Jumat, 21 Juni 2013

Waspadalah Terhadap Bohong-bohong yang Kurang Disadari

bohong

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Berbohong atau berdusta adalah menyampaikan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataannya. Ia termasuk perbuatan sangat tercela secara syar’i, akal sehat, dan fitrah yang lurus. Ia maenghantarkan kepada perbuatan dosa dan kejahatan. Termasuk jalan paling pintas menuju ke neraka.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘Alaih)

Islam sangat mencela perbuatan dusta atau berbohong. Umat Islam diperingatkan secara umum agar tidak berdusta. Bahkan Islam mengategorikannya sebagai bagian dari tanda kekufuran dan kenifakan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39)

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. Al-Nahl: 105)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafik ada tiga: apabila ia berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat berkhianat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam hadits yang sangat masyhur, “Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya; bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang.” (Muttafaqun 'alaih)

Maka semaksimal mungkin kita menghindarkan diri dari berbohong. Jangan mudah berkata dusta walau dalam perkara-perkara kecil. Karena demikian itu akan mengurangi kepercayaan orang kepada kita saat kita menyampaikan kebenaran.

Ada beberapa perkara yang dikerjakan tanpa mereka berdosa, padahal ia benar-benar bagian dari perbuatan bohong. Di antara contohnya:

Pertama, memanggil anak kecil untuk dikasih sesuatu padahal ia tak punya yang dijanjikan tersebut. Termasuk di dalamnya mengingkari janji kepada anak kecil atau menjawab pertanyaan anak kecil dengan jawaban dusta.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amir Radhiyallahu 'Anhuberkata, “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Lalu ibuku memanggilku: Hai kemarilah, aku kasih kamu.

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepadanya: Apakah sebenarnya kamu tidak ingin memberinya? Ibuku menjawab: Aku akan kasih dia kurma. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya: Adapun jika kamu tidak memberinya apa-apa maka dicatat atasmu perbuatan dusta.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, menyampaikan setiap apa yang didengar tanpa di cross-check. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta kalau dia menyampaikan setiap yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Ketiga, berkata bohong untuk membuat orang tertawa (melawak). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, kemudian celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Al-Tirmizi. Dihassankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7136)

Keempat, ngegombal, yakni mengobrol sambil becanda dengan cerita-cerita dusta.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحِ وَالْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقً

Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna sehingga ia meninggakan berkata bohong saat becanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad)

Al-Imam Ahmad berkata, “Bohong tidak boleh baik serius atau main-main.”

Penutup

Siksa yang disediakan bagi pendusta sangat berat, sebelah wajahnya dirobek dengan besi sampai tengkuknya; dimulai dari mulut sampai tengkuk, lalu sebelah mata sampai tengkuk, dan dari mata sampai tengkuk. Setelah selesai, berganti sebelah wajah yang lain. Belum selesai sebelah wajah kedua dirobek, sebelah wajah yang pertama kembali seperti semula dan siap disiksa kembali. Silahkan baca:Ngerinya Siksa atas Pendusta; Wajah Disobek Dengan Besi Sampai Tengkuk.

Jika demikian berat dan ngeri siksa neraka maka selayaknya kita menjauhi bentuk-bentuk dusta dna berkata bohong, baik yang beresiko besar atau yang beresiko kecil. Baik saat serius maupun saat becanda. Wallahu Ta’ala A’lam.

Sabtu, 15 Juni 2013

"Karena Kita Beda"

kita beda Mereka bilang "Santai dulu lah..."

Aku berkata "Kenapa tidak sekarang?"

Mereka menunduk, dan menangis "Tak ada lagi harapan",

Aku akan berdiri dan berkata  "Ayolah, pasti ada jalan keluar!"

Mereka berkata "Sudahlah, cukup!"

Aku akan bilang" Apalagi yang harus aku kerjakan"

Mereka iri " Dia memang ahli, karena itulah dia menjadi juara"

Aku akan menjawab "Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?"

Mereka berkoar-koar "Aku akan sukses suatu hari"

Aku akan bertindak "Lakukan sesuatu, dan suksesku akan kuraih mulai hari ini"

Mereka bermimpi "Aku akan membahagiakan diriku sendiri"

Aku akan bermimpi "Aku akan membahagiakan orang- orang yang menyayangiku, sekaligus yang membenciku"

Mereka berpendapat "Kalau menjadi tinggi itu takdir"

Aku akan menjawab "Apakah kita hanya akan menunggu takdir? ikhtiyar semaksimal mungkin mulai sekarang."

Mereka mengeluh "Susahnyaa..."

Aku akan berkata "Allah pasti membantu hambanya yang mau berusaha"

Mereka pesimis "Bagaimana kalau nanti akhirnya..."

Aku akan optimis "Bagaimana akhirnya itu bagian Allah, bagian kita adalah memulai awalnya, dengan baik tentunya"

Mereka menangis "Sakit sekali rasanya"

Aku akan tersenyum, "Alhamdulillah, semoga dengan ini dosaku terampuni"

Mereka berandai, "Bagaimana jika nanti,..."

Aku akan realistis "Jangan pengecut menghadapi resiko. Selesaikan!"

Mereka memaki "*****, kenapa aku selalu diprotes!"

Aku akan senyum dan berkata "Inshaallah akan aku perbaiki kesalahan ini, agar tidak diprotes lagi"

Mereka menyumpahi "Kenapa Allah tidak sayang kepadaku"

Aku akan berucap "Alhamdulillah Allah sudah menegurku"

Mereka hanya merayu "Aku mencintamu Ya Allah"

Aku akan bertindak  kemudian berkata "Inilah bukti cintaku padamu Ya Allah"

Mereka menghujat "Dimana Allah saat kita menderita?!?"

Aku akan memohon "Temani aku ya Allah, aku akan selesaikan ini, agar aku tidak lagi menderita"

Mereka bertanya, "Apakah mungkin kita masuk surga?"

Aku akan bertanya "Terangkan kepadaku apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa masuk surga?"

Mereka ingin "Marilah kita menjadi penonton saja"

Aku ingin "Ayolah kita ikut serta"

Mereka berkata "Ikuti sajalah yang sudah ada,..."

Aku akan jawab "Aku ingin yang sesuatu yang lain, yang lebih unik tentunya"

Mereka berkata "Dengarkan saja"

Aku akan bertanya "Mengapa begini, dan mengapa bisa begitu"

Mereka berkata "Samakan! agar tidak dikenali"

Aku berkata "Bedakan!, agar mudah dikenali"

Mereka berkata "Aku lelah"

Aku berkata "Aku masih kuat"

Sob, kita adalah beda, karena kita masih muda. Kita memiliki semangat, visi, waktu dan cita- cita yang InshaAllah masih panjang. Dan setiap hari adalah tentang harapan dan perjuangan kita, maka jangan sampai tertinggal dengan waktu. Karena waktu tidak akan menunggu kita yang malas, dan hanya sekedar ngomong doang. Do something!! karena seorang pemenang bukanlah mereka yang hanya diberi bakat untuk menang, tapi pemenang sejati adalah mereka yang mau berusaha untuk menjadi yang terbaik, bahkan saat semua orang menyepelekan kemampuannya. Hare gene nggak jamannya lagi yang muda yang galau, sob. Atau kamu akan tersingkir dan nggak kebagian peran.

Kita yang muda, yang akan membuat perubahan. Dan Islam, adalah sebaik- baik pembawa perubahan. Tanpa islam, dunia akan kembali ke jaman jahiliyah, jaman kuno, jaman yang nggak asyik lagi pastinya. Kita yang muda, yang akan membawa nilai islam yang sebenarnya, karena kita adalah pelaku perubahan. Lalu sudah siapkah kamu untuk memulai itu, paling nggak dari diri sendiri dulu?

Senin, 10 Juni 2013

Allah Malu Menutup Pintu Rizki Orang yang Membukakan Pintu Rizki Orang

mambantu sesama

Oleh: Badrul Tamam

Seorang balita datang kepada Nabi Musa 'Alaihis Salam dan meminta agar mendoakannya suapaya Allah menjadikan ia kaya. . . Nabi Musa bertanya kepadanya, "Apakah kamu mau Allah menjadikan kamu kaya pada 30 tahun pertama dari umurmu ataukah pada 30 tahun terakhir?

Balita tadi bingung. Ia berpikir keras menimbang antara keduanya. Lalu pilihannya jatuh pada 30 tahun pertama dari umurnya. Sebab pilihannya tersebut, ia ingin menikmati harta tersebut pada waktu mudanya. Di tambah lagi ia tidak bisa menjamin bahwa umurnya bisa sampai 60 tahun. Ia melupakan kondisi tuanya yang penuh kelemahan, loyo, dan sakit.

Kemudian Nabi Musa mendoakannya. Allah mengijabahi doa tersebut dengan menjadikannya kaya di usia 30 tahun pertama dari umurnya. Mulailah Allah melimpahkan rizki yang banyak kepadanya.

Sekarang anak itu sudah menjadi dewasa. Ia menggunakan kekayaannya untuk membuakan pintu rizki bagi orang lain. Ia banyak membantu orang. Tidak hanya dengan hartanya. Tapi juga membantu mereka dengan membangun perdagangan, rumah produksi, dan pertanian mereka. Ia membiayai pernikahan orang-orang yang sudah siap. Menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang yang terlilit kebutuhan.

Berlalulah 30 tahun pertama. Bermula 30 tahun kedua. Nabi Musa setia menunggu apa yang akan terjadi. Beberapa tahun telah lewat. Sementara kondisi laki-laki tadi masih seperti semula, tetap kaya. Tidak berubah sedikitpun. Bahkan kekayaannya makin bertambah. Lalu Nabi Musa 'Alaihis Salam menghadap Allah menanyakan, 30 tahun pertama sudah selesai. Maka Allah menjawab: Engkau dapati hambaku membukakan rizki untuk hamba-hamba-Ku, maka aku malu menutup pintu rizki-Ku kepadanya.

Ya Allah, betapa pemurah-Nya Engkau. Sungguh tak terkira keagungan-Mu. (Dinukil dari status Facebook Syaikh Nabil al-'Audhi)

Infak Akan Menambah Jumlah Harta

Sesungguhnya harta yang diinfakkan untuk kebaikan akan mendatangkan keberkahan, yakni menambah kebaikan dari harta itu dan berkembang menjadi banyak. Ini sesuai dengan janji Allah yang akan memberikan untuk munfiqin balasan berlipat-lipat yang lebih besar dari apa saja yang telah mereka infakkan. Semua ini berlaku di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Makna Allah menyuburkan sedekah adalah memperbanyak dan mengembangkannya di dunia. Sedangkan di akhirat, Allah menjaganya semenjak di keluarkan harta tersebut untuk infak. Penjagaan ini seperti seseorang menjaga benih yang ditanamnya dengan diperhatikan dan dipupuk sampai benih tersebut menjadi pohon yang besar. Atau seperti seseorang yang menjaga dan memelihara anak kuda yang masih kecil, ia beri makan dan ia rawat dengan baik sehingga menjadi kuda yang besar dan tangguh. Artinya pahala besar akan ia peroleh walaupun melalui infak yang sedikit. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba': 39)

Ibnu katsir berkata dalam menafsirkan ayat di atas, “Apapun yang kamu infakkan dalam apa yang diperintahkan kepadamu atau yang dimubahkan, maka Dia akan memberikan gantinya untukmu di dunia, dan di akhirat dengan ganjaran dan pahala.”

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, "Allah Ta'ala berfirman, “Berinfaklah, Aku akan berinfak untuk kalian.” (Muttafaq 'Alaih dari Abu Hurairah)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga tidak ketinggalan menjelaskan keajaiban sedekah dan menganjurkan untuk mengerjakannya,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

"Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Bilal bin Rabbah Radhiyallahu 'Anhu, "Berinfaklah wahai Bilal! Dan janganlah kamu takut berkurang harta (fakir) dari Sang Pemilik Arsy (Allah)."  (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Al-Thabrani dalam al-Kabir, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykat, no. 1885)

Ringkasnya, bahwa sedekah atau infak yang dikeluarkan oleh seseorang –hakikatnya- tidak mengurangi dan menghabiskan hartanya. Tapi sebaliknya, ia menjadi jalan keberkahan bagi hartanya dan semakin bermanfaat bagi pemiknya di dunia dan akhirat. Wallahu Ta’ala A’lam.

Sabtu, 08 Juni 2013

Jin Tidak Mengetahui Urusan Ghaib

rumah-jin-268x300 ALLAH SWT menundukkan jin-jin kepada Nabi-nya, yaitu Sulaiman as. Pada waktu Nabi Sulaiman meninggal, beliau masih dalam keadaan berdiri (bersandar pada tongkat) sampai hewan-hewan di bumi yang melata (rayap) memakan tongkat Nabi Sulaiman.

Semua itu terjadi dan jin tidak tahu akan meninggalnya Nabi Sulaiman. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’ [34] : 14).

Dahulu, jin-jin mencuri berita dari langit, kemudian pada saat Rasulullah diutus menjadi Rasul, penjagaan terhadap langit diperketat, dan sedikit sekali jin-jin yang dapat menguping atau mencuri berita setelah itu, maka dari itu, salah besarlah anggapan bahwa jin-jin dan orang-orang yang datang kepada jin, yang terdiri dari dukun dan paranormal, mengetahui hal yang gaib.

Allah berfirman: “(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin [72] : 26-27) dan Allah berfirman: “Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.” (QS. An-Naml [27] : 65)

Ayat- ayat lain yang menyebutkan tentang hal ini ada banyak sekali. Tidak diperbolehkan menanyai atau membenarkan ucapan mereka (para dukun) dalam memberikan komentar tentang hal gaib.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa mendatangi seorang dukun, kemudian menanyainya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.”

Adapun menanyai dukun atau paranormal dengan tujuan menguji mereka, maka hukumnya adalah boleh. Dasarnya, Nabi Muhammad Saw pernah bertanya kepada Ibnu Shayyad, “Tahukah engkau apa yang mendatangimu?” ia menjawab, “Telah datang kepadaku orang yang jujur dan pembohong.” Beliau bertanya lagi, “Apa yang engkau lihat?” ia menjawab, “Aku melihat singgasana yang berada di atas air.” Rasulullah bersabda lagi, “Sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu terhadap dirimu.” Ia menukas, “Weleh-weleh.” Rasulullah bersabda, “Enyahlah engkau! Kau tidak akan bisa melampaui batas kemampuanmu. Engkau termasuk saudara para dukun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Para dukun adalah utusan para setan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah bahwa terkadang ucapan para dukun adalah benar, dan inilah yang terkadang digunakan untuk mempengaruhi seseorang.

Kebenaran mereka terkadang disebabkan oleh ucapan mereka yang bersifat umum dan global seperti, “Akan terjadi sebuah kejutan terhadapmu.” Lalu tidak lama kemudian terjadilah kejutan terhadap orang tersebut.

Kebenaran mereka terkadang berasal dari firasat dan usaha menghubungkan muqaddimah (sebab) dengan natijah (akibat) dan lain sebagainya. Kalimat-kalimat yang benar tersebut (yang diucapkan oleh dukun) berasal dari kabar langit yang telah dicuri oleh jin.

Dalam Shahiih Al-Bukhari dan Muslim serta Musnad Ahmad, diriwayatkan bahwa Aisyah ra berkata, “Rasulullah pernah ditanya oleh beberapa sahabat tentang perihal para dukun, kemudian Rasulullah menjawab. “Mereka bukanlah apa-apa.” Setelah itu, mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya mereka (dukun-dukun) itu mengatakan sesuatu yang benar (terjadi).” Rasulullah menjawab, “Kalimat yang benar tersebut adalah kalimat yang dicuri oleh jin, kemudian jin membisikkannya ke telinga teman-temannya (para dukun), dan mereka mencampurkan ke dalam kalimat tersebut lebih dari seratus kebohongan.”

Manusia adalah (makhluk) yang mudah lupa, sehingga ia melupakan seratus kebohongan dan hanya ingat satu kebenaran ucapan dukun.

Terkadang, dukun mengatakan begini-begini, kemudian terjadilah sebagaimana yang ia katakan. Betapa banyaknya pengakuan mengetahui hal yang gaib di zaman kita sekarang ini berasal dari orang-orang yang dipermainkan oleh setan.

Yang wajib bagi kita adalah menghilangkan kesesatan ini dan menjelaskan kebenaran kepada mereka (para dukun), serta mencegah mereka menyebarkan takhayul mereka di berbagai surat kabar dan majalah, guna menghentikan kebatilan mereka serta menolak kejelekan dan kerusakan, sesuai dengan kemampuan kita.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan menggunakan tangannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan hal [yang terakhir] ini adalah selemah-lemahnya iman.

Dalam kitab As-Sunan, ada hadits Abu Bakar Ash-Shidiq ra dari Nabi Muhammad Saw bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran, dan mereka tidak mengubah atau menindaknya, maka kepada mereka semua tanpa kecuali, niscaya Allah akan segera menimpakan akibat atau siksa lantaran kemungkaran tersebut.” []

________

Diasuh oleh Oleh: Yudhistira Adi Maulana, Penggagas rumah sehat Bekam Ruqyah Centre Purwakarta yang berasaskan pengobatan Thibbunnabawi. Alamat: Jl. Veteran No. 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat, Telf. 0264-205794. Untuk pertanyaan bisa melalui SMS 0817 920 7630 atau PIN BB  26A D4A 15.

Mengapa anda mengenakan pakaian tertutup seperti itu?

dr muslimah

Seorang Dokter perempuan kulit putih muslimah & berkerudung ditanya oleh temannya yang juga kulit putih tapi non muslim:

"Mengapa anda mengenakan pakaian seperti itu?

Terkesan terkekang & dibatasi hak-haknya. Bukankah manusiawi jika wanita ingin tampil selalu cantik?

Lagipula ini zaman modern, bajumu itu sudah kuno & ketinggalan zaman."

Dengan tenang, sang Dokter Muslimah menjawab:

"Sesungguhnya manusia pada masa zaman purba telajang, dengan bekembangnya pemikiran melewati berbagai zaman, maka manusia mulai memakai pakaian, hingga seperti yang saya pakai sekarang."

"Dan apa yang saya pakai adalah puncak ... pemikiran, dan tingkatan tertinggi yang telah dicapai manusia setelah melalui berbagai masa dan bukanlah bentuk keterbelakangan."

"Buka-bukaan adalah bentuk keterbelakangan dan kemunduran pemikiran manusia ke zaman purba."

"Kalau seandainya buka-bukaan adalah bentuk kemajuan, maka yang paling maju adalah binatang!"

Rabu, 05 Juni 2013

Katanya Muslimah Neng, Kok nggak pake jilbab?

simbol-lelaki-dan-perempuan

Cewek... cewek.. cewek...

Bersyukurnya kita jadi seorang cewek. Makhluk yang pastinya indah dan cantik banget. Nggak ada kita, dunia dipastikan nggak seru dan nggak asyik lagi. Seperti kamu tahu, cewek dalam aturan islam sangat dihormati banget. Dia diwajibkan pakai kerudung dan jilbab. Bukan apa- apa, tapi semua demi kehormatan tuh cewek sendiri.

Tapi satu pertanyaan yang kita heran, kenapa banyak dari para cewek yang nggak mau pake kerudung dan berjilbab rapi, nutup aurat biar nggak jadi sasaran mata jalang. Anehnya mereka ini juga ngaku islam loh, cek aja di KTPnya.

Alasannya pertama, katanya belum siap.

Girls, Jilbab dan kerudung adalah justru buat ngelindungin kita. Kalau kamu beralasan belum siap mengenakan keduanya, sama aja kamu SUDAH SIAP untuk dilecehkan dan jadi pandangan gratis laki- laki manapun. Gimana nggak, mereka juga manusia lah, yang punya nafsu atas kamu. Apalagi kamu indah dan cantik gitu, hey kenapa nggak coba menghargai diri sendiri lebih mahal ?

Alasan yang kedua biasanya jilbab dan kerudung itu mengekang.

Heee... katanya gaul, tapi kok pemikiran sempit sih. Hare gene, jilbab dan kerudung bukan alasan lagi buat kamu nggak bisa ngapa- ngapain. Justru saat kamu nggak buru- buru make, kamu akan banyak keganggu, was-was dan nggak nyaman. Jadilah kamu akhirnya nggak bisa ngapa-ngapain.

Alasan ketiga, jilbab dan kerudung buat kamu nggak eksis dan nggak bebas.

Hmmm.. ketahuan kan, orang yang mengatakan kalimat ini adalah mereka yang jadi follower hawa nafsu. Karena memang sebenarnya jilbab dan kerudung adalah pengingat saat kita mau maksiat. Nah, cewek yang katanya muslimah tapi nggak mau pake kerudung, sebenarnya cuma mau sekedar bebas ngelakuin maksiat. #hayo ngaku!!??!! jilbab dan kerudung adalah untuk kebaikan. Dan bukankah kebaikan adalah baik dan membaikkan kita??

Alasan keempat, pengen hatinya dulu yang berjilbab baru badannya

Mereka bisanya beralibi dengan banyaknya muslimah yang sudah mengenakan kerudung dan jilbab namun masih minus. Girls, tunjuk deh satu orang di dunia ini, siapa sih yang sempurna? nggak bakal ada. Termasuk juga kita. Mengenakan Jilbab dan kerudung adalah justru langkah awal dari kita buat melakukan perbaikan, walaupun nggak bakal pernah bisa sempurna. Fokus ke perbaikan diri kita aja, dan jangan mengalihkan masalah justru ke siapapun. Masalahmu akan kamu pertanggung jawabkan sendiri dihadapan Allah dan merekapun begitu. So, lupakan alasan dan segera mulai perbaikan

Dan masih akan banyak lagi alasan yang lainnya...

So, kalau kamu beli baju atau apapun, paling asyik memang kudu ditawar girls, tapi nggak buat aturan yang ditetapkan oleh Allah, yang pastinya konstan banget.

Allah SWT berfirman yang artinya, ”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min,’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS Al-Ahzab : 59)

Dan dalam surat An-Nur ayat 31 yang artinya, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”

Hidup cuma sekali girls, dan kita kudu all out dalam melakukan sesuatu, jangan setengah- setengah. Seperti halnya saat kita mengaku muslimah, tapi kok nggak bangga dengan ciri khas seorang muslimah. Saatnya memilih dan menentukan jati diri kamu.

(NayMa/voa-islam.com)

Minggu, 02 Juni 2013

Wajar Suka Dunia, Tak Wajar Dunia Jadi Tujuan Hidupnya

suka dunia

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, Muhammad bin Abdullah, keluarga dan para sahabatnya.

Allah mengabarkan, Dia telah jadikan syahwat duniawi indah di mata manusia; berupa wanita, anak-anak, harta benda yang banyak, dan lainnya. Jika hati manusia ada rasa suka kepada kenikmatan dunia itu sesuatu yang manusiawi. Masih wajar jika manusia cenderung untuk memiliki, menguasai, dan merasakan kenikmatan-kenikmatannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14)

Namun perlu diingat, bahwa semua itu adalah kesenangan hidup di dunia. Artinya, kenikmatannya tidaklah kekal dan abadi. Kenikmatannya hanya sementara dan sedikit. Berbeda dengan akhirat, kenikmatannya melimpah tak bisa dibayangkan dan kekal abadi. Karenanya, seseorang tidak boleh mengejar dunia lalu lupa akhirat.

ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di dalam tafsirnya (Taisir al-Karim al-Rahman) membagi manusia dalam menyikapi dunia ini kepada dua kelompok. Pertama, manusia yang menjadikan dunia sebagai tujuan. Sehingga pikiran, cita-cita, harapan, dan segala perbuatannya hanya untuk dunia. Akibatnya, mereka lalai dari tujuan penciptaannya, yakni ibadah. Mereka menyikapi dunia sebagaimana binatang; menikmati kelezatannya dan memuaskan syahwatnya. Mereka tak peduli dengan cara apa mendapatkan dunia dan untuk apa menggunakannya. Hakikatnya, mereka menjadikan dunia ini sebagai bekal menuju kesengsaraan dan adzab di akhirat.

Kelompok kedua, mereka yang mengetahui tujuan hidupnya dan maksud Allah menjadikan dunia ini; yakni sebagai ujian dan cobaan kepada hamba-hamba-Nya. Supaya jelas, siapa yang mengutamakan ketaatan kepada Allah dan mencari ridha-Nya dan siapa yang lebih suka memperturutkan nafsu untuk menikmati kesenangan dunia dan menuruti syahwatnya. Mereka menjadikan dunia sebagai sarana dan jalan untuk menyiapkan bekal akhirat. Mereka menikmati dunia sebagai sarana untuk mencari ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka menjadikan  dunia sebagai jembatan menuju akhirat. Mereka menjadikan dunia sebagai barang dagangan yang dijual untuk mendapatkan keuntungan akhirat. Hakikatnya, mereka menjadikan dunia sebagai bekal menuju Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kelompok kedua ini akan rela kehilangan dunia -bahkan yang paling berharga sekalipun- untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia di akhirat. Mereka rela mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk ditukar dengan surga.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.” (QS. Al-Taubah: 111)

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ

Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah.” (QS. Al-Nisa’: 74)

Penutup

Wajar jika manusia suka kepada dunia, baik dia orang awam maupun ulamanya. Semuanya yang namanya manusia memandang indah wanita, anak-anak, harta benda dan kekayaan yang melimpah. Namun yang tidak wajar jika dunia dijadikan sebagai tujuan hidup dan pucak cita-cita. Sehingga apapun dilakukan untuk memperolehnya dan merengguh kenikmatannya. Jika demikian maka manusia telah gagal dalam menghadapi ujian dunia ini.

Setelah Allah terangkan tentang kedudukan dunia di mata manusia, Allah terangkan bahwa dunia dan segala kemewahannya adalah kenikmatan yang sementara dan fana. Allah menjadikannya sebagai ujian kepada hamba-hamba-Nya. Tidak boleh kenikmatan dunia dan kemewahannya menjadi tujuan hidup sehingga halalkan segala cara memperolehnya. Sebaliknya dunia harus dijadikan sebagai sarana dan jalan menuju kehidupan akhirat. Dunia dijadikan sebagai negeri berbekal untuk meraih kehidupan kekal abadi lagi sangat nikmat di akhirat. Wallahu Ta’ala A’lam.

Sabtu, 01 Juni 2013

Temen Yang Begini Nich, Kudu Kita Jauhin

teman

Temen adalah bagian dari hidup kita. Selain bisa sharing tentang banyak hal, temen juga buat  hidup jadi tambah asik banget. Tapi Rasulullah pernah bersabda "Teman yang baik dan teman yang tidak baik itu diumpamakan seperti pembawa kasturi dan peniup api, maka si pembawa kasturi mungkin memberikan kasturi itu kepada kamu atau kamu dapat membelinya, atau kamu dapat mencium baunya yang wangi. Bagaimanapun peniup api mungkin membakar pakaianmu atau kamu dapat mencium baunya yang busuk."[Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim]. Jadi Itu artinya dengan siapapun kita berteman, ya kudu ngebawa efek baik buat teman kita, dan bukan malah sebaliknya. So, temen yang kaya' gimana sih yang harusnya kita hindari?, salah satunya adalah yang kaya'dibawah ini,

Teman tapi setan

Pasti udah pada baca biografinya setan kan? intinya dia pasti bakal ngajak siapapun ke jalan yang salah. Contoh, saat kamu lagi asyik ibadah, dia malah ngajak kamu nongkrong sambil suit suit cewek.  atau saat kamu mau belajar dia malah ngajak main game, dan minta traktir pula. apalagi saat malming kamu yang jomblo malah dipaksa nungguin dia yang lagi pacaran # mimisan. Jelas-jelas species yang begini hanya akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.  Parahnya, kalo setan dari golongan jin baru bisa ilang waktu dibacain ayat Kursi, nah kalo yang ini cuma bakal ilang kalo ditimpuk kursi , hee... makanya jangan ragu-ragu buat jauh-jauh dari temen yang begini yah.

Gampang ngeluh

Kenapa sih aku nggak ganteng?

kenapa sih alisku rata?

Kenapa sih mukaku Sixpack?

Kenapa sih kumis cowokku lebih panjang dari kumisku..???

Hadee.. capek nggak sih dengerin orang yang ngeluuh aja tiap hari? jawabnya pasti iya. gimana nggak, karena  orang ngeluh identik dengan nggak bersyukur. Padahal Allah aja udah berfirman di Alquran "Maka nikmat TUHAN-mu yang manakah lagi yang akan kau dustakan?" (QS. Ar Rahman ayat 13). Itu artinya nikmat Allah tuch nggak ketulungan banyaknya. Kalo aja nich kamu kumpulin satu desa, trus di itung pake jari mereka semua, dijamin juga masih kurang. Karena itulah ngeluh nggak bakalan nyelesaikan apapun kecuali malah makin buat ruwet apapun. Apalagi kalo ngeluh disiarkan secara live dari FB atau twitter kamu. bisa-bisa aib yang udah baik-baik ditutupin sama Allah, malah kebuka dan jadi omongan orang. Jadi makin ribet kan?

Orang yang suka ngeluh juga susah buat move on. Secara mereka sebenarnya menikmati kesusahan dan nggak mau susah mikir tentang jalan keluarnya.  Ya emang sih, yang namanya manusia punya limit alias batas dalam apapun. tapi sekali lagi, mengeluh bukan jalan yang asyik buat nyelesaikan masalah, malah akan menjauhkan temen-temen dari kita.  jadi tambah masalah kan?. Jadi temen yang punya kebiasaan suka banget ngeluh ini otomatis kudu kita jauhin juga biar kita nggak jadi ikut-ikutan negatif.

Datang nggak diundang, pergi suruh nganter

Konsep berteman itu harusnya saling berbagi. Jadi kita pun kudu belajar ringan tangan alias banyak bantu sob. Kita juga harus pintar- pintar nyari temen yang bisa ngajarin kita tentang berbagi.  dengan kata lain, hindari temen yang egois, yang datang nggak diundang, pergi suruh nganter, atau mampir ke kita cuma kalo lagi moodnya gak bagus, gundah gulana, resah, puyeng, kelaperan, pokoknya yang lagi butuh dihibur banget. Lama-lama penyakit kaya' gini juga bakalan mampir ke kita juga, dan ngebuat kita makin nggak dewasa.

Tukang gosip amatir

biasanya emang paling adem kalo udah curhat sama temen, pas kita lagi ada masalah. Tapi akan tambah bermasalah saat ternyata temen kita itu nggak amanah alias malah cerita-cerita kemana-n/mana tentang curhatan kita itu. pasti bakalan BT level akut. # ngikir taring

Tips Asyik Biar Bisa Move On Habis Putus Cinta

putus cinta

Putus cinta, banyak yang bilang rasanya nggak ketulungan. Sakit. Marah. Mual. Campur jadi satu. Tapi jangan buru- buru galau, santai sob. Kali ini kita mau sharing sedikit tips biar kamu gampang move on dan nggak perlu ampe masuk rumah sakit trus di infus baygon, hee... Caranya sangat sederhana banget, sesederhana contoh dibawah ini,

1. Kita nggak bakal mati cuma gara- gara ditinggal pergi

Sedih gara- gara putus cinta # saaah, nggak lagi- lagi deh. Tampillah dengan jantan bro, tunjukkan kalau kamu cuma butuh 6 jam buat nangis, 3 hari buat ngemil beling, dan... # ah sudahlah, hee... Tunjukkan kepada dunia kalau kamu malah jadi lebih baik dan nggak ngelakuin hal-hal aneh kaya' anak paud korban broken home. 

Jodoh itu sudah ada yang ngatur, dan bakal datang disaat yang tepat, dan sama orang yang tepat juga. So, kalau dia pergi berarti dia bukan yang terbaik buat kamu, atau mungkin kamu terlalu baik buat dia #GR sambil lempar poni. Ingat yang di firmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 216, yang artinya "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".

Boleh jadi kamu sedih, protes, sama yang terjadi sama kamu sekarang. Tapi siapa yang bisa ngerti kalau ternyata ini adalah yang terbaik buat kamu, kecuali Allah SWT aja tentunya. Be positif aja sob!

2. Penganut move on garis keras

Banyak temen kita diluaran sana yang punya cara ekstrim buat ngatasin rasa sakit. Ingat kisah Alviss Kong dari negara tetangga yang bunuh diri habis putus cinta sama pacarnya?. Apa lagi dia sempat update status sebelum akhirnya lompat dari lantai 14 apartemennya.

Hal kaya' gini juga banyak dilakuin loh sama teman-teman kita disini. Terbukti sampai salah satu stasiun TV menyiarkan kalo menurut komnas perlindungan anak, dari 37 kasus bunuh diri remaja hampir 50 persen gara-gara putus cinta.

Pertanyaannya sob, apa masalahmu bakal kelar kalau sudah ngelakuin hal yang beginian?. Nggak kan? So, jadilah penganut move on garis keras yang tetep menjaga keseimbangan ekosistem hati, dengan nggak pakai pake acara nyimpan dendam,  nangkring di tower sambil nyiletin tangan, apalagi niat pengen nge-cut hidup kamu sendiri. Hidup emang warna- warni, sob. nikmatin aja, caranya ?"...hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang *QS. Ar-Ra'd ayat 28.

3. Cinta bisa di akhiri, tapi utang tetep dibawa mati

Ini artinya, nggak cuma masalah cinta yang kudu kita pikir. Yang udah lewat ya udah lah ya. Sekarang kita kudu mikir hal yang jauh lebih penting, mikir tagihan listrik contohnya #alah. Karena sob, terbukti loh idup emang nggak hanya masalah hati kita doank. Lagian peduli atau nggak, yang namanya pacaran tetaplah dosa yang bakal nambah daftar hitam catatan amal kita entar. Nah ini nich yang justru dipikirin, gimana nge-deletenya. Inilah yang justru harusnya banyak menyita waktu dan pikiran kita. dan bukan malah nangis bombay mengharu biru #efeknontonfilmkorea

4. Jomblo bejo

Kita hidup kudu banyak syukur sob, betul? apapun itu syukuri, betul?. Termasuk ketika kita kudu putus cinta. Mikirnya positif aja sob. Paling nggak sekarang nggak ada pacar yang minta pulsa, nggak ada lagi yang rempong minta laporan mulu kita lagi dimana, sama siapa, pake baju apa, dan mati dimana. Kita bisa nikmatin idup bebas dan bisa ngelakuin hal-hal yang positif. Jadi ubah mindset kamu, dan selalu bersyukurlah... Allah terlalu penyayang buat nggak sayang orang se unyu kamu.

5. Pengangguran galau

Sob, akan susah buat kamu move on kalau kamu nggak nyoba untuk sibuk dan ngelakuin hal- hal yang efektif lainnya. Bisa dilihat deh, para pengangguran biasanya lebih rentan ngelakuin hal negatif, karena memang nggak ada yang mereka pikir selain cuma hal itu. Kalau kamu sibuk, otomatis pikiran kamu bakal fokus ke hal- hal yang ada gunanya, bakal ketemu temen baru dan dapat pengalaman baru. Yang begini yang akan membuat suasana hati kamu lebih fun. salah satu hal yang pasti menyibukkan kita, adalah ngelakuin perbaikan diri, bukan hanya biar kita nambah asyik dihadapan sesama, tapi juga tambah takwa dihadapan Allah.

Intinya sob, putus cinta itu biasa, pacaran itu justru yang luar biasa... dosanya. Jadi emang lebih baik bagi kita buat nge-cut aktifitas ini, biar hidup tambah sehat, dan hati nambah kuat. Lihat diri kita sekarang, dulu kita bayi dan sekarang udah gedhe.  Harusnya kita pun juga nambah dewasa, nambah adem, asyik dan nggak terlalu yang ribet mikirin sesuatu, apalagi cuma ribet masalah cinta. Tanya kenapa? karenakita bukan bayi lagi yang cuma bisa nangis aja. Kita yang gedhe ini harusnya ngerti kalau udah ada tanggung jawab yang nantinya bakal ditanya sama Allah.

Sob, orang yang dewasa adalah mereka yang bisa menikmati masalahnya, berdamai dengan diri sendiri setelah itu jadi pemenang dengan keluar dari masalah itu. Apapun masalah kamu, masalah hanya sekedar masalah. Tapi intinya adalah diri kamu sendiri yang siap apa nggak ngadepin masalah itu. Saat kamu kehilangan siapapun yang kamu sayang sob, ingat aja Allah akan tetap bersama kamu dan menemani kamu.

Bagai Menjahitkan Baju

ibu dan anak

Banyak yang mengatakan bahwa anak adalah permata yang tidak ternilai harganya. Kedatangannya banyak ditunggu, dan kelucuannya adalah lebih bernilai dari harta kekayaan apapun.

Namun, tanpa kita sadari banyak dari kita yang membesarkan anak- anak kita seperti sedang menjahitkan baju. Kita hanya mengarahkan model atau bentuk dari baju itu kepada si penjahit, dan lalu kita tidak mau tahu tentang kelanjutan prosesnya. Yang penting kita telah menyerahkan tanggung jawab itu dan memberi sejumlah uang. Selesai. Namun jika akhirnya baju itu tidak sesuai dengan keinginan kita, tak jarang kitapun marah dan mengumbar umpatan. Kita merasa bahwa hak kita tidak dipenuhi, dan amanah kita diabaikan.

Begitulah, kadang kita sebagai orang tua kebanyakan mengalihkan tanggung jawab kita kepada orang lain, pembantu dan terutama kepada sekolah dengan disertai harapan setinggi langit, bahwa anak akhirnya akan menjadi orang yang lebih baik dari kita. Jika sedikit saja kesalahan atau kekurangan kita jumpai didalamnya, kita akan dengan mudah memberikan kritik atau keluhan bagi mereka.

Kita bahkan lupa tentang tanggung jawab diri kita sendiri terhadap mereka. padahal tanggung jawab inilah yang sebenarnya akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata'ala.

Anak adalah lebih berharga dari sekedar baju. Dia tidak akan usang, malah apa yang kita berikan kepadanya akan menurun kepada anak cucunya kelak. Anak memanglah titipan dari Allah. Namun dia bukanlah seperti barang titipan yang bisa kita tinggal setiap saat dan kita datang saat kita merindukannya. Dia membutuhkan orang tua bukan hanya sebagai panutan, namun juga sahabat yang dapat memberitahukan nasehat, serta berbagi pengalaman untuknya mengarungi hidup.

Diantara orang tua juga banyak yang mengatasnamakan pekerjaan sebagai modus untuk pengalihan masalah. Ketika mereka sibuk mencari nafkah, maka secara otomatis perhatian kepada anak terbagi. Pertanyaan kemudian muncul, apa iya kita sesibuk itu, sampai perhatian kita harus terbagi? ataukah mungkin hanya pikiran kita saja yang sulit untuk fokus dan menikmati peran kita sebagai orang tua?

Karena itulah, kita sebagai orang tua sebenarnya membutuhkan skala prioritas. Pekerjaan memanglah penting. Namun lebih dari itu kualitas dan masa depan anak- anak kita jauh lebih penting. Jika pekerjaan kita selesai, maka kesulitan akan selesai sampai disana saja. Namun jika pola pengasuhan, kasih sayang dan pendidikan anak-anak kita tidak beres, maka kesulitan akan kita emban seumur hidup, bahkan akan terwaris pada anak cucu mereka.

Semoga kita bisa mengingat bahwa setiap orang yang lahir itu ibarat membawa 5 bola. 1 bola karet dan 4 bola kaca. Karena kemampuan tangan manusia terbatas untuk membawanya sekaligus, jikapun harus dilepas, maka lepaskanlah bola karet. Karena ketika jatuh bola karet itu akan memantul dan kita akan bisa menangkapnya kembali. Sedangkan bola kaca itu, jika salah satunya pecah, maka akan sulit bagi kita untuk memperbaikinya. 1 bola karet itu adalah pekerjaan, dan 4 bola kaca itu adalah keluarga, sahabat, cinta dan semangat. Momen terbaik dari keempatnya, tidak akan pernah kembali ketika kita telah melewatkannya. Maka jangan pernah melewatkannya.

Dan semoga sebuah nasehat  yang telah tertulis abadi dalam Alquran tentang pendidikan serta nasehat yang disampaikan Luqmanul Hakim kepada anaknya, bisa menjadi alarm pengingat bagi kita sebagai orang tua, “Hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. (QS. Luqman : 13). Luqman juga mengajarkan kepada anaknya tentang berbuat baik kepada kedua orang tua, mendirikan shalat, berbuat kebajikan dan rendah hati terhadap sesama. Pendidikan seperti itu seharusnya tidak kita harapkan penuh dari sekolah, namun justru penanaman tersebut berangkat dari dalam rumah. Ajaran itu tak cukup diomongkan, tapi juga dipraktikkan oleh orang tuanya, karena sesungguhnya orang tua adalah figur ideal dimata anak. Seperti apa orang tua, maka seperti itulah kelak anak- anak mereka.

Seberapa Cantikkah Engkau?

bunga

Cantik, sebutan kehormatan bagi wanita dan pujian yang membuktikan bahwa keberadaan mereka diakui. Cantik adalah nilai lebih yang membuat seorang wanita lebih berharga. Cantik bukanlah semata hadiah dari Allah, kecantikan itu bisa kita wujudkan, bisa kita munculkan. Namun semua itu pasti tidak mudah. Butuh usaha keras, kekuatan niat dan kesungguhan hati. 

Wanita itu cantik jika berilmu. dia tidak hanya menonjolkan emosi dalam berdebat, melainkan kedalaman ilmu yang memikat.

Dia tidak hanya pandai dalam berteori namun bisa mempraktekannya secara rinci. Dia menerangi sekitarnya dengan ilmu yang dimiliki, namun tidak pernah pelit untuk berbagi. 

Dengan ilmu itu, mereka tunduk kepada Allah. Karena pengetahuan itulah, mereka memilih menjadi hamba yang bertakwa.

Tidak hanya sekedar ikut, namun selalu mengkaji ilmu Allah dengan lebih runut.

Tindakannya berdasarkan ilmu, bukan pendapatnya pribadi, apalagi hanya sekedar emosi diri.

Ilmu itu membuat hatinya tunduk,  nafsunya lebur, dan perilakunya teratur.   

Wanita itu cantik jika memiliki rasa malu.

Malu mempertontonkan dirinya dengan sebegitu murah, dan malu jika  tidak bisa menjadi hamba yang patuh dan amanah kepada tuhannya.

Mereka yang malu akan senantiasa menjaga diri dari dosa.

Lihatlah betapa kemudian mereka sangat berharga. Siapapun yang akan mendekat kepadanya, akan merasa sungkan dan merasa harus menyiapkan sebuah kehati- hatian.

Rasa malu itu yang akhirnya mengangkat derajatnya sendiri, dengan lebih tinggi tentunya.

Wanita itu cantik jika mereka cerdas. Cerdas untuk tidak berbuat bodoh dalam merendahkan kehormatan mereka sendiri.

Cerdas untuk menata kata,  dan menempatkan diri dalam berbagai situasi.

Semua makhluk pastilah tahu, bahwa wanita adalah tentang perasaannya, namun wanita cantik nan cerdas itu sangat mengerti kapan harus menggunakan logikanya.

Maka akan dijauhinya keluhan, tuntutan dan kerewelan yang akan membuat segala urusan terasa semakin sulit.

Lihatlah betapa kecerdasannya dalam menata akhlak.

Tidak ada hasut dan fitnah dilidahnya. tidak ada burung sangka dihatinya.

Dia pandai memerdekan batinnya dengan kebaikan. dia pandai menutupi kekurangan dengan kelebihan.

Dia bersosialisasi namun tetap dalam batas. Dia bergaul namun tidak lebur, dia menuntun sesamanya untuk selalu menuju kebaikan.

Kehadirannya adalah berkah bagi manusia di sekitarnya.

Lihatlah cara cerdas mereka dalam mengendalikan diri.

Walaupun  akalnya sering kali dikendalikan oleh emosi, namun kuatnya iman menuntunnya untuk menjadi lebih indah.

Dia tidak minder untuk tampil beda. Beda dengan wanita kafir yang bertindak diluar batas dan tidak tahu kapan mereka harus berhenti.

Allah SWT sudah cukup menjadi alarm bagi mereka. Dan maha melihatNya, sudah bisa untuknya merasa selalu diawasi.

Wanita cantik itu...

Mereka tahu mereka bukanlah bidadari yang sempurna, namun kekurangannya dia tutup dengan menonjolkan kelebihan, dan beristigfar terhadap kekurangan.

Mereka pun tahu betapa susahnya untuk menjadi cantik, namun itu tak menghalangi mereka untuk selalu memperbaiki diri.

Maka ketahuilah saudariku, kecantikan adalah definisi dari wanita sholihah. Walaupun mereka kurang dalam fisiknya, namun akan lebih dari segi iman dan akhlaknya. Tidak ada di dunia ini yang lebih cantik selain dari wanita yang sholihah. Carilah, buktikan namun tidak akan kita temui selain kecantikan itu ada dalam diri mereka yang sholihah. Persis seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim).

Kecantikan tak hanya sebatas fisik, dan bagusnya kulit ari kita. Namun kecantikan itu adalah seberapa dekat kita dengan Allah SWT, dan seberapa nyaman manusia berada di dekat kita. Maka benarlah jika sebaik- baik wanita, adalah mereka yang sholihah.Lalu apakah kita termasuk didalamnya? marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri ...

(Syahidah/voa-islam.com)