Sabtu, 27 April 2013

Menyebut-nyebut Pemberian Membatalkan Sedekah

hapus

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Allah memuji kaum mukminin yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah dengan menjanjikan pahala yang besar sampai tujuh ratus lipat. Namun ini memilik syarat –sesudah ikhlash- agar mereka tidak mengiringinya dengan mengungkit-ungkit atau menyebut-nyebutnya dan menyakiti hati orang yang diberi. Jika ini tidak diindahkan, maka pahala infak dan sedekah mereka akan terhapus.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 164)

Ayat ini mengabarkan bahwa sedekah akan terhapus disebabkan menyebut-nyebut dan menyakiti hati orang yang diberi, walaupun sebelumnya ia telah ikhlas mengeluarkannya.  Nasib sedekah semacam ini seperti nasib sedekah yang dikeluarkan karena riya' (mencari pujian) manusia dan tidak mengharapkan ridha Allah dan pahala akhirat. Tidak diragukan, bahwa amal semacam ini tertolak. Sebabnya, karena syarat ikhlas –dikerjakan karena Allah semata- tidak terpenuhi. Pada hakikatnya, amal tersebut dikerjakan karena manusia. Sehingga amal-amalnya batal dan usahanya tidak diberi balasan.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, "Jumhur ulama berkata tentang ayat ini: sesungguhnya sedekah yang Allah tahu dari pelakunya bahwa dia menyebut-nyebut atau menyakiti orang yang diberi dengan sedekahnya itu, maka sedekah tersebut tidak akan diterima."

Larangan menyebut-nyebut pemberian bukan saja kepada orang yang diberi, tapi juga kepada orang lain. Dan seringnya menyebut-nyebut dan menceritakan pemberiannya akan menyakiti hati dan menyinggung perasaan orang yang diberi. Seperti ucapan: bukankah aku telah membantumu? Bukankah akut elah bersedekah kepadamu?Aku telah banyak berbuat baik kepadamu, aku telah memberimu ini dan itu, akau telah membantunya saat ia susah, dan semisalnya dalam rangka menangkat dirinya atau merendahkan orang yang diberi.

Ibnu Sirin pernah mendengar seseorang berkata kepada orang lain, "aku telah berbuat ini dan itu untukmu." Maka beliau berkata kepadanya: Diamlah! Tidak ada kebaikan pada amal baik apabila dihitung-hitung (disebut-sebut;-pent)."

Selain terhapus pahala sedekahnya, orang yang suka menyebut-nyebut sedekahnya terancam dengan kehinaan dan siksa yang berat di akhirat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ : الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

"Tiga orang yang tidak akan diajak bicara, tidak dilihat, dan tidak disucikan oleh Allah; sedangkan bagi mereka siksa yang pedih: yakni musbil (memanjangkan kain sampai di bawah mata kaki karena sombong), al-mannan (orang yang mengungkit-ungkit/menyebut-nyebut pemberian) dan yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim dari hadits Abu Dzarr Radhiyallahu 'Anhu)

Selayaknya orang yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya agar meninggalkan sifat tercela ini, yakni mengungkit-ungkit sedekah. Karena perbuatan tersebut adalah dosa besar dan bisa menghapuskan amal sedekah. Lebih dari itu, perbuatan tersebut menjadi sebab seseorang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dilihat dan disucikan oleh-Nya; serta menjadi sebab mendapat siksa yang pedih. Wal'yadhu Billah! [PurWD/voa-islam.com]

Falsafah 5 Jari dalam Kehidupan Sosial Manusia

Bad_finger_by_Alephunky

Pernah gak kepikir, kenapa jari-jari kita ini bentuknya berbeda-beda? Serta kalau di perhatikan secara terpisah, bentuk serta fungsinya berbeda-beda.

1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.
4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
5. Ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?).

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai tujuan (menulis, memegang, menolong anggota tubuh yg lain, melakukan pekerjaan, dll).

Pernah suatu hari saat kecil saya bertengkar dengan adik saya. Dengan menunjukan jari telunjuk ke muka adik saya dan berkata “kamu monyet” dan saya di tegur oleh papa saya bahwa hal tersebut tidak boleh di lakukan. Beliau mengatakan “tidakkah kamu ketahui 1 jari telunjuk di hadapkan kepada adikmu dan 1 jari itu mengatakan adikmu “monyet”, tapi lihat kemana 4 jari lainnya mengarah?”

Jadi, saat kita mengacungkan 1 jari telunjuk kepada orang lain dengan memaki. Maka secara tidak langsung kita 4x lipat memaki diri kita sendiri.

Kita diciptakan dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu, saling menyayangi, saling menolong, saling membantu, saling mengisi, bukan untuk saling menuduh, menunjuk, merusak, dan bahkan membunuh.

Minggu, 21 April 2013

Pembelajaran dari Lebah (Filosofi Lebah)

lebah madu

Allah Swt berfirman dalam surat An Nahl ayat 68  – 69

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًۭا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.(68)Baca berikutnya

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًۭا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌۭ

مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌۭ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.(69)

Ke dua ayat di atas memberikan penjelasan tentang lebah dan keutamaannya/ manfaatnya bagi makhluk lain dalam hal ini manusia.

Berikut adalah pembelajaran yang dapat di ambil dari Lebah.

1. Makanan lebah adalah sari bunga

Dari dulu hingga sekarang, lebah selalu memakan sari bunga yang manis. Tak pernah keliru satu kali pun lebah memakan ampas kedelai atau meminum air comberan, walau saat itu tak ada makanan satu pun ia temui.

Hal ini memberikan kita inspirasi untuk selalu memakan makanan yang baik dan jelas kehalalannya. Halal baik substansinya, maupun cara mendapatkannya. Pastikan bahwa apa yang kita makan adalah makanan yang halal dan Baik, Ingat Halal saja tidak cukup, harus Halalan Toyyiban, yang Halal belum pasti Baik, tapi yang baik Pasti Halal.

2. Saat Lebah makan, Dia memberi manfaat

Jika kita amati, ketika Lebah mengambil sari bunga secara langsung maupun Tidak lebah membantu penyerbukan Bunga.

Hal ini memberikan kita inspirasi ketika kita melakukan segala sesuatu baik bekerja ataupun yang lainnya, kita harus sebisa mungkin memberi manfaat kepada sesama, bukankah org yg paling baik adl org yg paling berguna, dan kebergunaan kita menentukan seberapa besar eksistensi kita didunia, shg ketika kita tidak ada akan ada banyak org yg merasa kehilangan.

3. Tiada yang dihasilkan lebah kecuali madu

Dari bahan yang berharga akan dihasilkan produk yang berharga pula. Begitu juga dengan lebah, tiada yang dihasilkannya kecuali madu. Madu lebah sangat manis dan mengandung manfaat yang sangat banyak untuk kesehatan dan pengobatan. Tidak pernah saya dengar ada lebah yang error dan keliru menghasilkan limbah. Karena kelebihan lebah yang dapat menghasilkan madu inilah, Tuhan sampai mengabadikannya dalam kitab suci.

Hal ini memberikan kita inspirasi untuk tidak menghasilkan sesuatu dalam hidup ini kecuali yang berharga dan penuh manfaat bagi orang banyak. Semua profesi menghasilkan suatu produk, baik barang maupun jasa. Bila kita sudah belajar dari lebah, maka tiadalah produk tersebut tersaji melainkan dengan kualitas yang terbaik dan penuh manfaat.

4.Sarang Lebah

lebah madu membuat tempat penyimpanan dengan bentuk heksagonal. sebuah bentuk penyimpanan yang efektif dibandungkan dengan bentuk geometris yang lain. lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat.

aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit di percaya. setelah menemukan sumber makanan, lebah pemandu yang di tugaskan untuk mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. ia memberitahukan kepada lebah lebah arah sudut tempat sumber makanan dari sarang mereka dengan sebuah tarian khusus. setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut, dan mampu menemukan tanpa kesulitan.

lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang mereka memulai membangun sarang. mereka memulai membangun sel sel tempat penyimpanan madu dari sudut yang berbeda pada akhirnya mereka bertemu di tengah. setelah pekerjaan usai, tidak tampak adanya keserasian ataupun tambal sulam pada sel sel tersebut. manusia tidak mampu membuat perancangan yang sempurna tanpa perhitungan geometri.

5.Lebah dan HATI

Lebah itu seperti Hati, Ketika Lebah diganggu dia akan menyengat musuhnya dengan Risiko kehilangan nyawa, karena dengan menyengat musuhnya itu dia akan membuka racun yg ada didalam tubuhnya, ketika jarum yg lebah gunakan itu tertinggal di musuhnya, racunnya didalam tubuhnya terbuka dan racunnya menyebar didalam tubuhnya, meracuni diri sendiri, lalu MATI.

HATI kita pun sama, ketika kita terganggu, diejek ataupun hal2 buruk yg lainnya yg membuat kita MARAH, JENGKEL, bahkan sampai DENDAM, sadarilah bahwa itu adalah racun yg ada pada diri kita, jika kita membiarkan perasaan itu terus menerus, itu akan menggerogoti diri kita, menyebar dalam HATI kita dan Membuat HATI kita MATI. Maafkanlah, Sesungguhnya MEMAAFKAN itu MUDAH, MAAF akan mendamaikan HATI kita, Jangan sampai RACUN menggerogoti HATI kita, apalagi sampai MEMATIKAN HATI kita, Sesungguhnya apabila HATI kita telah MATI, berarti telah datang KEMATIAN sebelum Berpisahnya JIWA/RUH dengan RAGA.

Sekelumit Filosofi Lebah, semoga memberi manfaat,

Selasa, 16 April 2013

Tauhid Inputnya, Akhlak Mulia Outputnya

timthumb (1)

Oleh: Ust. Abu Izzuddin Fuad Al-Hazimi

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalwat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga danpara sahabatnya.

Seorang Doktor di bidang aqidah bertanya kepada Syaikh DR. Umar Al Asyqor guru besar ilmu Aqidah, “Wahai syaikh, saya sudah mencapai gelar akademik tertinggi dalam ilmu aqidah, namun saya belum merasakan dalamnya aqidah ini tertanam di hati dan jiwaku.”

Maka Syaikh DR. Umar Al Asyqor menjawab: “Pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan oleh Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah kepada gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjawab: “Apa yang engkau pelajari hanyalah kaidah-kaidah (rumusan-rumusan) dalam masalah aqidah. Sedangkan jika engkau ingin merasakan dalamnya aqidah tertanam di hati dan jiwamu, maka hayati dan resapilah kandungan Al-Qur’an.”

Ikhwah Fillah rahimakumullah!...

Ilmu tauhid yang kita pelajari selama ini, ternyata baru sekedar kaidah atau rumusan seperti rumus Matematika dan Kimia atau rumus lainnya. Tanpa praktek nyata, maka rumusan tinggal rumusan tanpa arti walaupun sebanyak apapun kita menghafalnya.

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz berkata:

إِنَّ لِلإِيمَانِ فَرَائِضَ وَشَرَائِعَ وَحُدُودًا وَسُنَنًا ، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا

لَمْ يَسْتَكْمِلِ الإِيمَانَ

"Sesungguhnya iman memiliki beberapa kewajiban, syariat, hudud (batasan) dan sunnah-sunnah. Barangsiapa menyempurnakannya maka sempurnalah imannya dan barangsiapa tidak menyempurnakannya maka tidak sempurna pula imannya." (HR. Bukhari)

Oleh karena itu marilah kita beriman sejenak sebagaimana ucapan shahabat Muadz bin jabal Radhiyallahu 'Anhu:

اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً

"Duduklah bersama kami, mari kita beriman sejenak." (HR. Bukhari) Maksudnya adalah bertafakkur dan mengingat Allah sejenak saja.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ

يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2)

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

"Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena sholat tahjjud) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan." (QS. Al-Sajdah: 15)

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata : "Maha suci Rabb Kami, Sesungguhnya janji Rabb Kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.” (QS. Al-Isra’: 107 – 109)

Banyak orang menyangka bahwa akhlakul karimah tidak ada sangkut pautnya dengan tauhid atau aqidah. Sehingga seseorang yang sudah belajar tauhid tidak sedikit pun merasa risih untuk mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata kotor kepada saudaranya sesama muslim. Padahal tauhid adalah inti iman dan dalam banyak hadits RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam selalu mengaitkannya dengan adab dan akhlak. Bahkan Allah Azza wa Jalla pun menjadikan amal shalih sebagai bukti keimanan seseorang.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr 1–3)

Sesungguhnya ucapan kita, pandangan kita, pendengaran kita bahkan desiran hati kita adalah bukti iman dan tauhid kita. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusiadan kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qaaf 16–18)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Puluhan nasehat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallammengaitkan keimanan dengan ucapan, sikap dan adab kita. Bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bagian dari iman.

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ

الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada 70 atau 60 cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha IllaLlah sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Muslim)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.” (Muttafaq Alaih)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (Muttafaq Alaih)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq Alaih)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Muttafaq Alaih)

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat di atas Mizan (timbangan amal di akhirat nanti) dibandingkan akhlak yang baik” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan beliau menyatakan bahwa Hadits ini Shahih)

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahim.” (Muttafaq Alaih)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ

مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari mulut dan tangannya. Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang hijrah (menjauhi) dari segala yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Shodaqoh tidaklah akan mengurangi harta sedikitpun, dan tidaklah seorang hamba yang memberi maaf, melainkan Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan kehormatan, dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri di hadapan Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah engkau meremehkan amal kebajikan meskipun kecil, walaupun itu hanya berupa wajah yang manis ketika engkau bertemu saudaramu.” (HR. Muslim)

سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencaci seorang muslim adalah tindakan yang melampaui batas (fasiq) sedangkan membunuhnya adalah kekafiran.” (Muttafaq Alaih)

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا

أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu?” Para Shahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Rasul pun menjelaskan, “(Ghibah adalah) menyebutkan sesuatu dalam diri saudaramu yang tidak disukainya”. Seorang shahabat bertanya, “Bagaimana jika yang kami sebutkan itu memang benar-benar ada padanya ?” Rasul pun bersabda, “Jika apa yang kalian sebutkan itu memang benar ada padanya, maka berarti engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak ada padanya berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Garbage In Garbage Out (GIGO)

Meminjam istilah komputer yaitu Garbage In Garbage Out (jika sampah yang dimasukkan sampah pula yang keluar) maka jika inputnya bagus pastilah outputnya bagus pula. Jika inputnya bagus namun outputnya buruk, tentulah ada masalah pada softwarenya atau hardwarenya.

Jika seseorang telah mempelajari ilmu tauhid tetapi tauhid itu tidak tercermin pada akhlak dan adabnya, bisa jadi software yang dimasukkan salah atau hardwarenya yang ada masalah sehingga harus segera diservice atau diupgrade. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Senin, 15 April 2013

Doa agar pribadi dan keluarga istiqamah menjaga shalat

Sholat-Berjamaah-di-Masjid-Istiqlal

Shalat wajib lima waktu adalah rukun Islam yang kedua. Ia merupakan rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Ia menjadi pemisah antara seorang muslim dan seorang kafir. Seorang muslim akan melaksanakan shalat wajib lima waktu secara rutin sampai akhir hayatnya. Ia hanya memiliki dua keadaan; shalat saat masih hidup dan dishalatkan saat ia meninggal.

Sayangnya shalat wajib lima waktu pada zaman sekarang banyak dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin. Sibuk, malas, mengantuk, tak ada kawan, jauh dari masjid dan seabrek alasan lainnya diajukan untuk membela sikapnya yang meninggalkan shalat lima waktu. Jika ia seorang ayah atau suami, malas mengerjakan shalat lima waktu tersebut bisa jadi akan menular kepada istri dan anak-anaknya. Jika hal itu yang terjadi, sungguh dia telah menjadi bibit penyakit buruk yang menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Untuk itu, sangat penting bagi setiap muslim untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai kesadaran, kekuatan dan keistiqamahan dalam melaksanakan shalat lima waktu. Terlebih, shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid pada awal waktunya. Seorang ayah dan suami sangat perlu untuk melantunkan doa tersebut, agar tidak dirinya saja yang dikaruniai keistiqamahan, melainkan juga istri dan anak keturunannya.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, bapaknya para nabi dan rasul, telah mengajarkan kepada kita doa memohon keistiqamahan shalat wajib bagi diri pribadi dan anak keturunannya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang senantiasa mendirikan shalat dan juga anak keturunanku. Wahai Rabb kami, terimalah doa kami.” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Mendirikan shalat dalam ayat yang mulia ini tentu bukan sekedar mengerjakan shalat wajib semata. Mendirikan shalat adalah mengerjakan shalat wajib dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, sunnah-sunnah dan adab-adabnya. Shalat wajib dikerjakan secara berjama’ah di masjid pada awal waktunya dan dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Lebih dari itu, dilengkapi dengan shalat-shalat sunnahnya.

Doa nabi Ibrahim ‘alaihis salam ini mengingatkan kita untuk menjadi pribadi yang shalih dan juga “menshalihkan” istri dan anak-keturunan kita. Apakah kita telah istiqamah menjaga shalat wajib kita? Apakah istri dan anak-keturunan kita telah istiqamah menjaga shalat wajib mereka? Ingatlah, kelak di hari kiamat semua hal itu akan ditanyakan kepada kita selaku ayah dan suami yang bertanggung jawab atas keshalihan istri dan anak-keturunan kita. Wallahu a’lam bish-shawab. (muhib almajdi/arrahmah.com)

Pembelajaran dari “Kisah Penyelam Mutiara”

Tips Belajar Scuba Diving Untuk Pemula

Alkisah, ada seorang penyelam yang ulung. Pada suatu hari ia disuruh oleh majikannya untuk mencari mutiara yang ada di dasar laut. Ia disuruh mencari mutiara sebanyak-banyaknnya yang nantinya karena akan dibeli oleh sang majikan sendiri dengan harga yang sangat mahal. Penyelam itu juga diberikan bekal oksigen secara cuma-cuma oleh majikannya. Sang Penyelam dengan gembira dan optimis menyatakan kesanggupannya, ia berjanji akan membawa mutiara yang banyak dari hasil penyelamannya nanti.

Di dasar laut niat penyelam terbagi karena begitu takjub dan tergoda dengan keindahan lautan. Ada ikan-ikan kecil yang warna-warni serta panorama dasar laut yang indah, sampai tak terasa waktu-pun beralu. Ia segera ingat tugasnya untuk mencari mutiara. Tanpa ia sadari bahwa tabung udara di punggungnya  hampir habis.

Lalu penyelam ini merasa kebingungan karena mutiara yang diambil baru sedikit untuk dimasukan ke jaring. Belum banyak ia kumpulkan mutiara, tiba-tiba dadanya sesak sebab tabung udara telah habis, segera ia naik ke arah permukaan. Ketika berenang kepermukaan ia lupa jaringnya belum diikat. Hingga akhirnya sedikit yang bisa diambil oleh penyelam ini dan majikannya tidak mengijinkan untuk kembali menyelami lautan.

Ini merupakan suatu perumpamaan dalam hidup kita, majikan ibarat Allah yang memerintahkan sesuatu, dalam kisah diperintahkan mencari mutiara itu ibarat syariat yang dibuat oleh-Nya. Oksigen ibarat nafas kita, lautan dan segala keindahannya ibarat dunia dan keindahannya. Terkadang kita terlalaikan dengan keindahan dunia dan lupa akan kewajiban dari-Nya. Hingga pada suatu ketika telah tiba waktu kita berpisah dengan segala yang ada didunia, apa yang dijadikan bekal ternyata hanyalah sedikit. Sebagaimana dalam kisah mutiara itu dimasukan kedalam jaring dan lupa untuk mengikat jaring tersebut. Pengikat jaring itu suatu ibarat keikhlasan yang luntur karena berbagai hal yang bersifat duniawi.

Akhirnya adalah penyesalan seraya berkata “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” ( QS: Al-Fajr : 24). Setiap yang bernafas akan mengalami kematian yang dipertangunggjawabkan hanyalah amal sholeh yang diterima oleh-Nya. Sehingga apapun yang dilakukan perlu kita sadari sebagai manusia akhir-akhirnya ialah ajal yang menjemput. Jabatan, harta, tak lagi berguna manakala ajal menjemput kita. Mari kita benahi hidup kita.

Wallahu’alam. . .

Minggu, 14 April 2013

Doa agar hati cinta pada Al-Qur'an

baca-quran

Berikut doa agar hati ini cinta pada Al Qur’an. Mengapa perlu berdoa? Cinta letaknya ada di hati, sedangkan kita tidak mampu menguasai hati kita sendiri. Hati di bawah kekuasaan Allah.

Maka kita berdoa, memohon pada Allah, agar membuat hati ini cinta pada Al Qur’an.

اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ

عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ

أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِيْ وَنُورَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (laki-laki), anak dari hamba-Mu (perempuan). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, takdir-Mu berlaku atasku, dan ketetapan-Mu adalah adli. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, Nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-mu, atau yang Engkau sebutkan dalam Kitab-mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang diantara hamba-Mu (Nabi), atau yang Engkau sembunyikan di alam keghaiban-Mu; hendaknya Engkau menjadikan Al-Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku, dan penolak rasa gundahku.”

(Diambil dari sebuah hadits yang shahih, dari riwayat Ibnu Hibban.)

Bacalah doa ini banyak-banyak, berkali-kali setiap hari, agar Allah membuat hati kita cinta Al Qur’an.

Jika hati kita tidak cinta Al Qur’an, maka lawan kata dari cinta adalah benci. Jika hati kita tidak cinta Al Qur’an, maka hati kita benci pada Al Qur’an. Apa jadinya jika hati kita benci pada Al Qur’an?

Jumat, 12 April 2013

Agar Terhindar Dari Santet Atau Ilmu Hitam

pak-dukun_islampos-268x300 SANTET, apapun itu bentuknya, memang ada. Sekarang ini masyarakat kita tengah dipanaskan oleh berita tentang Eyang Subur dan segala pengaruhnya. Rasulullah SAW sudah mengajarkan kepada kita bagaimana membentengi diri dari serangan jahat ilmu hitam.

Tiap Muslim harus yakin tidak ada siapapun meski sekuat apapun dia tidak dapat memberikan manfaat atau membawa kerugian kecuali atas kehendak Allah SWT. Sehingga perlindungan terbaik bagi seorang Muslim dari teluh atau santet adalah dengan mempraktikkan cara hidup Islami, membaca Al-Qur’an dan berzikir serta berdoa secara rutin.

Benteng dan perlindungan terbaik dari teluh atau santet adalah menjaga dan memperkuat diri kita dengan mempraktikkan cara hidup Islami, membaca Al-Qur’an dan berzikir serta berdoa secara rutin.

Allah telah berjanji bahwa sebenarnya syaitan tidak dapat berkuasa mengatur hamba-hamba Allah yang benar-benar tunduk, taat dan berserah diri kepada-Nya; Syaitan akan berkuasa mengatur hanya kepada mereka yang sudi dan menyerahkan diri pada kekuasaan dan perintahnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Al-Hijr: 42) “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An-Nahl: 99-100)

Yang pertama dan utama harus dimiliki oleh seorang Muslim adalah keyakinan bahwa tidak ada siapapun meski sekuat apapun dia dapat memberikan manfaat atau membawa kerugian kecuali atas kehendak Allah SWT. Al-Qur’an mengingatkan kita berulang kali bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang dapat memberikan manfaat atau membawa kerugian kepada tiap-tiap kita.

Segala sesuatu yang menimpa manusia atau makhluk lainnya sifatnya hanya sekunder saja dan itu terjadi hanya melalui kekuatan yang berasal dari Allah SWT; sehingga obat dan penyembuh terbaik adalah dengan mencari perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT. Syaitan dengan semua tipu daya dan senjatanya dapat dikalahkan dan benar-benar akan tidak berdaya jika Allah berkehendak.

Di bawah ini adalah beberapa ayat-ayat Qur’an dan doa yang dapat dihafalkan sebagai dasar benteng perlindungan diri dari teluh atau santet:

1) Al-Fatihah
2) Tiga surat terakhir dari Al-Qur’an (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Nas)
3) Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255)

Di samping itu, hafalkan doa-doa dibawah ini dan ucapkan tiga kali atau lebih di pagi dan sore hari: “Bismillahilladzi la yadurru ma`a ismihi shay’un fil-ardi wa la fis-sama’i wa huwas-sami`ul-`alim” (Dengan nama Allah; yang bersama nama-Nya tidak celaka sesuatupun yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

2) Hasbiyallahu la ilaha illa huwa `alayhi tawakkaltu wahuwa rabbul-`arshil-`azhim (Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung).

3) Allaahumma inni a`udzu bika min hamazatish-shayatin wa a`udzu bika rabbi an yahdurun (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan setan dan aku berlindung kepada-Mu dari segala gangguan setan yang mendatangiku).

4) A`udzu bi `izzatillahi wa qudratihi mimma ajidu wa uhadhiru (Aku berlindung dengan kekuatan Allah dan kehendak-Nya dari sakit dan nyeri yang aku alami).

Perlu diingat bahwa doa dan zikir akan membawa manfaat jika itu datang dari hati yang lurus dan yakin kepada Allah SWT, dengan demikian maka kita akan menaruh segala pengharapan dan doa kita hanya kepada Allah yang Maha Kuat lagi Maha Berkuasa. [siti umriaty]

Rabu, 10 April 2013

Fadhilah Al-Qur’an; Keutamaan Ayat Kursi


SEMUA surat dalam al-Qur’an adalah agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat dan kandungnya. Namun, Allah Swt. dengan kehendakNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari yang lain. Dan ayat kursi, dalam surat Al-Baqarah di ayat 255 adalah diantara ayat yang paling agung.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda yang artinya, Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi (HR. Al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan keutamaan yang terdapat dalam Ayat Kursi. Apabila kita merutinkannya, maka akan kita dapati keutamaan yang sangat banyak. Hendaknya setiap muslim bersemangat kepada apa yang bermanfaat baginya.
Ayat Kursi sendiri bukanlah ayat yang panjang dan sulit untuk dihapal, diperbaiki bacaannya, faham maknanya serta diamalkan. Seperti ayat ini mengenai kerajaan Allah, maka dituntut keimanan dan ketundukkan hati keada semua firman-Nya tanpa bantahan. Dia harus diagungkan sebenarnya didalam hati bukan malah menganggap remeh ibadah, melanggar Syariat dimana menyalahi tuntunan Rasulullah SAW dan shahabat didalam menjalankan Islam.
Lalu mengapa kursi dalam ayatnya?
Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda yang artinya, Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi melebihi agungnya Ayat Kursi (karena di dalam ayat tersebut telah mencakup Nama dan Sifat Allah).
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan kursi dengan berkata:
“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah,” (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi).
Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallambersabda:
“Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang,” (HR. Ibnu Hibban no. 361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani).
Dan keutamaan lainnya dari ayat ini adalah:
1. Ayat kursi adalah ayat didalam al Qur’an yang paling agung dan paling utama
2. Ayat kursi sebagai doa perlindungan dari setan
3. Di dalam ayat kursi terdapat nama Allah yang paling agung (al Hayyu dan al Qayyuum)
sumber: yusuf mansyur

Kisah Mengharukan Nenek Penjual Tempe

tempe Tuhan selalu punya jawaban atas doa seseorang. Jawaban doa itu bisa iya, bisa tidak, atau.. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk hamba-Nya, seperti dalam kisah berikut ini.

Di sebuah pinggir kota, hidup seorang nenek yang hidup seorang diri. Untuk dapat menyambung hidup, nenek tersebut berjualan tempe setiap hari. Pada suatu hari, sang nenek terlambat memberi ragi, sehingga tempe tidak matang tepat pada waktunya. Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, kedelai-kedelai masih belum menyatu. Kedelai tersebut masih keras dan belum menjadi tempe.

Hati sang nenek mulai menangis. Apa yang harus dilakukan? Jika hari ini dia tidak bisa menjual tempe tersebut, maka dia tidak akan dapat uang untuk makan dan membeli bahan tempe untuk esok hari. Dengan air mata yang masih mengalir, sang nenek mengambil wudhu lalu salat Subuh di rumahnya yang sangat kecil dan memprihatinkan.

"Ya Allah, tolong matangkan tempe-tempe itu. Hamba-Mu tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyambung hidup dengan cara yang halal. Hamba tidak ingin menyusahkan anak-anak hamba. Kabulkan doa hamba-Mu yang kecil ini ya Allah.." demikian doa sang nenek dengan linangan air mata.

Setelah selesai salat Subuh, sang nenek membuka daun pisang pembungkus tempe, tidak ada satupun yang matang. Keajaiban belum datang, doanya belum dikabulkan. Tetapi sang nenek percaya jika doanya akan terkabul, sehingga dia berangkat ke pasar saat matahari belum bersinar, mengejar rezeki dengan menjual tempe.

Sesampai di pasar, sang nenek kembali membuka pembungkus tempe. Masih belum matang. Tak apa, nenek tersebut terus menunggu hingga matahari bersinar terik. Satu persatu orang yang berbelanja berlalu lalang, tetapi tak ada satupun yang mau membeli tempe sang nenek. Matahari terus bergerak hingga para pedagang mulai pulang dan mendapat hasil dari berjualan.

Tempe dagangan penjual lain sudah banyak yang habis, tetapi tempe sang nenek tetap belum matang. Apakah Tuhan sedang marah padaku? Apakah Tuhan tidak menjawab doaku? Begitulah rintihan hati sang nenek, air matanya kembali mengalir.

Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menghampiri sang nenek. "Apakah tempe yang ibu jual sudah matang?" tanya sang pembeli.

Sang nenek menyeka air mata lalu menggeleng, "Belum, mungkin baru matang besok," ujarnya.

"Alhamdulillah, kalau begitu saya beli semua tempe yang ibu jual. Daritadi saya mencari tempe yang belum matang, tetapi tidak ada yang menjual. Syukurlah ibu menjualnya," ujar sang pembeli dengan suara lega.

"Kenapa ibu membeli tempe yang belum matang?" tanya sang nenek dengan heran. Semua orang selalu mencari tempe yang sudah matang.

"Anak laki-laki saya nanti malam berangkat ke Belanda, dia ingin membawa tempe untuk oleh-oleh karena di sana susah mendapat tempe. Kalau tempe ini belum matang, maka matangnya pas saat anak saya sampai ke Belanda," ujar sang ibu dengan wajah berbinar.

Inilah jawaban atas doa sang nenek. Tempe-tempe itu tidak langsung matang dengan keajaiban, tetapi dengan jalan lain yang tidak dikira-kira. Ingatlah sahabat, Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk doa umat-Nya. Kadang sebuah doa tak langsung mendapat jawaban. Kadang doa seseorang tidak dijawab dengan 'iya' karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya.

Selasa, 09 April 2013

Falsafah Ikan Laut

Ikan-laut

"Katakanlah , Kalau Sekiranya Lautan Menjadi Tinta Untuk (Menulis) Kalimat-Kalimat Tuhanku, Sungguh Habislah Lautan Itu Sebelum Habis (Ditulis) Kalimat-Kalimat Tuhanku , Meskipun Kami Datangkan Tambahan Sebanyak Itu Pula "(Qs Al- Kahfi : 19)

Diantara makhluk- makhluk yang Allah SWT ciptakan, manusia adalah makhluk Allah SWT , yang terbaik. Struktur postur tubuhnya juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah SWT lainnya.

"SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MENCIPTAKAN MANUSIA DALAM BENTUK YANG SEBAIK-BAIKNYA" (QS At-Tin :4)

Merujuk kepada ayat tersebut sudah sepatutnya kita bersyukur dan berterimakasih kepada SANG PENCIPTA dengan MENJALANKAN SEGALA YANG DIPERINTAHKANNYA dan MENJAUHI SEGALA LARANGANNYA. Bukan sebaliknya , kedudukan mulia tersebut menjadi legalitas manusia untuk BERSIKAP ANGKUH dan berbuat semaunya terhadap makhluk-makhluk lainnya, tidak juga.

Manusia yang diciptakan sebagai makhluk terbaik, tidaklah memenuhi totalitas sosok pribadi manusia secara utuh. Ini berarti manusia juga punya banyak kekurangan. Dikatakan yang terbaik, bisa jadi karena ia punya bentuk postur yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Kelebihan tersebut akan menghantarkan manusia pada kesempurnaan yang hakiki, tentu bila dipergunakan dengan baik untuk mencari kekurangan- kekurangan dialam yang pada hakikatnya ADALAH GURU BISU MANUSIA. Sebaliknya manusia akan lebih rendah dari binatang jika keliru memanfaatkan fasilitas yang ALLAH SWT berikan padanya, sebagaimana firmannya,

"KEMUDIAN KAMI KEMBALIKAN DIA (MANUSIA) KETEMPAT YANG SERENDAH-RENDAHNYA" (QS aT-Tin :5)

Diantara GURU BISU manusia itu adalah IKAN-IKAN DILAUTAN.

Allah SWT menciptakan ikan dilautan memang untuk dikonsumsi. Makanan yang berprotein tinggi untuk tubuh (jasmaniah). Selain itu sebenarnya juga Allah SWT ciptakan ikan dilautan menjadi pengajaran yang termasuk kedalam ayat kauniyahnya. Bagaimana dengan falfasah ikan dilaut?

Disini artinya manusia dengan kelebihan potensi berpikirnya hendaknya jangan hanya memikirkan atau meneliti apa dan berapa protein ikan laut , tetapi juga "membaca" bagaimana sisi kehidupan ikan dilaut agar menjadi pengajaran , menjadi protein ruhaniah manusia.

Manusia merasa lebih tinggi dan mulia kedudukannya. Dengan perasaan yang tingginya itu manusia kadang lupa bahwa dirinya manusia. Perasaan ini yang kadang menjadikan manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang berperasaan. Untuk itulah manusia perlu banyak belajar kepada guru bisu (kauniyah) diantaranya adalah ikan di laut.

Memfalsafahkan hidup dengan falsafah ikan dilaut pada abad modern ini bukanlah hal yang tidak mungkin.

Ikan dilaut boleh dikata TEGAR DARI KONDISI KELAUTAN. ; ASIN AIRNYA tetapi IKAN KEMANAPUN IA BERENANG TIDAK IKUT ASIN, KECUALI JIKA IA SUDAH MATI.

Sehingga timbullah nasehat orang tua kepada anaknya, 'JADILAH KAMU SEPERTI IKAN DILAUTAN YANG TIDAK PERNAH TERPERDAYA KEADAAN"

Sebesar-besarnya ikan dilautan adalah KECIL JUGA, Luas lautan dengan air asinnya tidak dapat menjadikan ikan ikut menjadi asin.

Demikianlah Allah SWT menciptakannya buat pengajaran kepada manusia.

Manusia juga memiliki lautan dalam dirinya, LUASNYA TIADA BERBATAS, DALAMNYA TIADA BERDASAR, YAITU HATI. TIDAK BESAR MEMANG BENTUKNYA, TIDAK LUAS RUASNYA, itulah HATI dalam tubuh ini.

Namun tidak sedikit manusia yang TENGGELAM kedalam lautan hatinya sendiri.

Sehingga kemuliaan dirinya ternoda dan terpuruk kelembah kenistaan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW, "SESUNGGUHNYA DALAM DIRI MANUSIA ITU ADA SEGUMPAL DARAH. APABILA BAIK IA MAKA BAIKLAH SELURUH JASAD INI, DAN APABILA RUSAK IA MAKA RUSAKLAH SELURUH TUBUH, KETAHUILAH HAL ITU ADALAH HATI."

Manusia ada yang masih belum mampu memakai filosofi ikan dilautan yang tidak dapat diwarnai asinnya lingkungan air laut, kecuali ia sampai mati (baru disebut ikan asin).

Gebyar warna dunia dan derasnya akulturasi budaya sering kali mewarnai kehidupan manusia sehingga tidak jarang mereka rela mengorbankan yang paling prinsip sekalipun. Hal ini terjadi karena hati manusia yang tidak stabil yang membuat manusia terempas dan tenggelam dalam lautannya sendiri,

Allah SWT dalam firman-Nya menjelaskan, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir," (QS Al-Ma'arij :19-21)

Masyarakat merupakan agent of social process (pusat terjadinya proses perubahan). Sebagai makhluk sosial manusia tentu lekat dengan lingkungannya. Melalui hubungan sosial inilah tiupan angin budaya menerpa lautan hati manusia, sehingga membuat pribadi manusia bagaikan kapal tanpa nahkoda. Itulah sebabnya mengapa di era akulturasi seperti saat ini prinsip dan falsafah ikan dilaut perlu dijadikan pelajaran bagi setiap manusia . Untuk itu Rasulullah SAW menganjurkan agar selalu membaca doa, "Wahai pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu, dan atas taat kepada-Mu. Mahasuci engkau, Sesungguhnya aku ini orang yang berbuat zalim dengan diriku sendiri. "Ya Allah tunjukilah aku jalan kebenaran. Amin.

Minggu, 07 April 2013

“Bahasa” Allah

alam

Ketika kecil, kita sering mendengar dari orang tua berbagai kisah yang menggambarkan tentang keadilan Allah SWT. Di antara kisah itu diceritakan

ada seorang yang pernah meragukan keadilan Allah ketika membandingkan buah semangka dan beringin. Mengapa pohon semangka itu kecil, padahal buahnya besar -- sedang beringin sebaliknya, memiliki badan besar, tapi buah lebih kecil dari kelereng. Ketika orang itu sedang asyik mengamati 'ketidak-adilan' pada pohon beringin itu, tiba-tiba beberapa buah pohon beringin jatuh dan mengenai hidung orang tersebut. Seketika itu ia langsung beristighfar, ''Allah Mahaadil. Coba seandainya buah beringin sebesar semangka, tentu muka saya sudah hancur.''

Sebelum mengakhiri cerita itu, orang tua kita lalu menyimpulkan bahwa itulah cara Allah memperingatkan hamba-Nya. Orang tadi beruntung karena cepat menyadari kekeliruan jalan pikirannya terhadap keadilan Allah. Ia peka akan 'tanda-tanda' alam sebagai 'bahasa' Tuhan yang mengingatkan kesalahan pandangannya.

Tanda-tanda alam sebagai 'bahasa' Tuhan sesungguhnya tidak hanya terdapat pada kisah orang tua kita di atas. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mendapatkan berbagai peringatan dari 'bahasa' Allah itu. Dalam sejarah Islam, misalnya, 'bahasa' Allah untuk memberitahukan kepada manusia tentang kerasulan Muhammad saw, ditunjukkan dengan beraraknya awan yang selalu menaungi beliau ke mana pergi. Banyak rabbi Yahudi, antara lain Buhaira, masuk Islam setelah membaca 'bahasa' Allah tersebut.

Barangkali, kita juga sering diingatkan Allah akan kekeliruan langkah dan perilaku kita dengan bahasa-bahasa alam semacam itu. Tapi, karena kita kurang peka, peringatan-peringatan tersebut sering kita abaikan hingga akhirnya kita terkena bencana.

Sesungguhnya Allah masih terus mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan bahasa-bahasa alam.

Ketika kita menyaksikan sepotong daun yang layu dan jatuh, itu sesungguhnya 'bahasa' Allah untuk mengingatkan kita bahwa pada saatnya, kedudukan daun yang terletak pada setiap bagian pohon akan lengser juga.

Ibn Al-Arabi memandang alam sebagai simbol-simbol eksistensi Tuhan. Karena itu, kejadian sehari-hari di alam bisa merupakan 'perumpamaan' dari 'bahasa' Allah. Alquran menjelaskan, ''Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun bagi orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Tapi mereka yang kafir mengatakan, ''Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu banyak pula yang diberi petunjuk ... (Al-Baqarah: 26).

Saat ini, di zaman reformasi, 'bahasa' Allah tak hanya ditunjukkan melalui bahasa-bahasa alam yang halus, tapi melalui 'bahasa-bahasa' manusia yang nyata dan terang benderang. Lihat saja, betapa banyak penguasa dan hartawan yang dulu sangat dihormati dan disembah-sembah, tiba-tiba kini dicemooh orang. Itu semua terjadi karena mereka tak mau memperhatikan 'bahasa' Allah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. -

Jumat, 05 April 2013

Kemana Pandangan Dalam Shalat Diarahkan?

pandangan-sholat

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, kita memuji Allah atas karunia dan nikmat-Nya. Shalawat dan salam atas hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan sahabat beliau yang mulia.

Pandangan seseorang memiliki pengaruh dalam kekhusyuannya saat shalat. Sementara khusyu' merupakan salah satu unsur penting untuk diterimanya shalat. Bahkan seseorang tidak akan merasakan nikmatnya ibadah teragung ini kecuali dengan kekhusyu'an.

Oleh sebab itu, Syariat mengatur hukum berkaitan dengan pandangan mata dalam shalat. Kita temukan larangan keras dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melihat ke atas atau ke langit, dan melarang pula menengok dan melirik ke arah kanan-kiri.

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِى الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ

"Hendaknya kaum-kaum yang mengarahkan pandangan mereka ke langit dalam shalat itu bertaubat atau pandangan mereka tersebut tidak akan kembali kepada mereka." (HR. Al-Bukhari Muslim)

Dalam riwayat al-Bukhari, "Hendaknya mereka berhenti dari hal itu atau akan disambar pandangan mereka."

Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang menoleh dalam shalat? Beliau menjawab,

هُوَ اِخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ اَلشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ اَلْعَبْدِ

"Itu adalah pencopetan yang dilakukan syetan terhadap shalat hamba." (HR. Al-Bukhari)

Kemana Pandangan Diarahkan?

Para ulama bebeda pendapat tentang arah yang dituju oleh pandangan seorang mushalli dalam shalatnya: Pertama, Imam Malik berpendapat pandangan mushalli diarahkan kepada kiblat. Imam Al-Bukhari menguatkan ini dalam Shahih-nya dengan membuat bab Raf'ul Bashar Ilal Imam Fii al-Shalah (Bab mengangkat (mengarahkan,-ter) pandangan ke imam dalam Shalat).

Pendapat ini memiliki beberapa hadits yang mendukungnya, bahwa para sahabat melihat kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat mereka shalat dalam berbagai kesempatan untuk memperhatikan gerakan-gerakan beliauShallallahu 'Alaihi Wasallam. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menghadap ke tanah atau ke tempat sujud. Beberapa hadits yang dijadikan sandaran:

Dari Ma'mar, ia berkata: Aku bertanya kepada Khabbah,

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَاكَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِه

"Apakah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca dalam shalat Dzuhur dan Ashar?" beliau menjawab, "Ya." Kami bertanya, "Bagaimana kalian mengetahui hal itu?" beliau menjawab, "Dengan gerakan janggutnya." (HR. Al-Bukhari)

Al-Barra' pernah berkhutbah dan menyampaikan, "Apabila para sahabat shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam maka beliau mengangkat kepalanya dari ruku' maka mereka berdiri sehingga mereka melihat beliau sudah sujud." (HR. Al-Bukhari)

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, berkata:"Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu beliau shalat. Mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, kami melihat Anda mengambil sesuatu saat di posisimu, lalu Anda mundur kembali?" Beliau menjawab: "Aku diperlihatkan surga, lalu aku diberikan setandan anggur. Jika aku mengambilnya niscaya kalian akan memakannya yang akan mengakibatkan terabaikannya urusan dunia." (HR. Al-Bukhari)

Pendapat Kedua, Imam Syafi'i dan para ulama Kuffah –ini yang shahih dari madhab Hanafi-, disunnahkan bagi orang yang shalat mengarahkan pandangannya ke tempat sujudnya; karena akan lebih mendekatkan kepada khusyu'.

Syaikh Al-Albani menyebutkan dalam Sifat Shalat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada bab Al-Nadhar Ilaa Maudhi' al-Sujud wa Al-Khusyu'. Lalu beliau menyebutkan sejumlah hadits di bawahnya, di antaranya: 

كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا صلى؛ طأطأ رأسه، ورمى ببصره نحو الأرض

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila shalat maka beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya kea rah tanah." (Disebutkan Imam al-Hakim dan beliau berkata: Ini sesuai dengan syarat Muslim saja)

Muhammad bin Sirin berkata: para sahabat RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam mengangkat pandangan mereka ke langit dalam shalat. Maka saat turun ayat ini:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya." (HR. Al-Mukminun: 1-2) Mereka menundukkan pandangan mereka ke tempat sujud." (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

. . . hukum asal makmum melihat ke tempat sujudnya karena yang dimau adalah khusyu' kecuali apabila dia perlu sekali melihat apa yang dikerjakan imam untuk mengikutinya . . .

Al-Hafidh Ibnu Hajar merinci masalah ini, "Mungkin bisa kita rinci antara imam dan makmum. Disunnahkan bagi imam melihat ke tempat sujud. Begitu juga bagi makmum. Kecuali saat ia ingin memperhatikan imam. Adapun munfarid (orang shalat sendirian), hukumnya seperti hukum imam."

Beliau mengomentari beberapa hadits yang disebutkan imam Bukhari tentang menghadapkan pandangan ke imam, "Dan maksud ulasan bisa dimaknai, hukum asal makmum melihat ke tempat sujudnya karena yang dimau adalah khusyu' kecuali apabila dia perlu sekali melihat apa yang dikerjakan imam untuk mengikutinya, ini sebagai contoh."

Penjelasan Al-Hafidz di atas adalah sebagai upaya menjama' (mengompromikan) hadits-hadits yang disebutkan Imam al-Bukhari dan hadits-hadits menundukkan pandangan ke arah sujud. Ini adalah kompromi yang sangat bagus. Wallahu Ta'ala A'lam.

Rabu, 03 April 2013

Hidup itu…Seperti Tukang Parkir..

tukang-parkir

Hidup itu bagus nya pakai filosofi Tukang Parkir..

Punya mobil banyak dari berbagai merek ga sombong..

Mobilnya gonta-ganti pun juga tidak takabur..

diambilin satu-satu (mobilnya) pun ga sedih...

karena memang merasa mobil-mobil itu bukan dia yang memiliki..

tapi hanya titipan..

sama halnya dengan harta kita, yang semua itu hanyalah titipan dari Allah SWT,

ya Allah..sesungguhnya Engkau lah yang Maha Mengetahui dan Maha Memiliki atas segala sesuatu di langit dan di bumi..

Semua ini hanya titipan Mu ya Allah..

Ambil saja ya Allah sesuatu-sesuatu yang Engkau titipkan pada hamba apapun itu karena hamba yakin jalan mana lagi yang lebih baik dibanding jalanMu ya Rabb..

Rindu hamba padaMu..rindu tiada terperih hamba akan sinarMu ya Tuhanku..

Selasa, 02 April 2013

Hukum Memejamkan Mata Saat Shalat

timthumb

Pertanyaan:

Assalam 'Alaikum Warahmatullah Wabarakutuh

Pak Ustad saya mau bertanya, apa hukum Shalat dengan menutup (memejamkan) mata?

081390090***

Jawaban:

Oleh: Badrul Tamam

Wa'alaikumus Salam Warahmatullah Wabarakutuh

Al-Hamdulillah, kita memuji Allah atas karunia dan nikmat-Nya. Shalawat dan salam atas hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan sahabat beliau yang mulia.

Pada dasarnya, tidak ada keterangan secara jelas sunnah yang melarang atau menetapkannya. Hanya saja terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa shalatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah dengan membuka mata (melihat). Seperti permintaan beliau agar disingkirkan tirai yang bergambar karena mengganggu shalatnya. Ini menunjukkan bahwa beliau membuka mata dalam shalatnya.

Hadits Ma'mar yang bertanya kepada Khabbah menunjukkan bahwa para sahabat shalat dengan membuka mata, 

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَاكَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِه

"Apakah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca dalam shalat Dzuhur dan Ashar?" beliau menjawab, "Ya." Kami bertanya, "Bagaimana kalian mengetahui hal itu?" beliau menjawab, "Dengan gerakan janggutnya." (HR. Al-Bukhari)

Dari sini para ulama memakruhkan memejamkan kedua mata saat shalat, kecuali karena kebutuhan mendesak seperti tidak mungkin bisa khusyu' kecuali dengannya. Misalnya, berdiri di depannya orang yang mengenakan kaos bergambar yang membaut tertawa atau ada tulisan yang mengganggu konsentrasinya.

Larangan ini telah tertuang dalam beberapa kitab, seperti Al-Raudh al-Murabba' milik Ibnul Qasim: 1/95, Mannarul Sabil milik Ibrahim Dhauyan: 1/66, Al-Kaafi fi Fiqh ahlil Madinah milik Abu Umar Abdulbarr al-Qurthubi: 1/285, Al-Mughni milik Ibnu Qudamah: 2/30, dan Al-Iqna': 1/127, dan lainnya.

Imam al-Kasani berkata, "Dimakruhkan, karena ia menyalahi sunnah. Bahwa disyariatkan mengarahkan pandangan ke tempat sujud. Karena setiap anggota tubuh punya bagiannya dalam ibadah, begitu juga kedua mata." (Bada-i' al-Shana-i': 1/503)

Imam Al-'Izz bin Abdussalam dalam Fatawa-nya membolehkan untuk memejamkan mata saat ada kebutuhan, jika hal itu lebih membuat orang yang shalat lebih khusyu dalam shalatnya.

Sementara Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menerangkan, jika seseorang bisa lebih khusyu dengan membuka mata maka itu lebih utama. Namun jika ia akan lebih khusyu' dengan memejamkan kedua mata karena ada sesuatu yang mengganggunya berupa dekorasi dan hiasan maka tidak dimakruhkan secara mutlak. Bahkan –dalam kondisi ini- pendapat yang menganjurkan memejamkan mata lebih dekat kepada tujuan dan prinsip syariat daripada pendapat yang memakruhkannya." (Zaadul Ma'ad: 1/283). Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Senin, 01 April 2013

Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdo’a

mengusap-tangan-setelah-berdoa 

ADA YANG mengatakan bahwa mengusap wajah setelah berdo’a itu tidak dicontohkan Rasulullah saw. dan ada pula yang mengatakan sebaliknya, yaitu harus mengusap wajah kalau do’a ingin segera dikabulkan. sebenarnya mana yang benar?

Supaya adil dalam menilai atau menganalisis persoalan, berikut alasan yang menganjurkan untuk mengusap wajah setelah berdo’a dan alasan yang menganggap bahwa mengusap wajah itu tidak dicontohkan Rasulullah saw.

Orang yang menganjurkan agar mengusap wajah setelah berdo’a, merujuk pada keterangan-keterangan berikut ini.

Ibnu Abbas r.a. berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda, “Mohonlah kepada Alloh dengan telapak tanganmu dan jangan memohon kepada-Nya dengan punggung tanganmu, dan apabila kamu telah selesai berdo’a, maka usapkanlah kedua telapak tangan itu pada wajahmu.” (H.R. Ibnu Majah dan Abu Daud).

Yang dimaksud Mohonkanlah kepada Alloh dengan telapak tanganmu dan jangan memohon kepada-Nya dengan punggung tanganmu adalah berdo’alah sambil menegadahkan/ mengangkat tangan. Jadi menurut hadits ini, berdo’a itu harus sambil mengangkat tangan/ menegadahkan tangan. setelah selesai, usapkanlah telapak tangan itu pada wajah.

Umar bin Khattab r. a. berkata, “Apabila berdo’a Rasulullah saw. selalu mengangkat kedua tangannya, dan beliau tidak menurunkannya sebelum mengusap wajahnya.” (H. R. Tirmidzi). keterangan ini menegaskan bahwa Rasulullah saw. selalu mengangkat tangan saat berdo’a dan apabila selesai berdo’a beliau selalu mengusap wajahnya.

Inilah dua keterangan yang dijadikan alasan oleh orang yang menganjurkan untuk mengusap wajah selesai berdo’a. Namun dalil-dalil di atas dikritik oleh orang yang berpendapat bahwa mengusap wajah setelah berdo’a tidak dicontohkan Rasulullah saw. Alasannya sebagai berikut,

Keterangan atau dalil pertama yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Daud dinilai dlaif (lemah, tidak bisa dijadikan dalil), karena dalam sanadnya ada seorang rawi bernama Muhammad bin Ka’ab yang dinilai lemah oleh Abu Daud sendiri.

Keterangan atau dalil kedua yang diriwayatkan oleh Tirmidzi juga dinilai dlaif  (lemah dan tidak bisa dijadikan dalil), karena dalam sanadnya ada rawi bernama Hammad bin Isa yang dinilai lemah oleh Abu Daud, Abu Hatim dan Daruquthni.

Atas dasar inilah, disimpulkan bahwa keterangan-keterangan atau dalil-dalil yang digunakan orang-orang yang menganjurkan untuk mengusap wajah setelah berdo’a tidak bisa diamalkan, karena hasil penelitian para ahli hadis terbukti bahwa keterangan-keterangannya dlaif.

oleh sebab itu, Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Fatawa Ibn Taimiyyah, Vol. I, hal. 159 menyebutkan, “Adapun mengenai satu atau dua dalil tentang mengusap wajah setelah berdo’a tidaklah bisa dijadikan alasan karena dlaif.

Menganalisis alasan-alasan yang disampaikan kedua belah pihak, bisa disimpulkan bahwa mengusap wajah setelah berdo’a memang ada dalilnya. Namun menurut penelitian para ahli hadits, dalil-dalil tersebut dlaif alias tidak bisa diamalkan. Maka, mengusap wajah setelah berdo’a tidak perlu dikerjakan karena dalil-dalilnya dinilai lemah. wallohu alam.

Diambil dari : Amiruddin, Aam. Bedah Masalah Kontemporer II: Tanya-Jawab Ibadah & Muamalah. [sumber: runninayah]