang Maha Menghinakan

Aali ‘Imran: 26

26

as-Samii’

Yang Maha Mendengar

Al-Israa’: 1

27

al-Bashiir

Yang Maha Melihat

Al-Hadiid: 4

28

al-Hakam

Yang Memutuskan Hukum

Al-Mu’min: 48

29

al-’Adl

Yang Maha Adil

Al-An’aam: 115

30

al-Lathiif

Yang Maha Lembut

Al-Mulk: 14

31

al-Khabiir

Yang Maha Mengetahui

Al-An’aam: 18

32

al-Haliim

Yang Maha Penyantun

Al-Baqarah: 235

33

al-’Azhiim

Yang Maha Agung

Asy-Syuura: 4

34

al-Ghafuur

Yang Maha Pengampun

Aali ‘Imran: 89

35

asy-Syakuur

Yang Menerima Syukur

Faathir: 30

36

al-’Aliyy

Yang Maha Tinggi

An-Nisaa’: 34

37

al-Kabiir

Yang Maha Besar

Ar-Ra’d: 9

38

al-Hafiizh

Yang Maha Penjaga

Huud: 57

39

al-Muqiit

Yang Maha Pemelihara

An-Nisaa’: 85

40

al-Hasiib

Yang Maha Pembuat Perhitungan

An-Nisaa’: 6

41

al-Jaliil

Yang Maha Luhur

Ar-Rahmaan: 27

42

al-Kariim

Yang Maha Mulia

An-Naml: 40

43

ar-Raqiib

Yang Maha Mengawasi

Al-Ahzaab: 52

44

al-Mujiib

Yang Maha Mengabulkan

Huud: 61

45

al-Waasi’

Yang Maha Luas

Al-Baqarah: 268

46

al-Hakiim

Yang Maha Bijaksana

Al-An’aam: 18

47

al-Waduud

Yang Maha Mengasihi

Al-Buruuj: 14

48

al-Majiid

Yang Maha Mulia

Al-Buruuj: 15

49

al-Baa’its

Yang Membangkitkan

Yaasiin: 52

50

asy-Syahiid

Yang Maha Menyaksikan

Al-Maaidah: 117

51

al-Haqq

Yang Maha Benar

Thaahaa: 114

52

al-Wakiil

Yang Maha Pemelihara

Al-An’aam: 102

53

al-Qawiyy

Yang Maha Kuat

Al-Anfaal: 52

54

al-Matiin

Yang Maha Kokoh

Adz-Dzaariyaat: 58

55

al-Waliyy

Yang Maha Melindungi

An-Nisaa’: 45

56

al-Hamiid

Yang Maha Terpuji

An-Nisaa’: 131

57

al-Muhshi

Yang Maha Menghitung

Maryam: 94

58

al-Mubdi’

Yang Maha Memulai

Al-Buruuj: 13

59

al-Mu’id

Yang Maha Mengembalikan

Ar-Ruum: 27

60

al-Muhyi

Yang Maha Menghidupkan

Ar-Ruum: 50

61

al-Mumiit

Yang Maha Mematikan

Al-Mu’min: 68

62

al-Hayy

Yang Maha Hidup

Thaahaa: 111

63

al-Qayyuum

Yang Maha Mandiri

Thaahaa: 11

64

al-Waajid

Yang Maha Menemukan

Adh-Dhuhaa: 6-8

65

al-Maajid

Yang Maha Mulia

Huud: 73

66

al-Waahid

Yang Maha Tunggal

Al-Baqarah: 133

67

al-Ahad

Yang Maha Esa

Al-Ikhlaas: 1

68

ash-Shamad

Yang Maha Dibutuhkan

Al-Ikhlaas: 2

69

al-Qaadir

Yang Maha Kuat

Al-Baqarah: 20

70

al-Muqtadir

Yang Maha Berkuasa

Al-Qamar: 42

71

al-Muqqadim

Yang Maha Mendahulukan

Qaaf: 28

72

al-Mu’akhkhir

Yang Maha Mengakhirkan

Ibraahiim: 42

73

al-Awwal

Yang Maha Permulaan

Al-Hadiid: 3

74

al-Aakhir

Yang Maha Akhir

Al-Hadiid: 3

75

azh-Zhaahir

Yang Maha Nyata

Al-Hadiid: 3

76

al-Baathin

Yang Maha Gaib

Al-Hadiid: 3

77

al-Waalii

Yang Maha Memerintah

Ar-Ra’d: 11

78

al-Muta’aalii

Yang Maha Tinggi

Ar-Ra’d: 9

79

al-Barr

Yang Maha Dermawan

Ath-Thuur: 28

80

at-Tawwaab

Yang Maha Penerima Taubat

An-Nisaa’: 16

81

al-Muntaqim

Yang Maha Penyiksa

As-Sajdah: 22

82

al-’Afuww

Yang Maha Pemaaf

An-Nisaa’: 99

83

ar-Ra’uuf

Yang Maha Pengasih

Al-Baqarah: 207

84

Maalik al-Mulk

Yang Mempunyai Kerajaan

Aali ‘Imran: 26

85

Zuljalaal wa al-’Ikraam

Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan

Ar-Rahmaan: 27

86

al-Muqsith

Yang Maha Adil

An-Nuur: 47

87

al-Jaami’

Yang Maha Pengumpul

Sabaa’: 26

88

al-Ghaniyy

Yang Maha Kaya

Al-Baqarah: 267

89

al-Mughnii

Yang Maha Mencukupi

An-Najm: 48

90

al-Maani’

Yang Maha Mencegah

Hadits at-Tirmizi

91

adh-Dhaarr

Yang Maha Pemberi Derita

Al-An’aam: 17

92

an-Naafi’

Yang Maha Pemberi Manfaat

Al-Fath: 11

93

an-Nuur

Yang Maha Bercahaya

An-Nuur: 35

94

al-Haadii

Yang Maha Pemberi Petunjuk

Al-Hajj: 54

95

al-Badii’

Yang Maha Pencipta

Al-Baqarah: 117

96

al-Baaqii

Yang Maha Kekal

Thaahaa: 73

97

al-Waarits

Yang Maha Mewarisi

Al-Hijr: 23

98

ar-Rasyiid

Yang Maha Pandai

Al-Jin: 10

99

ash-Shabuur

Yang Maha Sabar

Hadits at-Tirmizi